PUNYA KARTU KREDIT LIMIT BESAR TAPI BPJS MASIH DIBAYARIN NEGARA? MENKES: “YA NGGAK LAYAK DONG!”

Baru-baru ini, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin lagi banyak dibicarakan karena pernyataan konroversialnya soal krieria peserta BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Buat yang belum tau, PBI adalahh layanan BPJS Kesehatan gratis yang iurannya dibayar penuh oleh pemerintah. Ini dikhususkan untuk orang-orang yang kurang mampu. Tapi pada praktiknya, masih ada yang secara ekonomi berkecukupan tapi ikut nebeng di program ini.

Limit Kartu Kredit Jadi “Filter” Kekayaan

Menkes secara blak-blakan menyebut kalau data peserta PBI akan dilakukan penyaringan leih ketat lagi. Salah satu cara pengecekannya adalah lewat kepemilikan kartu kredit dan tagihan listrik.

Dalam rapat bersama komisi IX DPR RI, sempat disinggung angka yang bisa bikin orang kaget. Ternyata, masih ada orang yang tergolong kategori PBI tapi ternyata punya limit kartu kredit Rp 20 juta sampai Rp 50 juta. Sudah jelas nggak layak!

Menkes mengatakan kalau punya kartu kredit limit Rp50 juta, sudah pasti bukan PBI. Atau kalau listriknya 2.200 VA, itu juga seharusnya bukan PBI. Logikinya begini: kalau bisa punya limit kartu kredit sebesar itu atau bisa bayar listrik daya tinggi, kenapa iuran BPJS mandiri yang Cuma puluhan ribu rupiah nggak sanggup?

Kenapa Harus Dibenahi?

Mungin banyak yang bertanya di luar sana kenapa datanya harus dirapikan?

Ini sudah tergolong masalah serius. Gara-gara data yang berantakan ini sekitar 120 ribu peserta PBI dengan penyakit berat seperti gagal ginjal atau kanker sempat dinonaktifkan mendadak. Ini terjadi karena pemerintah sedang melakukan validasi ulang dengan tujuan subsidi bisa jatuh  ke tangan yang tepat.

Menkes ingin uang negara dipakai untuk mereka yang benar-benar kesulitan, bukan buat subsidi untuk mereka yang sebenarnya masuk kategori mampu.

Kabar Baik Bagi yang Terdampak

Menkes sudah melakukan reaktivasi otomatis selama tiga bulan bagi pasien dengan penyakit berat yang terdampak penonaktifan ini. Ini bertujuan agar pengobatan mereka tidak terbutus karena urusan administrasi.

Di samping itu, rumah sakit juga diminta untuk tetap melayani pasien PBI dan tidak perlu khawatir soal pembayaran, karena pemerintah menjamin iurannya akan tetap dibayarkan melalui Kementerian Sosial.

Kesimpulan

Langkah bersih-bersih data ini sebenarnya kabar baik untuk kita. Diharapkan dengan sistem yang lebih adil, nggak adalah warga miskin yang haknya’dirampas’ oleh mereka yang sebenarnya mampu.

Jadi, buat orang-orang yang punya kartu kredit limit besar atau rumah dengan listrik gede, yuk sadar diri dan pindah ke kepesertaan mandiri. Biar jatah PBI bisa dipakai oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.

BERKACA DARI KASUS CAMAT DI MEDAN: MAIN JUDOL HINGGA RP 1,2 MILIAR PAKAI KARTU KREDIT PEMERINTAH!

Ada yang pernah dengar istilah ‘the house always wins’?

Ini adalah istilah yang bisa kalian temukan di dunia perjudian, yang mengingatkan kalau pemain hampir tidak mungkin menang melawan sistem.

Baru-baru ini, ada berita viral yang bisa bikin kta geleng-geleng kepala. Ini bukan soal menang banyak, tapi soal penyalahgunaan kekuasaan dan dana negara demi judi online(judol). Berita ini datang dari Medan, di mana ada seorang cama yang nekat memakai fasilitas kartu kredit pemerintah untuk bermain slot.

Bagaimana kronologinya?

  1. Bermulai dari Kartu Kredit Pemerintah

Setiap instansi pemerintah akan mendapatkan yang namanya Kartu Kredit Pemerintah yang berfungsi untuk memudahkan transaksi belanja keperluan instansi sencara transparan dan non-tunai. Jadi, kalau semisal ada keperluan mendesak, nggak perlu pakai uang pribadi dulu,

Sayangnya, fasilitas yang harusnya bisa mempermudah kerja ini, malah disalahgunakan oleh eks caman bernama Maimun. Alih-alih dipakai untuk bayar keperluan instansi, limit kartu kreditnya malah dihabiskan buat deposit di situs judol!

 

  1. Total Uang Bernilai Fantastis: Rp 1,2 Miliar

Total uang yang dipakai untuk judol senilai Rp 1,2 miliar! Dengan uang segitu, sudah berapa banyak fasilitas umum yang bisa dibangun?

Inilah bahaya dari kecanduan judi online. Logika dan rasa tanggung jawab seseorang hilang seketika ketika sudah terjerumus ke dunia perjudian. Dorongan untuk ‘balik modal’ atau berharap bisa menang besar bikin si pelaku nekat melakukan segala cara, termasuk menggunakan uang yang bukan haknya.

 

  1. Akhir yang Menyedihkan: Jabatan Hilang, Sanksi di Depan Mata

Di dunia ini, nggak ada yang namanya kejahatan sempurna—apalagi yang berurusan dengan uang negara. Karena sistem audit pemerintah yang sudah semakin ketat, kejahatan ini akhirnya tercium juga.

Akhirnya? Dikutip dari beberapa sumber, camat tersebut reski dicopot dari jabatannya. Tidak sampai di situ, dia juga harus menghadapi sanksi berat sesuai dengan aturan ASN yang kemungkinan besar harus berurusan dengan aparat penegak hukum demi mempertanggungjawabkan uang yangsudah disalahgunakan.

Kejadian ini bisa menjadi tamparan keras buat kita semua. Jangan pernah menyetuh judi onlin, apalagi sampai menyalahgunakan kepercayaan orang lain.

KERINGANAN TAGIHAN KARTU KREDIT DIPERPANJANG, BEGINI RESPONS BANK SWASTA

Sejumlah bank swasta angkat bicara perihal langkah Bank Indonesia yang kembali memperpanjang keringanan bayar tagihan dan denda kartu kredit hingga 30 Juni 2026.

Meliza M. Rusli selaku Direktur Utama Bank Permata menjelaskan perpanjangan aturan bayar minimum kartu kredit 5% masih efektif untuk menjaga level kredit macet (non-performing loan/NPL) karena masih ada nasabah yang terdampak positif kebijakan ini.

Walaupun begitu, sebagian besar target market kartu kredit Permata Bank merupakan segmen menengah ke atas, secara perilaku pembayaran cenderung membayar penuh dan tepat waktu pda saat jatuh tempo.

Di sisi layanan transfer, perpanjangan tarif murah Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) ikut mendorong kenaikan transaksi. Perseroan mencatat volume transaksi meningkat rata-rata 15% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Tarif murah bukan satu-satunya penentu di masa depan. Ini dikarenakan nasabah kini semakin mempertimbangkan faktor kecepatan, kenyamanan, dan inovasi layanan transfer.

Kehadiran alternatif seperti BI-FAST, RTGS, dan platform digital yang menawarkan biaya rendah dan proses instan bisa mengurangi dominasi SKNBI, walaupun tarifnya tetap murah.

Walaupun perpanjangan tarif murah bisa mendorong kenaikan transaksi, pertumbuhan jangka panjang akan bergantung pada kombinasi biaya, kecepatan, dan prefeerensi nasabah terhadap layanan transfer yang lebih modern.

Sementara itu, BCA menyikapi kebijakan ini dengan memperkuat proses credit scoring dan monitoring secara berkala. Langkah dilakukan perseroan utnuk menjaga kualitas portofolio kredit yang disalurkan.

Pihak BCA juga menyelesaikan solusi bagi nasabah dalam rangka memitigasi risiko dan menghindari potensi peningkatan NPL, serta menjaga kualitas layanan agar tetap terjaga.

Perlu diketahui jika otoritas moneter kembali memperpanjang kebijakan kartu kredit, seiring dengan perpanjangan kebijakan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

Seharusnya kebijakan ini berakhri pada 31 Desember 2025. Dalam RDG bulanan pada Juni 2025, Perry Warjiyo slaku Gubernur BI mengumumkan  jika kebijakan SKNBI dan kebijakan kartu kredit diperpanjang hingga 31 Januari 2025.

Yang terbaru adalah otoitas moneter kembali mengumumkan perpanjangan kedua kebijakan ini hingga 30 Juni 2026. Perpanjangan kebijakan ini melingkupi kebijakan batas minimum pembayaran oleh pemegang kartu kredit 5% dari total tagihan dan kebijakan nilai denda keterlambatan sebesar maksimum 1% dari total tagihan serta tidak melebihi Rp 100.000.

Selain itu, perpanjangan kebijakan tarif SKNBI meliputi SKNBI sebesar Rp 1 dari Bank Indonesia ke bank dan tarif SKNBI maksimum Rp 2.900 dari bank ke nasabah.

Ini dinilai perpanjangan waktu implementasi batas minimum pembayaran kartu kredit 5% memberikan fleksibilitas bagi nasabah dalam mengelola arus kas. Pihak BCA mengungkapkan bahwa mereka senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian melalui pemantauan kualitas protofolio secara berkelanjutan.

GEMINI & SOLANA KOLAB!  ADA KARTU KREDIT DENGAN STAKING OTOMATIS!

GEMINI & SOLANA KOLAB! ADA KARTU KREDIT DENGAN STAKING OTOMATIS!

Gemini selaku Bursa Kripto Global meluncurkan edisi kartu kredit khusus bermerek Solana yang menawarkan fitur staking otomatis untuk hadiah dalam bentuk token dari SOL.

Gemini mengatakan kartu kredit baru ini bisa memungkinkan pengguna menunjukkan dukungan terhadap ekosistem Solana sekaligus mendapatkan hasil dari pengeluaran harian mereka.

Pemegang kartu bisa mendapatkan cashback hingga 4%  dalam bentuk Solana untuk kartu kategori seperti bahan bakar, pengisi daya kendaraan listrik, dan layanan rideshare, dan juga 10% untuk transaksi dengan mitra tertentu.

Hadiah Solana tersebut dapat secara otomatis di-stake di Gemini. Stake ini juga memiliki potensi imbal hasil hingga 6,77%. Hal ini menjadikan aktivitas belanja sebagai strategi penghasilan pasif.

Peluncuran ini memmperkuat momentum Solana sebagai salah satu kripto paling aktif. Gemini sendiri mencatat jika pengguna yang menahan hadiah Solana mereka selama setahun terakhir mendapatkan keuntungan hampir 300%

Kartu ini tidak memiliki biaya tahunan ataupun biaya transaksi internasional, menawarkan hadiah fleksibel dalam berbagai aset kripto, serta mencakup beragam keuntungan dari Mastercard World Elite. Adapun kartu kredit ini diterbitkan oleh WebBank.

WASPADA MODUS BARU BOBOL KARTU KREDIT! KORBAN SUDAH BANYAK!

WASPADA MODUS BARU BOBOL KARTU KREDIT! KORBAN SUDAH BANYAK!

Penipuan dengan target pencurian uang makin marak di mana-mana dengan modus yang beragam. Para penjahat online sudah mulai menggunakan alat-alat yang makin canggih dan mudah diakses agar bisa menangkap korbannya.

Peneliti keamanan siber mengungkap ada alat penipuan (Phishing-as-a-Service. PhaaS) terbaru yang bernama Dracula. Alat ini sudah membantu banyak penipu online untuk mencuri hampir 1 juta akses kartu kredit dalam jangka waktu setahun.

Berdasarkan analisis dari NRK, Bayerischer, Rundfunk, Le Monde, dan Mnemonic, hanya dalam kurun waktu 7 bulan sejak 2023 hingga 2024, alat ini sudah melayani 600 operator.

Para penjahat bisa mengumpulkan 13 juta klik ke tautan berbahaya lewat pesan singkat yang targetnya adalah korban di seluruh dunia. Hasilnya, para penipu ini bisa mencuri 884.000 akses kartu kredit.

Dracula berfokus ke pengguna HP dan iOS. Alat ini menggunakan 20.000 domain yang menyamar sebagai merek terkenal yang resmi untuk menjebak korban agar mengklik tautan berbahaya tersebut.

Cara penyebarannya adalah via platform chat RCS dan iMessage, sehingga lebih elefktif dalam menyebarkan serangan ketimbang melalui SMS.

Yang lebih parahnya lagi, Dracula memungkinkan penggunanya secara otomatis membuat kit phishing dengan kedok merek ternama. Hampir semua merek tersebut bisa disamarkan.

Alat ini juga bisa mengubah kartu kredit menjadi kartu virtual dan dengan bantuan Kecerdasan Buatan Generatif (GenAI), mereka bisa membuat pesan phishing dalam hampir semua bahasa dan hampir semua topik.

Ada dugaan bahwa operator Dracula berasal dari China, karena sebagian besar komunikasi dilakukan dalam grup Telegram tertutup dan dalam bahasa China.

Para peneliti juga mengamati jaringan SIM dan pengaturan perangkat keras yang bisa memungkinkan operator menawarkan pesan teks massal dan pemrosesan kartu kredit melalui terminal.

Laporan September 2024 dari peneliti keamanan Zimperiuim mengatakan empat dari lima (82%) dari semua situs phishing saat ini menargetkan perangkat seluler, dengan alasan perangkat tersebut biasanya lebih lemah dan lebih sering tidak dikelola jika dibandingkan dengan komputer desktop atau pun laptop.

Cari paling ampuh agar terhindari dari jeratan penipu online ini adalah selalu skeptic dengan jenis pesan yang masuk ke HP, terutama yang berisi link atau dokumen tertentu yang sifatnya menakut-nakuti dengan hal yang seolah-olah darurat.

Mengklik tautan di email atau pesan singkat sangat berisiko. Ada kemungkinan tautan tersebut berisi malware penipuan yang bisa membuat korban kehilangan uangnya. Jadi tetap berhati-hatilah di internet!

Lacus Eget Arcu Dignissim

[vc_row][vc_column width=”1/1″][mk_padding_divider size=”40″][mk_dropcaps style=”fancy-style”]S[/mk_dropcaps][vc_column_text disable_pattern=”true” align=”left” margin_bottom=”0″ p_margin_bottom=”20″ width=”1/1″ el_position=”first last”]

uspendisse blandit ligula turpis, ac convallis risus fermentum non. Duis vestibulum quis quam vel accumsan. Nunc a vulputate lectus. Vestibulum eleifend nisl sed massa sagittis vestibulum. Vestibulum pretium blandit tellus, sodales volutpat sapien varius vel. Phasellus tristique cursus erat, a placerat tellus laoreet eget. Fusce vitae dui sit amet lacus rutrum convallis. Vivamus sit amet lectus venenatis est rhoncus interdum a vitae velit.Suspendisse blandit ligula turpis, ac convallis risus fermentum non. Duis vestibulum quis quam vel accumsan. Nunc a vulputate lectus. Vestibulum eleifend nisl sed massa sagittis vestibulum. Vestibulum pretium blandit tellus, sodales volutpat sapien varius vel. Phasellus tristique cursus erat, a placerat tellus laoreet eget. Fusce vitae dui sit amet lacus rutrum convallis. Vivamus sit amet lectus venenatis est rhoncus interdum a vitae velit.

[/vc_column_text][mk_blockquote style=”line-style” text_size=”18″ align=”left” width=”1/1″ el_position=”first last” font_family=”none”]Suspendisse blandit ligula turpis, ac convallis risus fermentum non. Duis vestibulum quis quam vel accumsan. Nunc a vulputate lectus. Vestibulum eleifend nisl sed massa sagittis vestibulum.[/mk_blockquote][vc_column_text disable_pattern=”true” align=”left” margin_bottom=”0″ p_margin_bottom=”20″ width=”1/1″ el_position=”first last”]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque quis eros lobortis, vestibulum turpis ac, pulvinar odio. Praesent vulputate a elit ac mollis. In sit amet ipsum turpis. Pellentesque venenatis, libero vel euismod lobortis, mi metus luctus augue, eget dapibus elit nisi eu massa. Phasellus sollicitudin nisl posuere nibh ultricies, et fringilla dui gravida. Donec iaculis adipiscing neque, non congue massa euismod quis. Etiam interdum dolor sit amet justo vulputate, non mollis velit venenatis. Morbi eu nunc nunc. Phasellus lacus magna, dapibus vitae pellentesque sit amet, venenatis ac purus. Interdum et malesuada fames ac ante ipsum primis in faucibus. Donec volutpat bibendum diam eget posuere. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Aliquam adipiscing pretium tortor, eget pretium nulla ullamcorper id. Nullam ac nunc at lectus elementum vestibulum sit amet vitae dui. Donec ut gravida lorem.

Cras tristique turpis justo, eu consequat sem adipiscing ut. Donec posuere bibendum metus. Quisque gravida luctus volutpat. Mauris interdum, lectus in dapibus molestie, quam felis sollicitudin mauris, sit amet tempus velit lectus nec lorem. Nullam vel mollis neque. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam vel enim dui. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Sed tincidunt accumsan massa id viverra. Sed sagittis, nisl sit amet imperdiet convallis, nunc tortor consequat tellus, vel molestie neque nulla non ligula. Proin tincidunt tellus ac porta volutpat. Cras mattis congue lacus id bibendum. Mauris ut sodales libero. Maecenas feugiat sit amet enim in accumsan.

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

MASSA SIT AMET ARCU

[vc_row fullwidth=”false” attached=”false” padding=”3″][vc_column width=”1/1″][mk_padding_divider size=”20″][mk_fancy_title tag_name=”h2″ style=”false” color=”#393836″ size=”20″ font_weight=”inhert” letter_spacing=”0″ margin_top=”0″ margin_bottom=”0″ align=”left”]psum dolor sit amet[/mk_fancy_title][mk_padding_divider size=”20″][mk_dropcaps style=”fancy-style”]V[/mk_dropcaps][vc_column_text disable_pattern=”false” align=”left” margin_bottom=”0″]

ivamus auctor congue erat. Cras auctor, quam et adipiscing egestas, enim tellus eleifend sem, vel ullamcorper mi est ac urna. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Vestibulum fringilla, turpis id iaculis ullamcorper, felis massa ultricies nulla, sit amet viverra tortor lectus ac dolor. Integer tristique ullamcorper urna sit amet blandit. Vivamus eget mi nisl. In augue lectus, blandit eget felis vitae, tristique feugiat dui. Curabitur facilisis vitae tellus sit amet placerat. Aenean blandit sapien quis magna pretium, non pellentesque mi laoreet. Duis elementum id erat et tincidunt. Sed id tristique nibh. Duis consectetur tortor diam, vel tristique mauris tincidunt eget. Maecenas feugiat nibh eget justo consequat, mattis convallis lacus rhoncus. Sed suscipit ante blandit viverra vehicula. Nulla adipiscing tortor sagittis volutpat auctor. Fusce laoreet mollis ante, vitae lobortis nunc dictum eget.

[/vc_column_text][mk_padding_divider size=”20″][mk_blockquote style=”quote-style” text_size=”18″ align=”left” font_family=”none”]

Pellentesque suscipit nibh tortor. Integer lacus enim, faucibus et mattis hendrerit, ultrices ac mi. Nam eget pretium tellus. Pellentesque id purus arcu. Cras non luctus erat, vitae lacinia orci. Mauris urna sapien, porttitor at sapien eget, vehicula convallis massa.

[/mk_blockquote][mk_padding_divider size=”20″][vc_column_text disable_pattern=”false” align=”left” margin_bottom=”0″]

Sit amet blandit. Vivamus eget mi nisl. In augue lectus, blandit eget felis vitae, tristique feugiat dui. Curabitur facilisis vitae tellus sit amet placerat. Aenean blandit sapien quis magna pretium, non pellentesque mi laoreet. Duis elementum id erat et tincidunt. Sed id tristique nibh. Duis consectetur tortor diam, vel tristique mauris tincidunt eget. Maecenas feugiat nibh eget justo consequat, mattis convallis lacus rhoncus. Sed suscipit ante blandit viverra vehicula. Nulla adipiscing tortor sagittis volutpat auctor. Fusce laoreet mollis 

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Modal Usaha Anti Ribet

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut.

1 / 4

Apakah kamu memiliki Jaminan?

2 / 4

Jenis Jaminan:

3 / 4

Plafond yang ingin diajukan:

4 / 4

Kota lokasi jaminan:

This will close in 0 seconds



This will close in 20 seconds