POLISI JELASKAN KENAPA INDONESIA JADI TARGET PENIPUAN ONLINE INTERNASIONAL

POLISI JELASKAN KENAPA INDONESIA JADI TARGET PENIPUAN ONLINE INTERNASIONAL

Polri menjelaskan mengapa sindikat penipuan online berkedok lowongan kerja paruh waktu jaringan internasional menyasar operasi di empat negara, termasuk di Indonesia. Selain Indonesia, ada tiga ngara lain yaitu Thailand, India, dan Tiongkok.
Direktuk Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brijen Himawan Bayu Aji menjelaskan bahwa alasan Indonesia menjadi target sindikat penipuan kerja paruh waktu ini karena penduduknya banyak dan padat.
Selain perihal kepadatan penduduk, dirinya juga menyebut bahwa sindikat penipuan tersebut telah memetakan aktivitas online negara yang ditarget. Pemetaan dilakukan pelaku dengan melihat social engineering. Mereka memanfaatkan kesalahan ataupun kecerobohan individu untuk mencuri data atau informasi penting yang bersifat konfidensial.
Sindikat tersebut melancarkan aksi dengan menyebarkan tautan website lewat platform online seperti Facebook, Telegram, dan WhatsApp. Aksi scamming tersebut itu dikendalikan dari kota Dubai, Uni Emirat Arab yang merupakan pusatnya.
Total ada empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penipuan daring ini. Mereka adalah warga negara Tiongkok, ZS selaku pimpinan dari tiga warga Indonesia berinisial NSS, H, dan M yang bertugas membantu ZS melakukan aksi tindak pidana ini.
Dari bisnis illegal ini, SZ bersama sindikatnnya berhasil meraup keuntungan hingga Rp 1,5 triliun. Hasil tersebut berdasarkan bisnis penipuan dari empat negara yang disasar. Indonesia Rp 59 miliar, India RP 1,077 triliun, Tiongkok Rp 91 miliar, dan Thailand Rp 288 miliar.
Di samping itu, ada empat orang tersangka yang masih dalam pencarian dan masuk daftar pencarian orang (DPO). Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri juga sedang memburu keempat DPO selaku coordinator dari operator sindikat penipuan tersebut.

PENIPUAN BERKEDOK LAMARAN KERJA MARAK BOBOL REKENING BANK, INI DIA TANDA-TANDANYA!

PENIPUAN BERKEDOK LAMARAN KERJA MARAK BOBOL REKENING BANK, INI DIA TANDA-TANDANYA!

Penipuan dengan modus lowongan kerja makin banyak terjadi karena penjahat siber bisa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mencuri uang dan informasi pribadi pencari kerja yang tidak menaruh curiga.
Berdasarkan data dan laporan dari Identity Theft Resource Center (ITRC), penipuan lowongan kerja melonjak hingga 118% pada tahun 2023 dari tahun sebelumnya.
Para pelaku biasanya menyamat sebagai perekrut dan memasang iklan pekerjaan palsu untuk menarik calon korbannya, yang kemudian mencuri informasi berharga selama proses ‘wawancara’.
Menurut Komisi Perdagangan Federal (FTC), konsumen melaporkan total kehilangan hingga US$367 juta (Rp 5,9 miliar) akibat dari penipuan peluang bisnis dan pekerjaan pada tahun 2022, naik hingga 76% dari tahun ke tahun.
Dikutip dari NUCWashington, FTC melaporkan korban yang rekeningnya dicuri dengan ‘kumlah yang sangat besar’ adalah US$2.000.
Penipuan pekerjaan bukanlah jenis penipuan yang umum. Penipuan ini hanya mencakup 9% dari total penipuan identitas pada tahun 2023, kedua setelah penipuan Google Voice, yang mencapai 60%. Namun, penipuan ketanagakerjaan adalah ancaman yang “muncul”.
Penipuan pekerjaan sudah ada sejak ada lapangan pekerjaan. Tapi, penipuan ini akan terus mengalami perkembangan karena sejumlah faktor eksternal yang terjadi.
AI dan kerja jarak jauh menjadi pemicu berkembangnya penipuan lowongan kerja. Kemajuan AI sendiri bisa memungkinkan penipu untuk membuat daftar pekerjaan dan pesan perekrutan yang bisa terlihat asli.
Menurut laporan ITRC, AI bisa membantu menyepurnakan ‘promosi’ agar terlihat lebih terpercaya dan mengimbangi perbedaan budaya serta tata bahasa dalam penggunaan bahasa.
Lebih lanjut, maraknya pekerjaan jarak jauh selama era pendemi telah membuat pekerja dan pencari kerja lebih nyaman melakukan proses perekrutan secara online. Terlebih lagi, pencari kerja tidak akan melihat orang secara langsung selama proses perekrutan atau wawancara palsu.
Mereka berinteraksi dengan perekrut hanya melalui pesan teks atau WhatsApp, yang merupakan sinyal tanda bahaya.
Lulusan perguruan tinggi baru, imigran, atau mereka yang baru saja masuk ke dunia kerja di Amerika Serikat mungkin menganggap perekrutan online seperti itu normal, apalagi untuk pekerjaan jarak jauh.
Penipu biasanya akan mendesak korbannya untuk melakukan pembayaran selama proses perekrutan. Mereka mungkin mengirimkan faktur pembayaran di muka untuk peralatan kerja seperti computer ataupun pemilihan kerja. Mereka berjanji untuk mengganti biaya setelah korban diterima, tapi kenyataannya itu hanyalan modus penipuan.

Modal Usaha Anti Ribet

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut.

1 / 4

Apakah kamu memiliki Jaminan?

2 / 4

Jenis Jaminan:

3 / 4

Plafond yang ingin diajukan:

4 / 4

Kota lokasi jaminan:

This will close in 0 seconds



This will close in 20 seconds