Tentang Gesek Tunai dari Segi Pebisnis dan Konsumen

Kali ini Saya akan sharing mengenai cara bergesek tunai yang baik dan benar serta menjelaskan apa keunggulan dan kekurangan dari segi seorang pebisnis gestun (gesek tunai) maupun dari segi seorang customer.

Saat ini Saya melihat tidak sedikit orang hanya sibuk mencari-cari tempat gestun yang termurah.

Nah, kalau kita berbicara mengenai gestun murah maka inti sebenarnya hanya satu, kalau murah biasanya tidak memiliki banyak variasi dan jika bervariasi maka harganya tentu tidak murah.

Gestun sendiri mempunyai 2 tipe, gestun yang mengutamakan harga dan gestun yang mengutamakan kualitas.

Dengan begitu otomatis akan ada 2 pasar yang berbeda bukan?

Gestun yang mengutamakan harga biasanya pada kartel-kartel yang ada di pinggir jalan.

Saya sebagai pengajar selalu mengajarkan kepada murid-murid Saya di kelas Gesek Tunai Revolution untuk lebih mengutamakan kualitas.

Saat ini beberapa bank sudah mulai menurunkan rate MDR (Merchant Discount Rate) tentunya dengan beberapa syarat dan ketentuan.

Misalnya dalam tabungan harus ada endapan senilai beberapa ratus juta, kemudian harus ada deposito dan mungkin syarat-syarat lainnya.

 

Seseorang kemudian membuat satu mesin EDC.

Dikarenakan adanya endapan modal, maka otomatis pebisnis gestun akan menggenjot dengan harga yang relatif murah untuk menarik konsumen.

Biasanya dalam bisnisnya ia mempunyai target, misalnya dalam satu hari harus bertransaksi sebesar Rp 500.000.000,- dalam satu mesin EDC.

Kenapa ?

Sebab jika EDC tersebut pemakaiannya hanya 100 – 200 juta saja, maka ia akan mengalami kerugian, sebab nilai tersebut tidak sebanding dengan nilai modal endapan yang ada pada perbankan.

Sekarang kita akan berbicara dari segi seorang customer.

Apakah gestun murah itu selalu bagus?

Jika dari sisi perhitungan selisih uang sudah pasti bagus.

Dimana-mana yang murah berarti mengeluarkan uang lebih sedikit daripada yang mahal.

Tetapi Anda harus berhati-hati, terkadang banyak dari kita mencari gestun yang murah ibaratnya sampai harus keliling Jakarta.

Misalnya Anda dari Jakarta Barat mendapatkan gestun murah di Jakarta Selatan.

Memang benar Anda berhasil mendapatkan gestun dengan rate rendah, tetapi Anda lupa memperhitungkan waktu serta biaya transportasi yang sudah Anda keluarkan.

Bisa jadi jika dihitung secara global, Anda justru malah rugi.

Selanjutnya jika Anda bergestun di EDC yang murah, biasanya EDC tersebut EDC yang “diperkosa”.

Artinya satu EDC di gesek di atas 100 sampai 300 juta, bahkan bisa mencapai 500 juta.

Perlu Anda ketahui bahwa EDC yang normal sekarang sudah dibatasi.

Masalahnya adalah ketika Anda sudah mulai dicurigai melakukan gesek tunai, maka kerugian yang Anda dapatkan bermacam-macam.

Pertama, limit Anda akan susah naik

Rata-rata jika limit Anda susah naik, biasanya dikarenakan Anda sering gesek tunai di tempat yang “jorok”, sebab bank sudah mengindikasikan Anda telah bergestun.

Yang kedua, hal yang mulai diterapkan oleh beberapa bank.

Saya melihat beberapa bank menolak formulir aplikasi, artinya ketika Anda ditolak saat apply kartu bisa jadi alasannya karena kartu referensi sudah terindikasi gesek tunai.

Dan yang ketiga, ketika Anda sering melakukan gestun, maka ada kemungkinan kartu Anda akan diblokir secara sepihak, meskipun kemungkinannya masih kecil.

Itulah kerugian-kerugian yang Anda dapat jika Anda mencari EDC murah dan abal-abal.

Saya selalu mengajarkan kepada murid-murid di kelas Gesek Tunai Revolution untuk menjaga EDC.

Kita harus selalu menjaga performa seperti tidak diperbolehkannya transaksi lebih dari Rp 50.000.000,- dalam sehari.

Jadi dalam hal ini kita sudah memiliki parameter supaya EDC-EDC kita dapat terlindung dan tidak terindikasi gestun.

Jika Anda bergestun di tempat seperti ini, maka Anda tidak akan terdeteksi telah melakukan gestun sebab transaksinya memiliki batasan.

Jadi jika Anda mencari gestun yang baik, tidak menutup kemungkinan limit Anda nantinya bisa naik.

Nah, dikarenakan perhari kita membatasi tranksasi, otomatis para pebisnis gestun yang seperti ini tidak akan bisa memberikan harga yang murah.

Seperti bisnis gestun Saya di Malang, Saya memberi fix harga sebesar 2,5%, jika gesek sekarang cair besok sebesar 2,3%.

Sebab sebagai seorang pengajar dan seorang pebisnis gestun, Saya ingin agar kita sebagai pebisnis dan konsumen bisa merasa aman, dari sisi Anda aman dan dari sisi Saya pun juga aman.

Dalam Transaksi Gestun, Bank Tidak Dirugikan

Lalu Kenapa Dilarang?

Saya jelaskan bahwa cara pandangnya tidak terletak pada rugi tidaknya pihak bank, melainkan dari sisi transaksi gestun yang over.

Karena transaksi gestun yang berlebihan, cenderung akan dicurigai sebagai perbuatan money laundry atau istilahnya pencucian uang.

Jadi letak pasal dan undang-undang sebenarnya ada disana.

Atau Sebab lain Bank Indonesia dan bank penerbit kartu kredit melarang adanya gestun adalah karena mereka mempunyai produk sendiri berupa tarik tunai via ATM.

Ketika Anda melakukan tarik tunai via ATM, Anda akan dikenakan 2 biaya sekaligus, yaitu biaya tarik tunai senilai 4% dan biaya bunga berjalan sebesar 2,25%.

Jadi jika dihitung satu bulan penuh, maka totalnya sebesar 6,25%.

Artinya bila dibandingkan dengan tarik tunai ATM, gesek tunai jauh lebih murah sebab Anda hanya mendapatkan rate sebesar 2,3 hingga 2,5% saja.

Intinya dari sisi hukum tidak ada larangan

Buktinya Saya masih bebas, bisnis masih lancar

Saya pun masih bisa jalan-jalan walaupun Saya mengajar ilmu yang katanya dilarang 🙂

Share if you like this. 🙂

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

About Roy Shakti

Roy Shakti dikenal sebagai Pakar Kartu Kredit dan Penulis Buku Best Seller Credit Card Revolution, New Credit Card Revolution, Credit Strategy For Investing dan Credit Card Revolution For Newbie.

2 Comments

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *