Masing-masing generasi mempunyai tingkat kenyamanan berbeda dalam melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit. Data yang dikumpulkan oleh survei fitur kartu kredit Bankrate pada Desember 2021 menyebutkan 55% orang berusia 18-20 tahun setidaknya memiliki satu kartu kredit. Angka tersebut meningkat menjadi 73% untuk usia 30-49 tahun, 78% untuk usia 50-64 tahun, dan 89% untuk usia 65 tahun ke atas.
Dari semua generasi, Gen Z cenderung tidak terlalu tertarik untuk menggunakan kartu kredit. beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut antara lain kurangnya akses terhadap kredit, takut terjebak jeratan utang, dan penggunaan paylater sebagai alternatif yang populer.
Di lain pihak, konsumen yang lebih tua cenderung memiliki sejarah kredit yang lebih panjang dan mempunyai akses yang lebih luas terhadap kartu kredit, hal ini membuat mereka lebih nyaman menggunakan kartu kredit.
Apa hubungan Gen Z dengan kartu kredit?
Dengan semakin beragamnya alternatif selain kartu kredit konvensional, banyak Gen Z yang memilih untuk menunda menambahkan kartu kredit ke dompet mereka dan lebih memilih menggunakan kartu debit untuk berbelanja.
Salah satu alternatif yang populer belakangan ini adalah paylater. Ini memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih muda untuk menyebarkan pembayaran dalam jumlah besar dari waktu ke waktu, serta menghindari terjerumus ke dalam tumpukan utang dengan hanya perlu menggunakan paylater di tempat yang menerima dan hanya untuk pembelian tertentu.
Apa yang mendorong keputusan keuangan Gen Z?
Studi menunjukkan jika Gen Z merupakan generasi yang paling tidak melek dengan masalah finansial di antara semua generasi. Di samping itu, banyak Gen Z yang berhati-hati dalam mengambil langkah finansial yang beresiko akibat melihat pengalaman orang tua menghadapi resesi hebat dan generasi milenial yang banting tulang untuk membayar utang pendidikan dan mencari pekerjaan tetap.
Faktanya, masalah uang adalah pemicu stress utama bagi Gen Z. Menggunungnya utang pinjaman untuk pendidikan, ekonomi merosot akibat pandemi, dan inflasi yang semakin tinggi merupakan beberapa faktor yang membebani generasi muda saat ini.
Dari mana sumber keuangan Gen Z?
Walaupun belum begitu paham dengan keuangan pribadi, Gen Z memiliki banyak pilihan untuk bisa meningkatkan literasi keuangan mereka. Teruntuk Gen Z yang lahir di era digital, jawaban untuk sebagian besar pertanyaan seputar keuangan mereka mudah diakses di ujung jari mereka.
Tidak hanya itu saja, mereka bisa menemukan buku keuangan pribadi, podcast, dan sumber daya pemerintah yang bisa membantu mereka dalam meningkatkan literasi keuangan mereka secara keseluruhan serta membantu mereka untuk lebih bertanggung jawab terhadap keuangan mereka.
Menumbuhkan pengetahuan soal keuangan dan belajar untuk mampu mengelola uang dengan benar serta membangun riwayat kredit yang positif merupakan langkah utama untuk bisa mencapai tonggak keuangan utama seperti membeli kendaraan, menjadi pemilik rumah, bahkan mengambil pinjaman untuk berbisnis.
Dengan membuat anggaran sederhana seperti menggunakan metode 50/20/30 atau metode amplop bisa membantu konsumen untuk menghindari pengeluaran yang berlebihan dan bertanggung jawab terhadap tujuan tabungan serta pembayaran rutin tiap bulannya.
Memiliki kebiasaan dalam mengelola keuangan yang bertanggung jawab bisa memberikan hasil jangka panjang, menunjukkan kepada lembaga keuangan yang lebih besar bahwa mereka mampu mengelola keuangan dan bisa menjadi peminjam terpercaya di masa mendatang saat akan mengajukan kartu kredit maupun pinjaman baru.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian sudah pernah melakukan hal-hal yang sudah dijelaskan di atas sebelumnya?




