Cara Mudah Apply Kartu Kredit

Cara Mudah Apply Kartu Kredit

Kali ini Saya akan sharing mengenai cara mudah mendapatkan kartu kredit dan dimana materi kali ini adalah salah satu materi yang akan Saya angkat di buku CCR For Newbie.

Bagaimana cara mendapatkan kartu kredit dengan mudah?

 

Di materi ini, Saya tidak mengajarkan cara yang biasa Saya ajarkan di Credit Card Revolution, jadi Saya hanya mengajarkan cara yang sifatnya basic.

Tetapi jika Anda ingin pembelajaran yang lebih advance  seperti bagaimana mendapatkan kartu kredit dengan limit ratusan juta hingga miliaran rupiah, maka Saya menyarankan Anda untuk bergabung di kelas Credit Card Revolution.

Saat Anda ingin apply kartu kredit, apa yang Anda lakukan?

Tentu hal yang pertama kali terpikirkan adalah mendatangi bank penerbit.

Sebenarnya ada banyak solusi selain langsung mendatangi bank penerbit, salah satunya Anda bisa melewati marketing kartu kredit yang ada di pusat-pusat perbelanjaan, airport atau stand-stand yang telah di sediakan oleh pihak bank penerbit.

Namun perlu diperhatikan, jika menggunakan jasa marketing Anda harus memperhatikan kekurangan dan kelebihannya.

Marketing sendiri mempunyai 2 jenis, yaitu marketing internal  dan marketing eksternal  (freelance).

 

Marketing internal  biasanya sudah memakai seragam berlogo bank penerbit dan ia hanya membawa satu nama bank saja.

Sebaliknya, marketing eksternal biasanya mengurus lebih dari satu bank.

Lalu apa kekurangan dan kelebihan jika kita apply kartu lewat marketing?

Jika seorang marketing menangani banyak bank, maka saat kita meminta apply ke satu bank, marketing tersebut akan meng-apply ke semua bank yang di tangani olehnya. Inilah salah satu kelebihan yang di miliki marketing eksternal.

Tetapi yang berbahaya ketika kita berurusan dengan marketing adalah banyak kasus yang melibatkan data Anda.

Ketika Anda apply melalui marketing, maka data Anda akan rawan untuk di gandakan dengan cara ia akan apply ke bank lain menggunakan data Anda tetapi dengan nomor telepon serta alamat yang berbeda.

“Jadi bisa di bilang bahwa Anda telah mendapat kartu kredit tetapi Anda tidak ikut menggunakan kartu kreditnya

Dan saat kartu kredit yang digunakan macet, Anda akan terkena imbas pada BI Checking.

Maka berhati-hatilah ketika Anda apply  kartu melalui marketing terutama marketing eksternal, sebab marketing internal  bekerja di bawah pengawasan yang ketat jadi kemungkinannya sangatlah kecil untuk melakukan hal-hal yang sifatnya curang.

Maka carilah marketing yang memang benar-benar bisa dipercaya dalam menyimpan data Anda.

Lalu cara berikutnya tidak lain tidak bukan adalah langsung datang ke bank penerbit kartu kredit.

 

Saat di bank Anda akan mendapat formulir aplikasi yang harus Anda isi.

Selain mengisi data, Anda harus sudah mempunyai syarat-syarat yang di minta oleh pihak bank.

Apa saja persyaratannya?

Syarat yang paling utama adalah Anda harus lolos dari BI Checking  dan DBR (Debt Burden Ratio), setelah dirasa beres Anda bisa melanjutkan ke persyaratan berikutnya.

Jika Anda seorang karyawan, maka syarat yang dibutuhkan adalah KTP, NPWP, Slip Gaji dan SPT. Jangan lupa sertakan kartu referensi jika Anda memilikinya.

Untuk kartu referensi paling bagus adalah yang mempunyai limit besar dan umurnya harus diatas 6 bulan.

Syaratnya akan sedikit berbeda jika Anda seorang pengusaha, selain KTP, NPWP, Slip Gaji dan SPT, Anda harus menyertakan SIUP, TDP dan rekening 3 bulan terakhir.

Setelah itu Anda akan menyertakan data-data seperti penghasilan, pekerjaan dan nomor telepon.

Untuk nomor telepon, Anda akan di minta 3 nomor telepon yaitu nomor telepon kantor, nomor telepon pribadi atau rumah dan nomor telepon saudara tidak serumah.

Kenapa 3 nomor ini diminta oleh pihak bank?

 

Sebab ketika Anda apply,  bank akan mengecek ketiga nomor ini.

Dalam hal ini kata kuncinya hanya satu, yaitu JAWABAN yang didapatkan harus sesuai dengan apa yang Anda isikan di dalam formulir aplikasi.

Mereka akan men-survey secara acak, mereka akan bertanya kepada orang-orang yang berada di lingkungan kantor Anda, bertanya pada diri Anda dan bertanya kepada saudara Anda.

“Selama jawaban yang di dapatkan sama, maka akan ada jaminan kartu kredit Anda akan mendapat approve  dari bank penerbit”

Di sini Saya akan memberikan beberapa tips  dan informasi ketika akan melakukan apply  kartu kredit.

Untuk saudara tidak serumah, jangan sampai menggunakan nama orangtua ataupun nama mertua, sebab jika kartu kredit Anda macet maka mereka yang akan dikejar-kejar, lebih baik memakai nama saudara jauh.

Kemudian mengenai telepon kantor, kita tidak diperbolehkan memberikan nomor berupa nomor handphone, sebab kalau kita berbicara dari kacamata perbankan, jika Anda memberikan nomor berupa nomor handphone, maka indikasi “ngakalinya” akan lebih mudah, berbeda dengan telepon rumah yang nomornya lebih permanen.

Jika Anda seorang pemula, untuk cara apply nya “Jangan tergoda untuk apply langsung ke banyak bank“, sebab fokus kita adalah lebih baik kita punya satu atau dua terlebih dahulu, setelah limitnya sudah bagus barulah bisa dikembangbiakkan.

Kenapa?

Sebab jika Anda langsung apply  ke banyak bank, dapatnya memang banyak tapi dengan limit yang kecil.

Kalau sudah limitnya kecil dan banyak maka akan susah untuk menaikkannya, oleh karena itu yang terpenting adalah bagaimana Anda untuk bisa mendapatkan kartu kredit terlebih dahulu.

 

Seperti yang Saya tulis di artikel sebelumnya, jika Anda sampai tertolak, maka cara simpel untuk mengetahui letak permasalahan Anda dimana adalah Anda ditolak sebelum Anda verifikasi atau setelah verifikasi kemudian ditolak.

Jika sebelum verifikasi Anda sudah ditolak, artinya Anda masih bermasalah di BI Checking, DBR atau mungkin data-data yang belum memenuhi syarat.

Tetapi jika Anda ditolak setelah verifikasi, maka masalahnya ketika pihak bank memverifikasi, datanya tidak sama dengan apa yang Anda tulis.

Semoga bermanfaat.

Share if you like this. 🙂

Cara Mudah Memahami Ilmu Kartu Kredit (2)

Cara Mudah Memahami Ilmu Kartu Kredit (2)

Minggu lalu kita sudah membahas tentang “Mempelajari Bahasa sebagai salah satu tips dalam memahami ilmu kartu kredit maupun ketrampilan lainnya“.

Setelah pemahaman bahasa, hal kedua yang perlu Anda perhatikan adalah Alur.

ALUR

Alur sendiri dapat kita ibaratkan sebagai seseorang yang berprofesi sebagai tukang talang. Ketika rumah Anda bocor, tukang talang tentu akan melakukan pengecekan alur keluar masuknya air.

Air masuk darimana dan turun kemana, tukang talang harus memeriksa satu persatu agar tahu dimana letak kebocorannya.

Permasalahan ini sama halnya dengan kartu kredit, kita juga harus paham mengenai ALUR.

Ketika step pertama sudah Anda lakukan, tentu akan ada step-step  selanjutnya yang harus Anda selesaikan.

Sebagai contoh ketika Anda apply kartu kredit, maka pertama kali yang harus Anda pahami adalah BI Checking.

Setelah BI Checking  aman, maka pihak bank akan melihat data-data Anda yang lain.

Jadi ketika Anda konsultasi tentang masalah kartu kredit yang ditolak, Anda pun harus pelajari alur atau step by stepnya terlebih dahulu mengapa kartu kredit Anda tertolak.

Saya pribadi memiliki cara yang terbilang mudah untuk mendeteksi.

Anda di tolak sebelum survey atau di tolak setelah survey ?

 

Jika sebelum survey  Anda sudah di tolak, jelas data Anda yang tidak beres.

Namun jika Anda di tolak setelah survey, maka data Anda mungkin sudah memenuhi syarat tetapi saat melakukan wawancara Anda yang tidak beres.

Sebagai contohnya ada kejadian yang pernah dialami oleh murid Saya dulu.

Setiap apply  kartu ia selalu di tolak, akhirnya Saya penasaran dan mulai menelusuri alur-alurnya.

Saya bertanya mengenai beres tidaknya BI Checking, ia pun menjawab sudah beres.

Setelah itu Saya kembali bertanya, saat maju apply kartu profesinya sebagai karyawan atau pengusaha, dan ia menjawab sebagai seorang karyawan (guru).

Artinya data beserta KTP, NPWP, slip gaji dan sebagainya tidak ada masalah, dari sini masih baik-baik saja dan otomatis kita berlanjut ke alur berikutnya.

Kemudian Saya bertanya mengenai gaji yang ia tuliskan.

Ia menjawab “Saya menuliskan Rp 80.000.000,-/bulan” dan disitu Saya langsung terdiam.

Apa yang Salah ?

Mengajukan kartu kredit sebagai guru dengan gaji sebesar Rp 80.000.000,-

 

Tentu tidak masuk akal dan pantas saja jika di tolak secara terus-menerus.

Saya katakan sekali lagi, jika Anda ingin menguasai segala bidang, Anda harus paham mengenai bahasa dan alur apa saja yang harus dilewati dan diselesaikan.

Jika Anda sudah mempelajari dan paham dengan 2 cara ini, maka 90% Anda akan menguasainya

Kemudian apa step ketiganya?

Step ketiganya tidak lain tidak bukan adalah praktek atau action.

PRAKTEK atau ACTION

Ketika Anda gagal dalam praktek, maka cobalah kembali.

Jika gagal lagi, tetap coba lagi sambil melihat dimana letak permasalahan serta apa penyebab Anda bisa kegagalan.

Merasa bisa dan bisa karena pengalaman itu berbeda.

Salah satu alumni Saya di Credit Card Revolution membuka usaha yang lumayan menjanjikan.

Ia membuat bisnis dan saat ini cabang bisnisnya ada dimana-mana.

Ia membuka bisnis kuliner dengan berjualan indom*e sebagai bahan pokok. Tentu Anda pasti akan menyepelekan.

Jualan Indom*e Siapa yang Tidak Bisa?

 

Namun ketika Anda mempraktekan, belum tentu Anda bisa mendapatkan pencapaian sesukses itu.

Inilah Saya katakan bahwa “Merasa bisa dan bisa karena pengalaman atau berlatih” sangat jauh berbeda.

Kita pun juga sama, ketika kita merasa bisa ditambah kita tidak pernah berlatih ataupun praktek, you are nothing.

Maka yang harus Anda lakukan adalah latihan, latihan dan latihan secara terus-menerus.

Anda mengikuti workshop  Saya yang bayarnya mahal, workshop yang Anda ikuti memang berbayar tetapi latihannya gratis.

Terkadang Anda hanya mau bayar-bayar tetapi dalam berlatih sesuatu hal yang jelas-jelas gratis justru tidak Anda dilakukan. Tentu hal ini sangat disayangkan.

Ketika Anda apply  kartu kredit untuk pertama kalinya, mungkin Anda di tolak atau tidak lancar.

Tetapi hal seperti ini jangan sampai membuat Anda putus asa, lakukan evaluasi dan teruslah mencoba.

Jika tidak paham, pelajari dulu bahasanya kemudian pahami alurnya dan jangan lupa untuk terus berlatih.

Dengan mempelajari 3 hal ini, Saya yakin Anda mau mempelajari apapun akan terasa mudah. Trust me!

Share if you like this. 🙂

Berani Ambil Sikap

Berani Ambil Sikap

Beberapa waktu yang lalu Saya mendapat konsultasi dari para alumni terkait masalah keuangan, bahkan tak jarang merambat sampai kepada permasalahan keluarga mereka.

Padahal notabene-nya Saya adalah seorang pakar kartu kredit dan bukan seorang pakar hubungan rumah tangga.

Nah, dari beberapa konsultasi yang masuk.

Saya menyimpulkan bahwa sebenarnya banyak orang atau bahkan mungkin diri Anda sendiri masih belum berani dalam mengambil sikap

Contohnya ketika Anda sudah tidak nyaman lagi dalam bekerja.

Namun Anda tetap memilih untuk berada di pekerjaan tersebut hanya karena ketidakberanian Anda untuk keluar dari pekerjaan.

Jika seperti itu keadaannya, maka yang ada hidup Anda semakin lama akan semakin berantakan.

Tidak akan ada kenyamanan yang bisa Anda dapatkan sampai Anda mau atau berani untuk mengambil tindakan.

Sama halnya ketika Anda bermasalah di kartu kredit.

Dalam permasalahan kartu kredit Anda belum mampu untuk melunasinya.

Jika kondisinya seperti itu, mungkin lebih baik memacetkan kartu kredit Anda.

Tapi kenyataannya Anda hanya membiarkan kejadian ini dengan cara gali lubang tutup lubang, gesek kartu lagi, apply kartu kembali atau mencari KTA untuk membayar kartu kredit.

Sebenarnya dalam hal ini Anda sudah menentukan pilihan.

Tetapi yang disayangkan pilihan Anda bukanlah pilihan yang terbaik, melainkan pilihan yang terburuk

Maka jangan pernah mengira jika masalah tersebut dibiarkan, makin lama akan semakin beres.

Yang ada masalah akan semakin parah.

Ingatlah bahwa hanya kita sendiri yang bisa menyelesaikan masalah kita

Hanya kita sendiri yang bisa menentukan masa depan kita

Maka mulailah untuk mengambil sikap atau tindakan, tidak perlu memikirkan hasil yang didapat nantinya akan bagus atau tidak.

Yang terpenting adalah Anda harus berani.

Jangan lagi menunda-nunda, sebab jika tidak dimulai dari sekarang maka akan semakin banyak waktu yang akan dikorbankan.

NOW OR NEVER! Jadi mulai ubah strategi Anda

Dunia ini sudah dipenuhi dengan pengecut, jangan sampai menambahkan diri Anda sebagai seorang pengecut.

Sekali lagi Saya katakan bahwa kita tidak akan pernah tahu keputusan yang kita ambil sudah benar atau salah.

Ini hanya masalah waktu.

Yang sudah pasti salah adalah ketika kita sama sekali tidak mau mengambil keputusan.

Oleh sebab itu daripada kita beranggapan bahwa diri kita salah, lebih baik kita mengambil sikap dan hasilnya akan fifty-fifty.

Share if you like this. 🙂

Berbisnis Karena Status?

Berbisnis Karena Status?

Sebenarnya apa tujuan Anda dalam berbisnis?

Cari uang atau hanya sekedar cari status?

Tidak sedikit dari mereka hanya ingin berstatus sebagai seorang pengusaha atau entrepreneur.

Apalagi dengan adanya social media yang mendukung untuk sekedar menunjukkan status.

Pada sosial media, Anda dapat memposting banyak hal yang menunjukkan bahwa Anda adalah orang kaya yang paling bahagia.

Tetapi pada kenyataannya bisnis yang dijalankan tidak bagus, tekor atau bahkan bermasalah.

Bisnis yang dilakukan hanya terlihat sibuk, tetapi tidak ada hasil.

Omset yang didapatkan besar tetapi keuntungannya tidak ada.

Lalu sebenarnya apa yang bisa Anda dapatkan dengan melakukan hal seperti itu?

Gengsi? Ya, hanya feel atau perasaan senang saja yang Anda dapatkan.

Tetapi apakah secara finansial Anda mendapatkan sesuatu?

Nyinyiran orang-oranglah yang mungkin akan Anda dapatkan.

Jaman sekarang banyak orang ingin statusnya sebagai entrepreneur ataupun internet marketer.

Mereka beranggapan bahwa yang terpenting adalah tidak bekerja dengan orang.

Tetapi kondisinya penghasilan stuck di satu angka saja dan ketika disarankan untuk meningkatkan omset ia tidak berani.

Ingin kaya hanya untuk mengejar status.

Orderan banyak bikin status, mobil baru bikin status, punya kolam renang dirumah bikin status, jalan-jalan bikin status.

Misalnya ketika sebuah fanpage mendapatkan review jelek, maka mereka akan merasa sangat khawatir.

Kalo Saya pribadi “i don’t care”.

Anda mau review dengan memberi bintang 1, 2, 3 atau berkomentar negatif.

Langit tidak perlu menjelaskan bahwa dia tinggi.

Jadi untuk apa menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dijelaskan.

Sebenarnya menunjukkan status tidak masalah, tetapi jangan lupa bahwa fungsi utama dalam berbisnis adalah untuk mencari profit, bukan untuk mencari status saja.

Bukan juga mencari omset tinggi tetapi untuk cari profit.

Ingat, sekali lagi yang terpenting adalah mendapatkan keuntungan dari berbisnis.

Caranya bagaimana?

Mulai buang sifat gengsi yang Anda miliki.

Gengsi doesn’t make you rich, it’s just make you broke.

Biarlah terlihat miskin, toh terlihat kayapun tidak akan membuat Anda mendapatkan keuntungan dari siapapun.

Share If You Like This. 🙂

Dampak Penurunan Bunga Kartu Kredit

Dampak Penurunan Bunga Kartu Kredit

Dalam sebuah pemberitaan dilaporkan bahwa bunga kartu kredit akan mengalami penurunan per Juni 2017.

Lalu seperti apa imbasnya bagi pengguna kartu kredit?

Coba mari kita bahas disini.

Anda pasti tahu bahwa dalam dunia kartu kredit kita mengenal 3 jenis biaya yang antara lain :

BIAYA GESTUN

Biaya gestun dikenakan ketika Anda melakukan tarik tunai lewat gesek tunai.

BIAYA TARIK TUNAI

Biaya tarik tunai dikenakan ketika Anda menarik secara tunai lewat ATM.

BIAYA BUNGA

Biaya bunga dikenakan ketika Anda tidak melakukan pembayaran secara full payment atau Anda hanya membayar minimum payment.

[divider style=”0″]

Lalu penurunan bunga terjadi dimana?

Penurunan terjadi pada BIAYA BUNGA yang awalnya 2.95% turun menjadi 2.25%.

Tetapi yang harus diketahui adalah selama Anda melakukan pembayaran sebelum jatuh tempo.

Maka tidak akan ada efek yang dirasakan sebab tidak akan dikenakan biaya bunga.

Yang berimbas adalah ketika Anda menggunakan kartu kredit.

Kemudian bulan depan Anda hanya membayar minimum payment atau membayar sebagian.

Disitulah efek dari penurunan biaya bunga.

Bagaimana dengan gesek tunai?

Jika pada biaya bunga terjadi penurunan, sebaliknya tidak ada tanda-tanda penurunan pada biaya gestun.

Sebab Merchant Discount Rate (MDR) yang diberikan pihak perbankan tetap di angka 1.8%.

Jika dilihat secara angka memang terlihat lebih mahal.

Pada gesek tunai biasanya dikenakan biaya sebesar 2.5%, sedangkan bunga kartu kredit biayanya sebesar 2.25%.

Tetapi yang harus Anda pahami adalah saat Anda membandingkan antara tarik tunai dengan gesek tunai.

Jika Anda melakukan tarik tunai maka yang terjadi adalah Anda akan dikenakan biaya tarik tunai dan biaya bunga.

Artinya jika ditotal dengan hitungan 30 hari saja Anda akan menanggung presentase tarik tunai sebesar 4% ditambah biaya bunga sebesar 2.25%.

Angka yang dihasilkan sudah hampir mencapai 7%.

Lebih murah biaya gesek tunai bukan?

[divider style=”0″]

Lalu problem lainnya adalah ketika Anda memutuskan bergestun untuk membayar jatuh tempo kartu kredit Anda dengan cara menggesek kartu kredit yang lain untuk membayar minimum payment.

Anda pasti berpikir bahwa jatuhnya akan lebih murah bukan?

CONTOH

Anda melakukan transaksi dibulan Mei.

Kemudian dibulan Juni Anda membayar dengan minimum payment.

Maka jelas perhitungan bunganya dihitung dari bulan Mei ke bulan Juni.

Nah, jika dibulan Juni Anda membayar minimum payment.

Kemudian Anda kembali membayar minimum payment pada bulan berikutnya.

Maka bank tidak menghitung minimum payment dari bulan Juni.

Tetapi bank menghitung dari transaksi terakhir (mei.red).

Inilah kenapa minimum payment masih terbilang lebih mahal.

Kenapa?

Sebab dengan minimum payment, hutang Anda tidak akan kunjung lunas dan akan terjadi akumulatif pada biaya bunga.

[divider style=”0″]

Sebenarnya penurunan bunga kartu kredit memiliki sisi positif dan negatif.

Dampak positifnya adalah ketika terjadi penurunan bunga.

Saya yakin banyak orang melakukan pembayaran secara minimum payment dan otomatis hal itu akan mengurangi keuntungan bagi pihak perbankan.

Untuk mengantisipasinya pihak perbankan tentu akan melakukan ekspansi.

Jadi bagi Anda yang ingin apply kartu kredit, lakukanlah pada bulan-bulan ini (Mei – Juni.red) sebab pihak bank akan mencari kompensasi sebesar-besarnya dari penurunan profit.

Ingat, pihak bank mendapatkan keuntungan dari kita, artinya pihak bank lah yang membutuhkan kita.

Lalu apa dampak negatifnya?

Secara psikologis, penurunan biaya bunga menyebabkan meningkatnya keinginan seseorang untuk berbelanja.

Maka berhati-hatilah sebab hal ini dapat memicu penggunaan kartu kredit dengan pemakaian yang over.

Maka dari itu, mulailah cerdas untuk menghitung bunga.

Share if you like this. 🙂

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis (2)

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis (2)

Menyambung artikel sebelumnya tentang delusi [baca disini], yaitu kondisi dimana keyakinan bertentangan dengan kenyataannya.

Nah, selain bisnis money game dan MLM, Anda juga harus berhati-hati pada bisnis e-commerce.

Teknik membangun mimpi yang digunakan pada bisnis e-commerce adalah dengan menyajikan data transaksi yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Mereka tidak menyadari bahwa pada kenyataannya perusahaan sekelas foodpanda di Indonesia pun bisa jatuh.

Intinya ketika ada peluang pasti ada masalah yang akan dihadapi, jadi keduanya harus balance atau seimbang.

Inilah realita yang harus dipahami.

Dikelas Credit Card Revolution, Saya tidak sekedar membangun mimpi yang pada akhirnya akan membuat Anda jatuh.

[divider style=”0″]

Dikelas Credit Card Revolution atau Credit Strategy for Property Investor Saya mengajarkan bahwa jika sekedar apply kartu mungkin masih terbilang sangat mudah.

Dikelas Credit Card Revolution, average atau rata-rata yang berhasil mendapat kartu kredit diatas Rp 100.00.000,- sebesar 80% dari seluruh peserta.

Artinya 4 dari 5 orang sukses mendapatkan kartu kredit diatas Rp 100.000.000,-.

Tetapi Saya selalu mengingatkan bahwa,

Mendapatkan Bukanlah Tujuan

Mendapatkan kartu kredit hanyalah awal

The real challenge adalah bagaimana memanfaatkannya setelah Anda mendapatkannya

Itulah kenapa dikelas Saya ada semacam konsultasi yang sifatnya eksplore.

Di mulai dari menanyakan bisnis apa yang ingin dijalankan.

Contohnya jika ingin memulai bisnis kuliner, Saya selalu memberikan pertanyaan terlebih dahulu.

Dalam memulai bisnis, bisa karena merasa bisa saja atau bisa karena punya pengalaman.

Apabila Anda bisa karena memang mempunyai pengalaman.

Maka sekali lagi Saya katakan bahwa Anda bebas untuk memulainya, sebab Saya yakin 90% bisnis Anda akan berjalan dengan baik.

Sebaliknya jika hanya merasa bisa, Saya akan menyarankan untuk melakukan tes pasar atau validasi market terlebih dahulu.

CONTOH

Share if you like this. 🙂

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis

Berbicara tentang delusi, coba kita ambil contoh dari bisnis yang sedang ramai saat ini.

Saat ini bisnis kuliner semacam mie-mie menggunakan level kepedasan mungkin sedang banyak digandrungi oleh para pebisnis untuk dijadikan lahan bisnisnya.

Mungkin dalam bisnis tersebut banyak orang berpendapat bahwa bisnis seperti itu sangatlah mudah, namun ketika sudah dijalankan nyatanya tak semudah yang dibayangkan sebelumnya.

Inilah yang dinamakan delusi.

Kondisi dimana keyakinan bertentangan dengan kenyataan.

BISA karena merasa bisa

Maka yang harus Anda lakukan adalah validasi market artinya lakukan percobaan bisnis kecil-kecilan terlebih dahulu.

BISA karena mempunyai pengalaman

Maka Anda bebas untuk terjun langsung kedalam dunia bisnis yang ingin Anda bangun.

Inilah yang harus Anda pahami.

Apapun bisnis yang ingin Anda geluti entah itu bisnis properti, kuliner atau bisnis-bisnis lainnya Anda harus memikirkan secara matang.

Dalam bisnis tersebut, apakah Anda bisa karena punya pengalaman atau hanya bisa karena merasa bisa? Mulai tanyakan pada diri Anda.

CONTOH

Salah satu murid Saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.

Begitu keluar dari pekerjaan, ia langsung membuka bisnis dengan modal kartu kredit.

Ia membuka bisnis kuliner yaitu menjual ayam ala fried chicken, dan ternyata bisnis yang dijalankan langsung “jadi”.

Artinya bisnis yang dibuat berjalan dengan lancar.

Saya pun bertanya padanya, apakah sebelumnya ia mempunyai pengalaman dalam membuka bisnis tersebut? Ia menjawab tidak pernah.

Kemudian Saya bertanya kembali, sebelum membuka bisnis fried chicken apa pekerjaan yang dilakukan?

Ia pun menjawab, dulunya ia adalah seorang karyawan, ia bekerja sebagai manajer di salah satu restoran cepat saji terkemuka selama 7 tahun.

Mungkin inilah yang membuat ia bisa dengan mudah membuka bisnis.

Dengan pengalaman yang dimiliki, tentu ia paham mengenai ilmu yang berkaitan dengan marketing dan leadership yang diterapkan dalam dunia bisnis kuliner.

Sebaliknya dari mana sikap BISA karena merasa bisa muncul?

Biasanya sikap bisa karena merasa bisa muncul setelah Anda mengikuti acara seminar yang sifatnya hardcore sales, seminar yang isinya hanya membangun mimpi tanpa detail proses.

CONTOH

Dalam sebuah seminar dikatakan bahwa membangun bisnis import sangatlah mudah.

Anda bisa menjadi distributor barang dengan harga Rp 10.000,- yang nantinya bisa Anda jual seharga Rp 100.000,-.

Hal inilah yang akan membuat Anda merasa bahwa Anda bisa melakukan bisnis ini dengan mudah.

Istilahnya ngepitch hardcore sales tetapi deliver atau prosesnya tidak dijelaskan secara detail.

Apakah hal itu boleh dilakukan?

Boleh-boleh saja, sebab pada seminar-seminar tidak sedikit yang menerapkan hardcore sales.

Tetapi berbeda ketika mengajar di workshop, Saya selalu mengajarkan semua proses beserta step by step-nya.

Money game dan MLM adalah salah satu contoh bisnis yang membuat orang merasa dibangun mimpinya, tetapi tanpa disertai aksi yang konsisten.

Oleh sebab itu punya mimpi yang besar tanpa konsisten action sama saja dengan delusi, hanya akan menjadi khayalan Anda saja.

Share if you like this. 🙂

Ilusi Cicilan

Ilusi Cicilan

ilusi cicilanBanyak orang berpikiran bahwa “cicilan itu lebih murah dan gampang prosesnya”.

Namun kenyataan yang Saya temui justru penyebab nomor satu orang-orang yang bermasalah di kartu kredit adalah CICILAN.

Akhirnya tidak sedikit orang yang terjebak dengan ilusi cicilan.

Nah, disini Saya akan membahas sedikit tentang ILUSI CICILAN.

Terkadang sebagai manusia kita terbuai dengan yang namanya cicilan, entah itu cicilan 0% atau jenis cicilan lainnya.

Padahal tidak sedikit bank menjebak kita dengan permainan kata-kata.

Seperti saat kita datang ke bank untuk deposito, pihak bank pasti mengatakan bahwa bunga deposito yang diberikan sangat tinggi, misalnya sebesar 6,5%, tetapi hitungannya pertahun, bukan perbulan.

Tetapi jika kita melakukan kredit ke bank, bunga yang ditawarkan oleh pihak bank hanya sepersekian persen, seolah-olah bunganya rendah padahal hitungannya perbulan, bukan pertahun.

Inilah yang harus kita pahami.

Jika Anda menggunakan kartu kredit sebagai modal bisnis, cicilan akan sangat berbahaya jika Anda tidak mengetahui kapan timing yang tepat untuk merubah cicilan.

Rejeki Itu Misteri, Angsuran Itu Pasti

CONTOH

Mungkin tidak sedikit dari kita akan merubah cicilan ketika sedang kepepet.

Kasus yang banyak terjadi ada pada cicilan 0% selama 3 bulan.

Yang harus kita pahami dari cicilan 0% selama 3 bulan adalah :

Jika kita mengasumsikan penggunaan kartu kredit sebesar Rp 100.000.000,-

Maka bulan depan Anda diharuskan membayar cicilan sebesar Rp 33.300.000,-.

[divider style=”0″]

Apabila bulan depan Anda mampu membayar sebesar Rp 33.300.000,-

Maka cicilan 0% adalah cara terbaik untuk membayar, sebab pembayaran cicilan Anda dikenakan tanpa bunga.

[divider style=”0″]

Sebaliknya ketika bulan depan Anda tidak mampu membayar sebesar Rp 33.300.000,-.

Biasanya yang akan Anda dilakukan adalah kembali menggesek kartu kredit untuk membayar cicilan tersebut.

[divider style=”0″]

Artinya yang terjadi adalah bunga-berbunga atau istilahnya Compounding Interest, dan compounding interest itu sangat berbahaya dalam kredit.

Salah satu yang dapat mengindikasikan masalah dalam cicilan adalah KTA (Kredit Tanpa Agunan).

Jika Anda mendapatkan dana KTA sebesar Rp 50.000.000,- ternyata yang Anda gunakan untuk bisnis hanya sebesar Rp 20.000.000,-.

Artinya bisnis Anda sedang menanggung beban bunga sebesar 2,5 kali lipat. Ini yang harus Anda pahami.

Saat Anda mendapatkan dana KTA sebesar Rp 50.000.000,-, namun yang Anda gunakan hanya sebesar Rp 20.000.000,-.

Kira-kira sisa dana sebesar Rp 30.000.000,- akan Anda gunakan untuk apa?

Tentu Anda akan berpikir bahwa sayang jika sisa dananya tidak digunakan, akhirnya Anda gunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya.

Itulah kenapa banyak orang “macet“.

 Bisnis yang tidak bagus akan terlihat bagus.

 Barang yang tidak penting akan jadi penting.

 Barang yang tidak diinginkan menjadi diinginkan.

Akhirnya pemakaian tidak sesuai dengan jalur awal dan Anda akan terjebak dengan cicilan-cicilan yang harus Anda bayar dan tentu hal itu akan jadi masalah kedepannya.

Maka sebelum Anda merubah cicilan, periksa terlebih dahulu apakah Anda mampu untuk membayar cicilan tersebut?

Jika Anda mampu, maka itu adalah pilihan terbaik bagi Anda.

Sebab sebenarnya cicilan hanya bagus dalam hal pembelian barang-barang.

Seperti ketika Anda ingin membeli handphone tetapi Anda tidak sanggup bila membayar secara tunai, Anda bisa melakukan pembayaran dengan cara cicilan.

Tetapi cicilan akan sangat berbahaya jika Anda gunakan untuk berbisnis, sebab dunia bisnis tidak bisa diprediksi dan tentu belum jelas bagaimana keadaannya.

Maka dari itu berhati-hatilah dengan cicilan, lebih baik Anda menggunakan dana talangan. Beres!

Share If You Like This. 🙂

Asumsi Bisa Membunuh Bisnismu

Asumsi Bisa Membunuh Bisnismu

Apasih awal mula orang jatuh ketika berbisnis menggunakan hutang?

Terkadang orang tidak menyadari akan tanda-tanda terjadinya “malapetaka” ini, tahu-tahu pemakaian sudah hampir mendekati limit.

Salah satu awal mula orang bermasalah dalam bisnisnya adalah ketika ia mulai menggunakan asumsi dalam bisnisnya.

Suatu ketika Saya melihat timeline salah satu rekan, ia adalah seorang business mastery di Amerika. Dari sinilah Saya mulai mendapatkan inspirasi.

Inspirasi sekaligus pelajaran yang Saya dapatkan dari bisnis masternya adalah adanya tahapan-tahapan atau life cycle dalam bisnis.

Dalam memulai bisnis, hal pertama yang paling penting adalah kehadiran kita dalam bisnis.

Jadi, kenapa banyak dari kalian mengalami kegagalan dalam bisnis?

Karena kebanyakan pebisnis masih suka meninggalkan bisnisnya hanya karena sebuah mindset “Bisnisnya jalan, bosnya jalan-jalan”. Tentu ini adalah mindset yang salah.

Bayangkan saja apabila Anda mempunyai seorang bayi lalu Anda serahkan langsung kepada orang lain. Kira-kira bagaimana?

Maka sebuah bisnis baru bisa ditinggalkan ketika life cycle-nya sudah berada ditahap remaja atau dewasa.

Bisnis yang sukses ditandai dengan omset yang meningkat.

Dan bisnis yang sukses biasanya akan terlihat pada tahap anak-anak menuju tahap remaja.

Namun ketika omset meningkat, seringkali kita hanya terpaku pada jumlah omset tanpa pernah sadar akan biaya-biaya lain yang dikeluarkan, dan parahnya saat menjalankan bisnis kita tidak pernah mengenal yang namanya laporan keuangan.

Saya pribadi pernah mengalami hal semacam itu, saat itu Saya tidak menaikkan biaya produksi ketika ada kenaikan bensin.

Artinya ketika biaya produksi harusnya mengalami kenaikan namun secara tidak sadar Saya tidak menaikannya.

Lalu apa akibatnya? Gros Profit Saya memang profit, tapi pada Nett Profit Saya tekor. Kondisi seperti itu Saya jalankan kurang lebih selama 6 bulan.

Ini adalah salah satu contoh awal mula bisnis Anda bermasalah, memulai dan menjalankan bisnis hanya berdasarkan asumsi tanpa memiliki laporan keuangan.

CONTOH I

Apakah Anda yakin keuntungan yang didapat benar-benar sebesar Rp 40.000,- ?

Padahal kita tidak tahu jika nantinya akan ada pengeluaran tambahan yang dapat menggerus profit bisnis Anda.

Parahnya dalam menjalankan bisnis, kita memakai asumsi seperti ini selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Saya pribadi pernah mengalaminya, tetapi Saya selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah Saya lakukan agar hal-hal semacam ini tidak kembali terulang.

Artinya kita sama-sama belajar dari kesalahan, sebab tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya sukses atau belajar. Ketika kita belum sukses berarti kita masih perlu belajar.

[divider style=”4″]

Saya selalu mengajarkan di Credit Card Revolution :

 Selalu ketahui skor bisnis Anda

 Hitung Berapa Omset Anda

 Hitung Berapa HPP (Harga Pokok Penjualan) Anda

 Hitung Berapa Overhead Anda

 Hitung Berapa Pengeluaran Anda

 dan yang terpenting adalah Hitung Berapa Nett Profit Anda

Kalo Anda sudah mengetahui semua yang dibutuhkan tentu Anda akan lebih mudah untuk mengejar profit.

[divider style=”4″]

CONTOH II

Ketika Anda sudah mempunyai laporan keuangan dalam bisnis, kemudian antara keuntungan bersih dan penghasilan Anda ternyata ada minus sebesar Rp 10.000.000,-.

Itu artinya Anda harus mencari profit minimal sebesar Rp 10.000.000,- untuk mengejar minus Anda bukan?

Maka kita harus mulai berkalkulasi.

Jika nominal Rp 10.000.000,- dibagi 30 hari, maka setiap harinya Anda harus mendapatkan keuntungan kurang lebih sebesar Rp 330.000,-.

Dari angka Rp 330.000,- berapa persen omset yang Anda dapatkan?

Misalnya omset yang Anda dapatkan sebesar 20%, maka Anda harus mencari tambahan omset sebesar Rp 1.980.000,-/bulan.

Jadi Anda harus berpikir tentang bagaimana cara menambah omset sebesar Rp 1.980.000,- dalam bisnis Anda.

Dengan kondisi seperti ini Anda tentu akan mendapatkan susunan laporan dan langkah-langkah yang harus Anda lakukan. Inilah salah satu keuntungan adanya laporan keuangan.

Tetapi jika Anda hanya mengandalkan asumsi, maka dapat diartikan bahwa “otak pintar Anda sedang dibius dengan asumsi Anda“.

Artinya the power of kepepet-nya tidak teraktivasi sebab Anda merasa sudah berada pada titik aman.

Tetapi jika Anda tahu bahwa tiap bulan Anda minus sebesar Rp 10.000.000,- tentu the power of kepepet Anda akan teraktivasi, dengan begitu otak kita pasti akan bekerja secara maksimal.

Share If You Like This.  

Mentalitas Seperti Apakah Yang Anda Miliki?

Mentalitas Seperti Apakah Yang Anda Miliki?

Sudah Benarkah Mentalitas Anda?

[mk_dropcaps style=”simple-style”]S[/mk_dropcaps]

aya menemukan sebuah ilmu yang luar biasa ketika bertemu dengan salah satu rekan Saya, ia adalah seseorang yang bisa dibilang jago dalam memaksimalkan Facebook Ads.

Tidak hanya itu, ia pun bisa mendapatkan keuntungan hingga miliaran rupiah dari penjualan kaos disalah satu perusahaan digital marketing yang menyediakan layanan pembuatan desain kaos dan cetak. Luar biasa bukan?

Saya menemukan bahwa ilmu basic yang diajarkan mungkin hampir sama, tetapi pola pikir yang berbeda telah Saya dapatkan darinya yaitu ketika ia menemukan peluang untuk mendapatkan sebuah iklan yang bagus.

Sebagai contoh iklan A menghabiskan 100 dollar, ia bisa menghasilkan 1000 dollar dari dana 100 dollar yang sudah ia keluarkan sebelumnya sebab yang ia lakukan adalah men-scale up bisnis yang ia jalankan.

Ia secara terus-menerus melakukan teknik double scale up. Dengan nilai 100 dollar ia bisa menghasilkan 1000 dollar, 500 dollar menjadi 5000 dollar. Menurut Saya ini merupakan satu mindset yang sangat luar biasa.

Di lain waktu salah satu murid Saya berkonsultasi dan bertanya “Mengapa bisnis Saya sepi padahal dulu sempat ramai?”.

Saya sempat menanyakan tentang cara yang pernah Saya ajarkan yaitu mempromosikan bisnis menggunakan Facebook Ads.

Awalnya cara itu memang dilakukan, namun ketika bisnis yang dijalankannya sudah ramai dan berjalan lancar, justru cara itu sudah tidak dilakukan lagi sebab murid Saya berasumsi bahwa bisnisnya sudah ramai.

Ini tentu saja suatu perbedaan yang mendasar antara bumi dan langit.

Disisi lain rekan Saya berinisiatif melakukan scale up saat bisnisnya sedang dalam kondisi yang bagus.

Sebaliknya salah satu murid Saya justru stuck karena bisnis yang dijalankan dirasa sudah cukup lancar dan ramai kala itu.

Mungkin inilah yang membedakan perihal hasil pencapaian yang didapat antara rekan dan salah satu murid Saya.

“Ilmu yang didapatkan mungkin sama, tetapi mentality setiap orang tentu berbeda-beda. Itulah kenapa belajar tidak hanya masalah ilmu tetapi juga masalah mental.”

Pertanyaan Saya, Mental seperti apakah Anda?



About Roy Shakti
Roy Shakti dikenal sebagai Pakar Kartu Kredit dan Penulis Buku Best Seller Credit Card Revolution, New Credit Card Revolution dan Credit Strategy For Investing.