BISNIS PINJOL MAKIN MENGGILA, BISNIS KARTU KREDIT MAKIN NELANGSA

BISNIS PINJOL MAKIN MENGGILA, BISNIS KARTU KREDIT MAKIN NELANGSA

Beberapa bulan belakangan ini, bisnis kartu kredit sedang menghadapi krisis, sementara tren bisni pinjol malah makin menjamur. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Ekonomi Digital Center of
Economi and Law Studies, Nailul Huda.
Dijelaskan bahwa pada tahun 2020 – 2023, pertumbuhan bisnis kartu kredit tercata hanya tumbuh sebesar 1,5% yoy. Namun, di periode yang sama, ada pertumbuhan bisnis peer to peer lending senilain 18%.
Apa artinya? Ini artinya masyarakat mulai beralih ke pinjaman online yang berbasis teknologi. Kehadiran fintech seperti Amartha dan beberapa fintech lainnya.
Pesatnya pertumbuhan industri pinjol ini bukan tanpa alasan. Ini karena industry pinjol menawarkan fleksibilats tinggi dalam pencairan dana ketimbang lembaga keuangan perbankan. Naiul berharap pertumbuhan bisnis fintech ini bisa menjadi momentum agar bisa menggerakan perekonomian nasional. Hal ini bisa dilakukan dengan mengarahkan pembiayaan ke beberapa sector yang produktif seperti UMKM.
Pertumbuhan fintech diharapkan bisa memberikan dampak kepada perekonomian nasional dan kesejateraan masyarakat. Menurutnya, platform pinjol ini bisa menjadi alternative untuk masyarakat, terutama yang masih awam dengan perbankan konvensional. Penerapan teknologi yang ditawarkan fintech membuat ketertarikan masyarakat untuk menggunakan jasa pinjol.
Bisa dilihat bahwa dari sisi teknologi sudah ada peningkatan, masyarakat juga lebih memilih online daripada offline. Ini membuat masuarakat cenderung pindaha ke teknologi untuk melakukan pinjaman. Ini tercermin dari kenaikan pinjaman menjadi 18%.
Jika dilihat dari demografi para peminjam, mayoritas yang menggunakan jasa fintech lending ini adalah mereka yang berusia 19 – 34 tahun. Usia tersebut juga tergolong cukup dekat dengan akses teknologi digital.
Sekarang juga bisa dilihat bahwa masyarakat lebih mudah untuk mengunggah foto dengan KTP dan bisa diakses dengan menggunakan platform tertentu. Akhirnya, mereka bisa mengakses pinjol ketimbang menggunakan kartu kredit.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah bisnis kartu kredit suatu hari nanti akan kalah bersaing dengan bisnis pinjol?

LEBIH OKE MANA, KARTU KREDIT BANK ATAU PAYLATER FINTECH?

LEBIH OKE MANA, KARTU KREDIT BANK ATAU PAYLATER FINTECH?

Pertumbuhan kartu kredit di industri perbankan Indonesia bisa dibilang tertinggal jika dibandingkan dengan meroketnya pertumbuhan pengguna paylater di industri financial technology (fintech). Ini bisa dilihat dari data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang tercatat adanya kenaikan jumlah kontrak pengguna paylater yang tumbuh 33,25% yoy menjadi 72,88 juta kontrak per Mei 2023 dari periode sama tahun lalu yang sebesar 54,70 juta kontrak. Bisa diartikan, pengguna paylater bertambah sebanyak 18,18 juta kontrak.
Di lain pihak, dilihat dari situs Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), pengguna kartu kredit tercatat tumbuh 5,55% yoy atau sebanyak 17,42 juta jika dilihat dari kartu yang tersebar per April 2023, jika dibandingkan di periode yang sama tahun lalu sekitar 16,50 juta kartu kredit.
Tren ini dianggap sebagai perkembangan yang diterima masyarakat konsumtif sehubungan dengan banyaknya kemudahan yang ditawarkan oleh jasa keuangan tersebut. Mike Rini selaku perencanaan keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) menyebutkan perlunya banyak pertimbangan untuk menggunakan jasa keuangan tersebut jika ada hubungannya dengan barang konsumtif.
Jika dilihat dari segi kemudahan pengajuannya, paylater fintech memang lebih mudah jika dibandingkan dengan kartu kredit bank karena dalam waktu sehari dua hari saja sudah bisa langsung diakses. Berbeda dengan bank yang lebih berhati-hati dalam memberikannya. Mike menambahkan jika beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah bunga kredit dan jangka waktu cicilan. Ini dikarenakan bunga dari kartu kredit bank lebih rendah jika dibandingkan dengan bunga kredit paylater fintech.
Bank Indonesia (BI) menetapkan batas suku bunga tertinggi dari kartu kredit adalah sebesar 1,75%, sedang untuk suku bunga paylater fintech sendiri berkisar antara 2% sampai 4%. Perbedaan lainnya adalah dari segi cicilan pinjaman. Mike menuturkan jika cicilan kartu kredit bank bisa diatur dan bisa disesuaikan dengan cashflow pengguna. Dengan adanya cicilan minimum dan jangka waktu cicil yang bisa diatur, sehingga pengguna bisa menyicil sesuai kemampuan. Namun, hal ini bisa membuat cicilan yang dibayar semakin besar.
Di lain pihak, paylater biasanya memiliki batas maksimal pinjaman yang kecil dibandingkan dengan kartu kredit bank dan juga waktu cicilan yang lebih singkat. Sebagai perencana keuangan, dirinya menyampaikan kepada masyaarakat untuk tetap mengontrol diri dalam menggunakan kredit maupun paylater agar tidak menimbulkan masalah, karena keduanya tetap memiliki penalti jika tidak melunasi pembayaran. Menurutnya, pilihan yang bijak untuk masyarakat konsumtif agar bisa mengontrol diri dari perilaku konsumtif adalah dengan menggunakan paylater daripada kartu kredit bank.
Dirinya menyampaikan bahwa jika mempertimbangan kebutuhan darurat, kartu kredit bisa menjadi pilihan, mengingat kartu kredit bank bisa digunakan di manapun dan tidak terbatas hanya untuk membeli barang konsumtif. Hal ini yang masih belum bisa dilakukan paylater tapi kartu kredit bisa, misalnya membayar biaya rumah sakit. Paylater masih belum bisa digunakan untuk transaksi di toko offline.
Sementara itu, walaupun pertumbuhan kartu kredit bank terbilang melambat jika dibandingkan dengan paylater, industri perbankan masih tetap optimis jika bisnis kartu kredit bisa tetap eksis di beberapa tahun ke depan.
Jadi bagaimana menurut kalian? Kalian lebih suka pakai kartu kredit bank atau paylater fintech?

Modal Usaha Anti Ribet

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut.

1 / 4

Apakah kamu memiliki Jaminan?

2 / 4

Jenis Jaminan:

3 / 4

Plafond yang ingin diajukan:

4 / 4

Kota lokasi jaminan:

This will close in 0 seconds



This will close in 20 seconds