Jangan Boros Selama “New Normal”, Ada 3 Pertimbangannya

Jangan Boros Selama “New Normal”, Ada 3 Pertimbangannya

Sebagai pengusaha, saya sendiri nggak bakalan nyangka kalau dunia bisnis bakalan gonjang-ganjing. Gara-gara virus kecil bernama corona, nggak cuma sisi kesehatan aja yang kena. Sisi lain seperti industri bisnis kena dampaknya.

Wah, dulunya para pengusaha selalu ngira kalau m

Jangan Boros Selama “New Normal”, Ada 3 Pertimbangannya.

Saya yakin pertanyaan “kapan pandemi berakhir?” ini selalu terngiang-ngiang di kepala anda-anda sekalian akhir-akhir ini. Saya pun, demikian. Wajar kita menunggu. Sebagai bagian masyarakat dunia yang juga ingin kondisi ini cepat berakhir, saya pun selalu menunggu momennya: keluar sudah tidak was-was lagi, geliat usaha bangkit lagi. Itu harapan kita semua.

Bicara kebijakan pemerintah, Indonesia ini beda treatmentnya. Masyarakat kita belum bisa jika disamakan dengan negara maju yang masyarakatnya mudah diatur. Selain itu, faktor padatnya penduduk juga mempengaruhi virus ini menyebar cepat. Kita cuma bisa berusaha menekan lajunya.

Setelah PSBB, beberapa kota di Indonesia udah mulai menerapkan yang namanya new normal. Kita mau nggak mau hidup berdampingan dengan virus menyebalkan ini. Kita di titik menerima kenyataan. Vaksin saja paling cepat tersedia satu dua tahun, loh.

Melihat kondisi yang begini, sudah seharusnya kita kembali merevisi banyak hal, termasuk diantaranya status keuangan kita. Hemat, hemat, dan hemat!

Saya paparkan 3 poin penting kenapa seharusnya anda nggak boleh boros selama masa pandemi ini:

  1. Pemulihan Ekonomi Selama Masa New Normal Berangsur Secara Bertahap
    “New Normal” memang diharapkan bisa memperbaiki keadaan ekonomi. Cuman, semua itu berlangsung bertahap. Secara statistik yang saya baca di suatu media, pekerja Indonesia itu saat ini ada 133 Juta. Dari angka 133 juta itu, 55-70 jutanya pekerja informal.  60% angkatan kerja kita berada di sektor informal. Presentasenya terbalik. Harusnya, angka mereka yang kerja di sektor formal lebih besar daripada informal.

    Di masa pandemi, pekerja sektor informal lah yang paling terdampak. Ini tantangan besar, yang nggak bisa diselesaikan sehari dua hari saja sembuh. Perppu pemulihan ekonomi juga masih terus diperbaiki biar dunia usaha bangkit lagi.

  2. Konsumsi Masyarakat Tak Banyak Naik Signifikan Setelah New Normal Dimulai 
    Harapan semua produsen di Indonesia tentu ingin dagangan kembali laku setelah penerapan new normal ini. Faktanya, sebagian masyarakat kita (konsumen) turun status ekonominya selama masa pandemi. Daya beli pun tentu belum bisa naik cepat. Buat produsen, harus sabar mendapat pemasukan.

  3. Masa depan? Selalu Misteri. Pengeluaran? Pasti
    Masa depan itu semacam misteri, kita tak bisa menebak alurnya. Namun, pengeluaran itu pasti. Berjaga-jaga dari sekarang dengan selalu berhemat di keuangan akan membuat diri anda lebih siap dengan hal tak terduga yang akan datang

Sekarang, keputusan ada di tangan anda. Mau hemat atau boros? Anda yang mengerti diri yang terbaik bagi anda sendiri.