Penggunaan kartu dari perusahaan globa Visa dan MasterCard di Indonesia akan segera ditinggalkan. Khususnya untuk kartu kredit pemerintah yang digunakan untuk melakukan belanja barang dan jasa.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menguraikan alasan tidak bergantung dengan Visa dan MasterCard adalah masalah keamanan nasional.
Dia bercermin dari Rusia yang mendapatkan sanksi akibat berkonflik dengan Ukraina, sehingga Visa dan MasterCard memutuskan untuk menghentikan layanan di negara pimpinan Vladimir Putin tersebut sehingga masyarakat tidak bisa menggunakan kartu kreditnya.
Kejadian ini terjadi tahun lalu. Manajemen MasterCard dan Visa pada saat itu menetapkan untuk menangguhkan layanannya di Rusia. Akibatnya, warga Rusia tidak bisa menggunakan kartu kreditnya di seluruh penjuru dunia.
Bahkan sanksi ini juga berimbas ke turis-turis Rusia yang ada di Indonesia. Mereka tidak bisa membayar biaya penginapan hotel dan beberapa berita menyebutkan jika mereka diusir dari hotel-hotel yang mereka tempati.
Di dalam pernyataan resmi, manajemen MasterCard mengatakan jika saat itu penghentian layanan jaringan di Rusia adalah buntut dari konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Disebutkan jika perseteruan ini belum pernah terjadi sebelumnya pada saat saat ekonomi memburuk akibat pandemi Covid-19.
MasterCard melanjutkan kartu yang dikeluarkan oleh Bank Rusia tidak lagi didukung oleh jaringan perusahaan. Ini merupakan bentuk kepatuhan perusahaan terhadap sanksi AS.
Visa juga menyampaikan yal serupa. Kebijakan akan berlaku di mana perusahaan akan bekerja dengan klien dan mitra di Rusia untuk menyetop semua transaksi dalam beberapa hari yang akan datang.
Visa menjelaskan kartu yang terbit di Rusia tidak akan bisa digunakan di luar negeri dan juga kartu yang dikeluarkan di luar negeri tidak akan bisa digunakan di Rusia.
Keputusan kedua perusahaan ini diterima dengan baik oleh Presiden As Joe Biden. Beliau mengungkapkan hal tersebut saat melakukan perbincangan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky via telepon, yang juga mendiskusikan perihal tindakan AS, sekutu, dan industri swasta untuk Rusia.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan penjelasan di atas?
Tag: Presiden Jokowi
RESMI, JOKOWI MINTA KARTU KREDIT PNS TIDAK PAKAI VISA DAN MASTERCARD
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap belanja pemerintah pusat dan daerah menggunakan kartu kredit yang sudah diluncurkan beberapa bulan lalu. Namun, Jokowi tidak ingin bergantung kepada Visa dan MasterCard.
Beliau menjelaskan jika penggunaan kartu kredit pemerintah daerah, seharusnya semuanya bisa menggunakan karena zaman sudah digital seperti saat ini. Jika menggunakan kartu kredit tersebut, pemerintah bisa mandiri.
Permintaan tersebut juga bukan tanpa alasan. Jokowi menceritakan kejadian yang menimpa Rusia ketika pecah perang dengan Ukraina di bulan Februari 2022. Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan hukuman kepada Rusia yang diikuti oleh kebijakan perusahaan asal AS.
Oleh karena itu, Indonesia harus bisa mandiri, terutama dari sisi sistem pembayaran. Beliau menegaskan bahwa jika bisa menggunakan platform milik sendiri dan mulai menyebar, dimulai dari KL, provinsi, kabupaten, dan kota akan menjadi lebih tenang.
Seperti yang sudah pernah dijelaskan sebelumnya, Kartu Kredit Pemerintah merupakan alat pembayaran menggunakan kartu yang bisa dipakai untuk pembayaran terhadap belanja yang dibebankan oleh APBN. Kewajiban pembayaran pemegang kartu dipenuhi dahulu oleh Bank Penerbit Kartu Kredit Pemerintah.
Lalu, satuan kerja (Satker) wajib melakukan pelunasan kewajiban pembayaran di waktu yang sudah disepakati dengan pelunasan sekaligus. Kartu kredit pemerintah akan diterbitkan oleh tiga bank Himbara: BRI, BNI, dan Bank Mandiri. KKP ini diharapakan bisa digunakan di 20 juta merchant baik domestik maupun luar negeri.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan penjelasan di atas?
JOKOWI ENGGAN PAKAI KARTU KREDIT VISA-MASTERCARD, APA GANTINYA?
Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin kartu kredit pemerintah terlalu bertumpu dengan layanan Visa dan MasterCard, ternyata masih belum didukung dengan adanya kartu kredit terbitan dalam negeri.
Direktur Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta menuturkan bahwa layanan yang telah dibangun oleh Bank Indonesia melalui Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) tidak mengalami perkembangan dan berhenti di level kartu debit. Beliau menambahkan jika GPN memang masih debit, namun rencana apakah GPN akan diteruskan menjadi kartu kredit, sebaiknya ditanyakan ke pihak BI.
Meskipun demikian, beliau menekankan jika bisa saja kartu kredit prinsipal lainnya yang sudah ada saat ini dari bank swasta Tanah Air mengambil peran untuk dikembangkan. Namun, GPN sendiri sebetulnya juga bisa berpartisipasi asal masih bisa terus dikembangkan.
Beliau menuturkan bahwa secara teknis mungkin bisa, tapi GPN apakah sudah menjadi sesuatu yang optimal atau belum? Sejujurnya masih ada beberapa perbaikan yang harus dilakukan. Indonesia termasuk market bebas—bisa buat sendiri, pakai internasional pun juga masih bisa.
Meskipun begitu, Steve mengatakan jika prinsipal atau penerbit kartu kredit lokal sebenarnya sangat mendukung kemandirian layanan kartu kredit yang dibuat di Tanah Air, karena data transaksi tidak perlu lari ke luar negeri. Beliau merasa bahwa tidak ada yang tidak setuju jika diadakan kartu kredit domestik. Jangan sampai sesuatu yang sudah dinikmati atau sudah bisa digunakan di titik ini sampai mundur gara-gara negara hanya mau domestik.
Presiden Joko Widodo sebelumnya menginginkan belanja pemerintah pusah dan daerah memakai kartu kredit pemerintah yang sudah diluncurkan beberapa bulan yang lalu. Namun, Jokowi sendiri tidak ingin terlalu mengandalkan Visa dan MasterCard.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan pernyataan di atas?






