Pekerjaan Ini Dilarang Macet Kartu Kredit. Kerjaan Apa?

Pekerjaan Ini Dilarang Macet Kartu Kredit. Kerjaan Apa?

Sobat street smart, gimana kabar anda? Akhir-akhir ini, kalau anda lihat konten Instagram dan Youtube saya: Roy Shakti Pakar Kartu Kredit, pasti ngerti dengan imbauan saya buat macet di kartu kredit. Kenapa saya bilang begitu?

Well, ini sifatnya imbauan. Saya bilang begini karena ini adalah sebuah opsi: anda bisa macet jika memang keadaannya tidak memungkinkan. Disisi lain, anda juga tetap bisa lancar bila mampu membayar tagihan.

Itu imbauan yang saya. Jangan salah paham dan mengira kalau saya ini menyuruh anda sekalian ‘harus macet’. Enggak!

By the way, kembali ke topik, yah. Disaat kondisi kayak gini, jangan kira semua orang bisa dengan mudah macet kartu kredit. Salah satu pekerjaan ini ternyata nggak bisa macet kartu kredit dengan mudah. Pekerjaan apa ini?

Mereka adalah karyawan bank!

Mereka-mereka ini curhat di DM saya. Mereka curcol: “Pak, saya dilema kak. Saya bingung banget. Saya kan pegawai Bank nih. Kalau sekali macet takutnya nanti dikeluarkan dari kerjaan. Gimana, ya pak?”

Ini nyata adanya. Saya nggak nyebut karyawan bank mana saja. Intinya, mereka sedang hadapi dilema. Mereka ini tetaplah manusia yang juga punya kekurangan. Banyak banget dari mereka yang mengaku terjebak di Pinjaman Online, KTA, Kartu Kredit dan segala macamnya tapi nggak berani ngaku.

Jangan dikira seorang debt collector itu bebas hutang, ya! Mereka ternyata juga manusia biasa yang punya cicilan. Bahkan, ada juga posisi Manager yang terjebak hutang kartu kredit.

Ini anomali.

Mungkin diantara kita seringnya mengira kalau pegawai Bank itu bersih dari urusan macet di finansial, nyatanya, keadaan di lapangan beda, Bro!

Problemnya adalah, ketika pegawai Bank ini tertekan, takutnya pelayanan di Bank makin buruk. Ingat lho, pelayanan di Bank itu juga ditentukan dari kondisi psikologi dan mental karyawan.

Ketika pegawai Bank ini memilih jalan hidup bertahan dari limit kartu kredit, maka pertanyaanya: masih mau menjalani resiko seperti itu? Mengapa masih menggantungkan keselamatan dengan gaji bulanan Bank? Kenapa nggak pindah haluan sebagai pebisnis?

Saya juga membahas hal ini di youtube. Silahkan klik link berikut ini untuk mengetahui tentang bahasan ini:

Ingat! Belajar Ilmu Kartu Kredit Setengah – Setengah Itu Bahaya

Ingat! Belajar Ilmu Kartu Kredit Setengah – Setengah Itu Bahaya

Saya udah pernah ngasih tahu sebelumnya bagi anda yang ikut instagram maupun saya untuk selalu belajar sesuatu tanpa setengah-setengah. Ingat ya! Belajar setengah-setengah itu lebih berbahaya daripada mereka yang nggak tahu sama sekali. Ketika belajar kartu kredit pun, saya usahakan diri sendiri untuk selalu update dengan perkembangan zaman. Untuk itulah, saya sering bikin kelas untuk update ilmu ke alumni Credit Card Revolution maupun mereka yang baru ingin ikut kelas saya.

Ilmu yang Setengah-setengah Berpotensi Timbulkan Banyak Resiko
Mengetahui ilmu setengah-setengah itu bahaya. Tahu setengah-setengah juga bisa timbulkan banyak resiko. Orang yang tahu setengah-setengah biasanya ada di tahap sudah tahu segalanya. Akhirnya, dia merasa tahu segala-galanya.

Berbeda dengan mereka yang nggak tahu sama-sekali. Orang yang nggak tahu sama sekali justru berpotensi masih bisa diajari gimana cara-cara yang benar dan apa yang sebaiknya dilakukan. Misalkan saja, saya ibaratkan dua orang yang sedang mengendarai motor. Ada si A dan si B.

Si A dan si B sama-sama punya tujuan ke suatu pantai. Mereka sama-sama berangkat dari  tempat yang sama. Bedanya, si A nggak tau tujuan sama sekali dan bagaimana alur jalan yang benar menuju pantai. Sementara itu, si B tau hanya setengah jalan menuju pantai. Namun, karena nggak ingin salah jalan, si A akhirnya bertanya terlebih dahulu ke orang-orang yang pernah pergi ke pantai tersebut. Si A memastikan arah jalan sudah benar dan juga menyesuaikan peta sesuai dengan omongan orang tersebut.

Sementara itu, si B yang tahu setengah jalan merasa sudah tahu segalanya. Akhirnya, si B tersesat di tengah perjalanan. Si A pun akhirnya sampai juga ke lokasi lebih cepat daripada si B. Nasib si B? ia akhirnya sampai juga di pantai setelah lama mencari jalan sampai ke pantai akibat ke sok tahuannya.

Inilah pentingnya update ilmu. Anda nggak bisa cuma mengandalkan ilmu saat ini. Sebab, ilmu itu berkembang terus sesuai zaman. Kalau anda nggak ingin ketinggalan dengan teman anda, selalu update terus ilmu anda