Cara Mudah Memahami Ilmu Kartu Kredit (2)

Cara Mudah Memahami Ilmu Kartu Kredit (2)

Minggu lalu kita sudah membahas tentang “Mempelajari Bahasa sebagai salah satu tips dalam memahami ilmu kartu kredit maupun ketrampilan lainnya“.

Setelah pemahaman bahasa, hal kedua yang perlu Anda perhatikan adalah Alur.

ALUR

Alur sendiri dapat kita ibaratkan sebagai seseorang yang berprofesi sebagai tukang talang. Ketika rumah Anda bocor, tukang talang tentu akan melakukan pengecekan alur keluar masuknya air.

Air masuk darimana dan turun kemana, tukang talang harus memeriksa satu persatu agar tahu dimana letak kebocorannya.

Permasalahan ini sama halnya dengan kartu kredit, kita juga harus paham mengenai ALUR.

Ketika step pertama sudah Anda lakukan, tentu akan ada step-step  selanjutnya yang harus Anda selesaikan.

Sebagai contoh ketika Anda apply  kartu kredit, maka pertama kali yang harus Anda pahami adalah BI Checking.

Setelah BI Checking  aman, maka pihak bank akan melihat data-data Anda yang lain.

Jadi ketika Anda konsultasi tentang masalah kartu kredit yang ditolak, Anda pun harus pelajari alur atau step by stepnya terlebih dahulu mengapa kartu kredit Anda tertolak.

Saya pribadi memiliki cara yang terbilang mudah untuk mendeteksi.

Anda di tolak sebelum survey atau di tolak setelah survey ?

 

Jika sebelum survey  Anda sudah di tolak, jelas data Anda yang tidak beres.

Namun jika Anda di tolak setelah survey, maka data Anda mungkin sudah memenuhi syarat tetapi saat melakukan wawancara Anda yang tidak beres.

Sebagai contohnya ada kejadian yang pernah dialami oleh murid Saya dulu.

Setiap apply  kartu ia selalu di tolak, akhirnya Saya penasaran dan mulai menelusuri alur-alurnya.

Saya bertanya mengenai beres tidaknya BI Checking, ia pun menjawab sudah beres.

Setelah itu Saya kembali bertanya, saat maju apply  kartu profesinya sebagai karyawan atau pengusaha, dan ia menjawab sebagai seorang karyawan (guru).

Artinya data beserta KTP, NPWP, slip gaji dan sebagainya tidak ada masalah, dari sini masih baik-baik saja dan otomatis kita berlanjut ke alur berikutnya.

Kemudian Saya bertanya mengenai gaji yang ia tuliskan.

Ia menjawab “Saya menuliskan Rp 80.000.000,-/bulan” dan disitu Saya langsung terdiam.

Apa yang Salah ?

Mengajukan kartu kredit sebagai guru dengan gaji sebesar Rp 80.000.000,-

 

Tentu tidak masuk akal dan pantas saja jika di tolak secara terus-menerus.

Saya katakan sekali lagi, jika Anda ingin menguasai segala bidang, Anda harus paham mengenai bahasa dan alur apa saja yang harus dilewati dan diselesaikan.

Jika Anda sudah mempelajari dan paham dengan 2 cara ini, maka 90% Anda akan menguasainya

Kemudian apa step ketiganya?

Step ketiganya tidak lain tidak bukan adalah praktek atau action.

PRAKTEK atau ACTION

Ketika Anda gagal dalam praktek, maka cobalah kembali.

Jika gagal lagi, tetap coba lagi sambil melihat dimana letak permasalahan serta apa penyebab Anda bisa kegagalan.

Merasa bisa dan bisa karena pengalaman itu berbeda.

Salah satu alumni Saya di Credit Card Revolution membuka usaha yang lumayan menjanjikan.

Ia membuat bisnis dan saat ini cabang bisnisnya ada dimana-mana.

Ia membuka bisnis kuliner dengan berjualan indom*e sebagai bahan pokok. Tentu Anda pasti akan menyepelekan.

Jualan Indom*e Siapa yang Tidak Bisa?

 

Namun ketika Anda mempraktekan, belum tentu Anda bisa mendapatkan pencapaian sesukses itu.

Inilah Saya katakan bahwa “Merasa bisa dan bisa karena pengalaman atau berlatih” sangat jauh berbeda.

Kita pun juga sama, ketika kita merasa bisa ditambah kita tidak pernah berlatih ataupun praktek, you are nothing.

Maka yang harus Anda lakukan adalah latihan, latihan dan latihan secara terus-menerus.

Anda mengikuti workshop  Saya yang bayarnya mahal, workshop yang Anda ikuti memang berbayar tetapi latihannya gratis.

Terkadang Anda hanya mau bayar-bayar tetapi dalam berlatih sesuatu hal yang jelas-jelas gratis justru tidak Anda dilakukan. Tentu hal ini sangat disayangkan.

Ketika Anda apply  kartu kredit untuk pertama kalinya, mungkin Anda di tolak atau tidak lancar.

Tetapi hal seperti ini jangan sampai membuat Anda putus asa, lakukan evaluasi dan teruslah mencoba.

Jika tidak paham, pelajari dulu bahasanya kemudian pahami alurnya dan jangan lupa untuk terus berlatih.

Dengan mempelajari 3 hal ini, Saya yakin Anda mau mempelajari apapun akan terasa mudah. Trust me!

Share if you like this. 🙂

Antara Mental dan Pengusaha Newbie Jaman Sekarang

Antara Mental dan Pengusaha Newbie Jaman Sekarang

Semenjak meninggalnya Om Bob Sadino serta kejatuhan Entrepreneur University, pola pendidikan entrepreneur sedikit demi sedikit mulai berubah.

Apalagi dengan lahirnya gerakan anti hutang, membuat para newbie semakin takut untuk mengalami yang namanya kegagalan. 

Berkaca dari kegagalan masa lalu mengenai konsep,

” Action dulu aja, mikirnya belakangan 

Melahirkan konsep MIKIR TERUS

 

 

Keuntungan dari materi tersebut mungkin membuat resiko kegagalan menjadi menurun, namun kelemahannya lahirlah entrepreneur-entrepreneur yang takut dengan kegagalan atau maaf bahasa kasarnya “Entrepreneur bermental tempe“.

Alhasil karirnya hanya mentok sampai situ-situ saja tanpa kemajuan.

Kalau kata sahabat Saya Mas Agus Piranhamas

“Bangga dengan status entrepreneur tapi merasa cukup dengan penghasilan Rp 5.000.000,- per bulan”

Disarankan untuk men-scale up atau mengembangkan bisnis, nyatanya lagi-lagi takut dengan kegagalan.

Gagal sedikit sudah mengeluh, entah dengan membuat status-status di social media hingga nyindir-nyindir mentornya.

Perkembangan mereka dinilai seperti anak kecil yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya, “Jangan ini, jangan itu“.

Nyatanya esensi entrepreneur sesungguhnya HARUS TANGGUH, BERANI MENGAMBIL RESIKO DAN MAMPU MENGHADAPI MASALAH BERAT SEKALIPUN

TIDAK SEDIKIT PENGUSAHA BESAR LAHIR DARI KEGAGALAN-KEGAGALAN YANG EKSTRIM

Kecuali untuk golongan orang-orang yang memiliki jantung lemah.

Golongan jantung lemah tidak perlu menggunakan hutang, tidak perlu berurusan dengan yang namanya resiko tinggi, hidupnya cukup dengan pasrah dan bersyukur.

Digantikan oleh resep mie instan anti gagal, anti hutang, anti kena tipu dan alih-alih jaminan 100% sukses tanpa resiko.

Teringat petuah sahabat Saya Ridwan Raharjo,

Ciri ciri orang susah itu adalah orang yang gak mau susah 

Mereka lebih puas dengan gelar S3 (Segitu Segitu Saja)

Daripada S4 (Susah Senang Sudah Semua)

nb : ini hanya presepsi saya 🙂

Share if you like this. 🙂

Pentingnya Cashflow dalam Perjalanan Bisnis

Pentingnya Cashflow dalam Perjalanan Bisnis

Kali ini Saya akan sharing mengenai topik yang sangat menarik untuk Anda simak.

Namun berbeda dari sebelumnya, dalam pembahasan kali ini Saya tidak sendirian dalam memberikan analisa, melainkan bersama beberapa rekan yang memang sudah ahli di bidang cash flow, beliau adalah Coach Angky dan Coach Dania.

Mungkin sebagai Roy Shakti Pakar Kartu Kredit, Saya sering menemui orang-orang yang bermasalah di bidang kartu kredit.

Ibaratnya seperti orang yang terkena AIDS. Penyakit AIDS tentu bermula dari HIV.

Nah, pertanyaannya sekarang HIV sendiri mulanya darimana sehingga dapat menyebabkan penyakit AIDS.

Sama halnya dengan orang yang bermasalah dengan hutang

Pasti ada indikator-indikator yang menyebabkan hutang itu bisa tumbuh menjadi suatu permasalahan

Menurut coach Dania, tidak sedikit orang yang datang membawa masalah yang sudah sangat berat saat beliau menjadi mentor.

Ibaratnya ia sudah berpegangan hanya dengan dua jarinya di ujung jurang, kemudian ia meminta tolong kepada orang yang jaraknya 500 meter dari dirinya.

Tentu saja yang bisa kita lakukan hanya mendoakan supaya ia tidak jatuh ke jurang.

Jika sudah “kepepet” baru minta tolong

Hal ini tentu akan membahayakan bisnis Anda

Lalu seperti apa tanda awal dalam dunia cash flow system?

Coach Dania mengatakan jika kita sudah berbicara mengenai cash flow, hal pertama yang harus diperhatikan adalah “Apakah modal kerjanya terus digerogoti?”.

Sebab banyak sekali orang yang lupa bahwa dirinya sebenarnya juga harus menerima gaji.

Jika diabaikan, maka modal tersebut akan habis karena diambil secara terus-menerus.

Contoh kasus lain adalah ketika membeli bahan kepada supplier.

Supplier memberikan piutang karena sudah mempercayai kita sebagai pelanggannya, sebab dalam transaksi seringkali kita membayar secara cash dan teratur.

Ketika supplier sudah memberikan tempo, si pengusaha menganggap uang yang dimilikinya adalah miliknya, padahal uang yang dipegang adalah uang supplier yang belum dibayarkan.

Tidak sedikit kejadian seperti ini.

Saat hutang kita sudah mulai bertambah walaupun cash kita juga ikut bertambah, maka hal yang perlu diperhatikan adalah …

Seberapa besar cash kita bertambah dan seberapa besar hutang kita bertambah?”

Setelah itu pastikan apakah benar omset yang Anda peroleh mengalami kenaikan atau justru harga bahan bakunya naik dan menyebabkan semakin tipisnya profit yang didapatkan.

Tidak sedikit orang yang berhalusinasi bahwa ketika hutang bertambah maka otomatis penghasilan juga akan ikut bertambah, padahal kenyataanya tidak seperti itu.

Saat ini berapa orang yang memiliki laporan keuangan dalam bisnisnya?

Anda mungkin sudah mempunyai laporan keuangan yang dikelola oleh para staf Anda, tetapi apakah Anda bisa membaca laporan keuangan tersebut?

Atau justru Anda hanya mengetahuinya sebagai laporan saja, jika dilihat profit, ya sudah.

Terkadang masalah timbul bukan karena hutang, tetapi masalah timbul dari ketidakmampuan kita dalam membaca cash flow

Akhirnya kita menjalankan bisnis hanya dengan modal asumsi saja.

Dan ketika cash flow sudah kacau, otomatis akan mempengaruhi SOP.

Banyak orang-orang yang tidak sadar akan terjadinya kebocoran-kebocoran yang sifatnya tidak ada hubungannya dengan uang tetapi kenyataannya sangat berhubungan sekali.

Coach Angky selaku spesialis membimbing perusahaan-perusahaan bersertifikat ISO mengatakan bahwa terdapat 2 hal dalam hutang, yaitu hutang positif dan hutang negatif.

Akan menjadi positif ketika hutang tersebut digunakan untuk mengembangkan bisnis agar bisnis tersebut menjadi lebih baik.

Hal ini tentu saja tidak akan menimbulkan masalah.

Yang harus kita pahami disini ketika kita berhutang namun akhirnya justru membuat bisnis menjadi runtuh dan kacau.

Kenapa Bisnis Bisa Runtuh?

Sebab bisnis tersebut tidak memiliki cash flow, dan saat kita menutupinya dengan hutang, otomatis banyak SOP yang dilanggar.

Akhirnya semuanya menjadi kacau dan tidak terstruktur.

Namun yang menarik pada dasar penelitian saat ini justru agak berbeda.

Tidak adanya SOP dalam bisnis rupanya menjadi salah satu awal dari permasalahan kita terhadap hutang.

Contoh sederhananya, ketika berbisnis kita melihat bahwa omset kita terlihat sudah bagus, hitungan labanya pun sudah mencukupi, tetapi masalahnya hanya satu, kenapa tidak ada cash flow dan SOP dalam bisnis tersebut?

Ketika sebuah bisnis mempunyai SOP, kita akan mengetahui SOP nya seperti apa. Saat kita mendatangi gudang, ternyata bahan bakunya menggunung, maka sudah jelas keuntungannya berada pada bahan baku.

Sebaliknya ketika tidak ada SOP kemudian ditambah tidak ada barang di gudang, kita pasti akan berpikir dimana keuntungannya?

Ternyata banyak SOP yang dilanggar, salah satunya memberi piutang terlalu banyak hanya karena ingin dipercaya oleh konsumen, tetapi ketika ditagih, ternyata semua konsumennya bermasalah.

Artinya begitu pentingnya SOP sebagai bagian dasar sistemasi dari bisnis

Cash flow dan SOP sebenarnya bagian dari rangkaian, itulah kenapa kita membuat kelas Cashflow System Mastery.

SOP dan cash flow tidak dibutuhkan jika bisnis Anda jalankan secara single fighter, artinya Anda melakukan semua secara mandiri tanpa adanya karyawan.

Banyak pengusaha bermula dari single fighter, ketika semua dilakukan sendiri tentu tidak akan ada orang lain yang mengganggu bisnis Anda.

Lain halnya jika Anda sudah mulai mempekerjakan orang lain, tentu Anda harus lebih waspada dan berhati-hati.

Namun jika Anda mempunyai SOP, Anda tentu akan mempunyai sebuah parameter bernama KPI.

Jadi ketika menggunakan uang, kita akan tahu uang tersebut dipergunakan untuk apa.

Ketika bisnis Anda bermasalah, apakah Anda sudah mengetahui solusinya?

 

Hal pertama yang harus di pahami adalah Anda harus tahu “Kapan Bisnis Untung” dan “Kapan Bisnis Rugi”.

Pola penjualan tidaklah selalu mengalami kenaikan atau malah datar-datar saja, tetapi sifat penjualan itu  fleksibel bisa naik dan terkadang bisa juga mengalami penurunan.

Ada seseorang yang bisnisnya mengalami penurunan ketika bulan puasa, ada pula yang bisnisnya justru naik saat bulan puasa.

Setelah sudah mengetahui pola bisnis, kita juga harus tahu mengenai transaksi, cash dan piutang.

Transaksi, cash dan piutang tentu harus Anda hitung walaupun caranya sederhana.

Simple-nya saat kita sudah menggerogoti modal

Artinya “Bisnis Sudah Tidak Sehat”

Namun terkadang orang-orang masih berusaha untuk menipu dirinya sendiri dan menganggap semuanya baik-baik saja.

Maka dari itu kita harus tahu pola penjualan kita seperti apa.

Saya yakin saat ini banyak dari Anda yang sebenarnya bisnisnya sudah bagus, tetapi masih takut dan tidak punya keyakinan untuk berkembang.

Kondisi seperti itu dikarenakan ketiadaan parameter serta tidak adanya indikasi dan indikator.

Parahnya ia sendiri tidak mengetahui siapa yang mengendalikan profitnya sehingga ia merasa bisnisnya hanya gini-gini saja.

Kita sebenarnya mengetahui ada yang tidak beres dalam bisnis, tetapi kita sendiri tidak tahu darimana kita harus memperbaikinya.

Oleh sebab itu, Saya mengajak Coach Angky serta Coach Dania untuk membuat kelas Cashflow System Mastery yang bertujuan untuk menanggulangi bisnis kita supaya bisa berkembang dengan baik.

Jika faktor internal sudah bagus, otomatis faktor eksternal akan ikut berkembang bersama internal

Uang adalah akibat yang disebabkan oleh kita, oleh karena itu hanya kitalah yang bisa memperbaiki akibatnya

Bila kita tidak paham atau tidak punya kendali terhadap uang kita sendiri, maka yang ada kitalah yang akan dikendalikan oleh uang

Pertanyaannya, Anda MAU atau TIDAK ?

Share If You Like This. 🙂

Berani Ambil Sikap

Berani Ambil Sikap

Beberapa waktu yang lalu Saya mendapat konsultasi dari para alumni terkait masalah keuangan, bahkan tak jarang merambat sampai kepada permasalahan keluarga mereka.

Padahal notabene-nya Saya adalah seorang pakar kartu kredit dan bukan seorang pakar hubungan rumah tangga.

Nah, dari beberapa konsultasi yang masuk.

Saya menyimpulkan bahwa sebenarnya banyak orang atau bahkan mungkin diri Anda sendiri masih belum berani dalam mengambil sikap

Contohnya ketika Anda sudah tidak nyaman lagi dalam bekerja.

Namun Anda tetap memilih untuk berada di pekerjaan tersebut hanya karena ketidakberanian Anda untuk keluar dari pekerjaan.

Jika seperti itu keadaannya, maka yang ada hidup Anda semakin lama akan semakin berantakan.

Tidak akan ada kenyamanan yang bisa Anda dapatkan sampai Anda mau atau berani untuk mengambil tindakan.

Sama halnya ketika Anda bermasalah di kartu kredit.

Dalam permasalahan kartu kredit Anda belum mampu untuk melunasinya.

Jika kondisinya seperti itu, mungkin lebih baik memacetkan kartu kredit Anda.

Tapi kenyataannya Anda hanya membiarkan kejadian ini dengan cara gali lubang tutup lubang, gesek kartu lagi, apply kartu kembali atau mencari KTA untuk membayar kartu kredit.

Sebenarnya dalam hal ini Anda sudah menentukan pilihan.

Tetapi yang disayangkan pilihan Anda bukanlah pilihan yang terbaik, melainkan pilihan yang terburuk

Maka jangan pernah mengira jika masalah tersebut dibiarkan, makin lama akan semakin beres.

Yang ada masalah akan semakin parah.

Ingatlah bahwa hanya kita sendiri yang bisa menyelesaikan masalah kita

Hanya kita sendiri yang bisa menentukan masa depan kita

Maka mulailah untuk mengambil sikap atau tindakan, tidak perlu memikirkan hasil yang didapat nantinya akan bagus atau tidak.

Yang terpenting adalah Anda harus berani.

Jangan lagi menunda-nunda, sebab jika tidak dimulai dari sekarang maka akan semakin banyak waktu yang akan dikorbankan.

NOW OR NEVER! Jadi mulai ubah strategi Anda

Dunia ini sudah dipenuhi dengan pengecut, jangan sampai menambahkan diri Anda sebagai seorang pengecut.

Sekali lagi Saya katakan bahwa kita tidak akan pernah tahu keputusan yang kita ambil sudah benar atau salah.

Ini hanya masalah waktu.

Yang sudah pasti salah adalah ketika kita sama sekali tidak mau mengambil keputusan.

Oleh sebab itu daripada kita beranggapan bahwa diri kita salah, lebih baik kita mengambil sikap dan hasilnya akan fifty-fifty.

Share if you like this. 🙂

Apakah Aku Seorang Pengusaha Pebisnis?

Apakah Aku Seorang Pengusaha Pebisnis?

Benarkah orang yang mempunyai usaha bahkan sudah berbadan hukum, dia adalah seorang pebisnis/pengusaha sejati?

Omset ratusan juta bahkan miliaran adalah seorang pebisnis?

Pebisnis sejati bukan hanya membangun Omset, tapi juga membangun TIM dan SISTEM

Siapa yang akan menggantikan kita (business owner) jika kita ingin liburan?

Atau Maaf, harus berhalangan tetap? Meninggal misalnya.

Apakah bisnis tetap akan jalan terus? Dan mampu terus TUMBUH?

Jika bisa, inilah yang dinamakan BISNIS!

Bukan sekedar dagang, apalagi Calo alias Makelar, Ehh, mclaren. Hehe..

Nanti sadarnya setelah kondisi kesehatan menurun, atau pasar terjun bebas.

Pada saat omset lagi bagus, gak juga sadar. Padahal membangun rumah itu lebih enak saat cuaca terang, bukan saat badai atau musim hujan.

Banyak yang terlena saat omset bagus dan tidak membuat GOAL SETTING baru.

Sehingga pada waktunya nanti, kondisi pasar selalu akan terjadi kejenuhan. Atau.. Supply barang tak lagi lancar, karena si supplier menemukan partner baru yang “lebih cocok”! Atau malah dia LANGSUNG menembus pasar karena sudah tau cara bermainnya.

Tidak ada yang lenggeng, kecuali PERUBAHAN

Growth or Die..!!

(Yang gak mati-mati hanya ada di film Die Hard! Realita tidak semanis itu. Hehe..)

INDIKATORNYA sederhana..

Seperti pertanyaan di awal tulisan ini.

Apakah bisnis Anda bisa berjalan bahkan BERTUMBUH jika ditinggal ibadah haji 40 hari atau liburan ke luar negeri selama sebulan?

Apakah di sana Anda bisa ibadah dengan khusyuk?

Atau sebaliknya Anda justru merasa cemas? Hehe..

Itulah gambaran BANGUNAN bisnis yang sebenarnya..

Mungkin sebagian ada yang bertanya “KAPAN mulai membangunnya (4 Pilar Bisnis ini)?

Maka jawabannya adalah..

Apakah Anda yakin, pesaing-pesaing Anda tidak sedang membangunnya?

Apakah Anda yakin, pesaing-pesaing Anda sedang berhenti di tempat?

Atau Apakah Anda yakin, pesaing-pesaing Anda sedang bersantai seperti orang kebanyakan?

Manusia cenderung memilih yang ia sukai daripada yang berat untuknya

Itulah NAFSU!

So.. Pilihannya ada pada diri masing-masing, GROWTH or DIE..!?

Semoga bermanfaat.. 😊😊

 

Berbisnis Karena Status?

Berbisnis Karena Status?

Sebenarnya apa tujuan Anda dalam berbisnis?

Cari uang atau hanya sekedar cari status?

Tidak sedikit dari mereka hanya ingin berstatus sebagai seorang pengusaha atau entrepreneur.

Apalagi dengan adanya social media yang mendukung untuk sekedar menunjukkan status.

Pada sosial media, Anda dapat memposting banyak hal yang menunjukkan bahwa Anda adalah orang kaya yang paling bahagia.

Tetapi pada kenyataannya bisnis yang dijalankan tidak bagus, tekor atau bahkan bermasalah.

Bisnis yang dilakukan hanya terlihat sibuk, tetapi tidak ada hasil.

Omset yang didapatkan besar tetapi keuntungannya tidak ada.

Lalu sebenarnya apa yang bisa Anda dapatkan dengan melakukan hal seperti itu?

Gengsi? Ya, hanya feel atau perasaan senang saja yang Anda dapatkan.

Tetapi apakah secara finansial Anda mendapatkan sesuatu?

Nyinyiran orang-oranglah yang mungkin akan Anda dapatkan.

Jaman sekarang banyak orang ingin statusnya sebagai entrepreneur ataupun internet marketer.

Mereka beranggapan bahwa yang terpenting adalah tidak bekerja dengan orang.

Tetapi kondisinya penghasilan stuck di satu angka saja dan ketika disarankan untuk meningkatkan omset ia tidak berani.

Ingin kaya hanya untuk mengejar status.

Orderan banyak bikin status, mobil baru bikin status, punya kolam renang dirumah bikin status, jalan-jalan bikin status.

Misalnya ketika sebuah fanpage mendapatkan review jelek, maka mereka akan merasa sangat khawatir.

Kalo Saya pribadi “i don’t care”.

Anda mau review dengan memberi bintang 1, 2, 3 atau berkomentar negatif.

Langit tidak perlu menjelaskan bahwa dia tinggi.

Jadi untuk apa menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dijelaskan.

Sebenarnya menunjukkan status tidak masalah, tetapi jangan lupa bahwa fungsi utama dalam berbisnis adalah untuk mencari profit, bukan untuk mencari status saja.

Bukan juga mencari omset tinggi tetapi untuk cari profit.

Ingat, sekali lagi yang terpenting adalah mendapatkan keuntungan dari berbisnis.

Caranya bagaimana?

Mulai buang sifat gengsi yang Anda miliki.

Gengsi doesn’t make you rich, it’s just make you broke.

Biarlah terlihat miskin, toh terlihat kayapun tidak akan membuat Anda mendapatkan keuntungan dari siapapun.

Share If You Like This. 🙂

Dampak Penurunan Bunga Kartu Kredit

Dampak Penurunan Bunga Kartu Kredit

Dalam sebuah pemberitaan dilaporkan bahwa bunga kartu kredit akan mengalami penurunan per Juni 2017.

Lalu seperti apa imbasnya bagi pengguna kartu kredit?

Coba mari kita bahas disini.

Anda pasti tahu bahwa dalam dunia kartu kredit kita mengenal 3 jenis biaya yang antara lain :

BIAYA GESTUN

Biaya gestun dikenakan ketika Anda melakukan tarik tunai lewat gesek tunai.

BIAYA TARIK TUNAI

Biaya tarik tunai dikenakan ketika Anda menarik secara tunai lewat ATM.

BIAYA BUNGA

Biaya bunga dikenakan ketika Anda tidak melakukan pembayaran secara full payment atau Anda hanya membayar minimum payment.

[divider style=”0″]

Lalu penurunan bunga terjadi dimana?

Penurunan terjadi pada BIAYA BUNGA yang awalnya 2.95% turun menjadi 2.25%.

Tetapi yang harus diketahui adalah selama Anda melakukan pembayaran sebelum jatuh tempo.

Maka tidak akan ada efek yang dirasakan sebab tidak akan dikenakan biaya bunga.

Yang berimbas adalah ketika Anda menggunakan kartu kredit.

Kemudian bulan depan Anda hanya membayar minimum payment atau membayar sebagian.

Disitulah efek dari penurunan biaya bunga.

Bagaimana dengan gesek tunai?

Jika pada biaya bunga terjadi penurunan, sebaliknya tidak ada tanda-tanda penurunan pada biaya gestun.

Sebab Merchant Discount Rate (MDR) yang diberikan pihak perbankan tetap di angka 1.8%.

Jika dilihat secara angka memang terlihat lebih mahal.

Pada gesek tunai biasanya dikenakan biaya sebesar 2.5%, sedangkan bunga kartu kredit biayanya sebesar 2.25%.

Tetapi yang harus Anda pahami adalah saat Anda membandingkan antara tarik tunai dengan gesek tunai.

Jika Anda melakukan tarik tunai maka yang terjadi adalah Anda akan dikenakan biaya tarik tunai dan biaya bunga.

Artinya jika ditotal dengan hitungan 30 hari saja Anda akan menanggung presentase tarik tunai sebesar 4% ditambah biaya bunga sebesar 2.25%.

Angka yang dihasilkan sudah hampir mencapai 7%.

Lebih murah biaya gesek tunai bukan?

[divider style=”0″]

Lalu problem lainnya adalah ketika Anda memutuskan bergestun untuk membayar jatuh tempo kartu kredit Anda dengan cara menggesek kartu kredit yang lain untuk membayar minimum payment.

Anda pasti berpikir bahwa jatuhnya akan lebih murah bukan?

CONTOH

Anda melakukan transaksi dibulan Mei.

Kemudian dibulan Juni Anda membayar dengan minimum payment.

Maka jelas perhitungan bunganya dihitung dari bulan Mei ke bulan Juni.

Nah, jika dibulan Juni Anda membayar minimum payment.

Kemudian Anda kembali membayar minimum payment pada bulan berikutnya.

Maka bank tidak menghitung minimum payment dari bulan Juni.

Tetapi bank menghitung dari transaksi terakhir (mei.red).

Inilah kenapa minimum payment masih terbilang lebih mahal.

Kenapa?

Sebab dengan minimum payment, hutang Anda tidak akan kunjung lunas dan akan terjadi akumulatif pada biaya bunga.

[divider style=”0″]

Sebenarnya penurunan bunga kartu kredit memiliki sisi positif dan negatif.

Dampak positifnya adalah ketika terjadi penurunan bunga.

Saya yakin banyak orang melakukan pembayaran secara minimum payment dan otomatis hal itu akan mengurangi keuntungan bagi pihak perbankan.

Untuk mengantisipasinya pihak perbankan tentu akan melakukan ekspansi.

Jadi bagi Anda yang ingin apply kartu kredit, lakukanlah pada bulan-bulan ini (Mei – Juni.red) sebab pihak bank akan mencari kompensasi sebesar-besarnya dari penurunan profit.

Ingat, pihak bank mendapatkan keuntungan dari kita, artinya pihak bank lah yang membutuhkan kita.

Lalu apa dampak negatifnya?

Secara psikologis, penurunan biaya bunga menyebabkan meningkatnya keinginan seseorang untuk berbelanja.

Maka berhati-hatilah sebab hal ini dapat memicu penggunaan kartu kredit dengan pemakaian yang over.

Maka dari itu, mulailah cerdas untuk menghitung bunga.

Share if you like this. 🙂

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis (2)

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis (2)

Menyambung artikel sebelumnya tentang delusi [baca disini], yaitu kondisi dimana keyakinan bertentangan dengan kenyataannya.

Nah, selain bisnis money game dan MLM, Anda juga harus berhati-hati pada bisnis e-commerce.

Teknik membangun mimpi yang digunakan pada bisnis e-commerce adalah dengan menyajikan data transaksi yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Mereka tidak menyadari bahwa pada kenyataannya perusahaan sekelas foodpanda di Indonesia pun bisa jatuh.

Intinya ketika ada peluang pasti ada masalah yang akan dihadapi, jadi keduanya harus balance atau seimbang.

Inilah realita yang harus dipahami.

Dikelas Credit Card Revolution, Saya tidak sekedar membangun mimpi yang pada akhirnya akan membuat Anda jatuh.

[divider style=”0″]

Dikelas Credit Card Revolution atau Credit Strategy for Property Investor Saya mengajarkan bahwa jika sekedar apply kartu mungkin masih terbilang sangat mudah.

Dikelas Credit Card Revolution, average atau rata-rata yang berhasil mendapat kartu kredit diatas Rp 100.00.000,- sebesar 80% dari seluruh peserta.

Artinya 4 dari 5 orang sukses mendapatkan kartu kredit diatas Rp 100.000.000,-.

Tetapi Saya selalu mengingatkan bahwa,

Mendapatkan Bukanlah Tujuan

Mendapatkan kartu kredit hanyalah awal

The real challenge adalah bagaimana memanfaatkannya setelah Anda mendapatkannya

Itulah kenapa dikelas Saya ada semacam konsultasi yang sifatnya eksplore.

Di mulai dari menanyakan bisnis apa yang ingin dijalankan.

Contohnya jika ingin memulai bisnis kuliner, Saya selalu memberikan pertanyaan terlebih dahulu.

Dalam memulai bisnis, bisa karena merasa bisa saja atau bisa karena punya pengalaman.

Apabila Anda bisa karena memang mempunyai pengalaman.

Maka sekali lagi Saya katakan bahwa Anda bebas untuk memulainya, sebab Saya yakin 90% bisnis Anda akan berjalan dengan baik.

Sebaliknya jika hanya merasa bisa, Saya akan menyarankan untuk melakukan tes pasar atau validasi market terlebih dahulu.

CONTOH

Share if you like this. 🙂

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis

Delusi Dalam Menjalankan Bisnis

Berbicara tentang delusi, coba kita ambil contoh dari bisnis yang sedang ramai saat ini.

Saat ini bisnis kuliner semacam mie-mie menggunakan level kepedasan mungkin sedang banyak digandrungi oleh para pebisnis untuk dijadikan lahan bisnisnya.

Mungkin dalam bisnis tersebut banyak orang berpendapat bahwa bisnis seperti itu sangatlah mudah, namun ketika sudah dijalankan nyatanya tak semudah yang dibayangkan sebelumnya.

Inilah yang dinamakan delusi.

Kondisi dimana keyakinan bertentangan dengan kenyataan.

BISA karena merasa bisa

Maka yang harus Anda lakukan adalah validasi market artinya lakukan percobaan bisnis kecil-kecilan terlebih dahulu.

BISA karena mempunyai pengalaman

Maka Anda bebas untuk terjun langsung kedalam dunia bisnis yang ingin Anda bangun.

Inilah yang harus Anda pahami.

Apapun bisnis yang ingin Anda geluti entah itu bisnis properti, kuliner atau bisnis-bisnis lainnya Anda harus memikirkan secara matang.

Dalam bisnis tersebut, apakah Anda bisa karena punya pengalaman atau hanya bisa karena merasa bisa? Mulai tanyakan pada diri Anda.

CONTOH

Salah satu murid Saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.

Begitu keluar dari pekerjaan, ia langsung membuka bisnis dengan modal kartu kredit.

Ia membuka bisnis kuliner yaitu menjual ayam ala fried chicken, dan ternyata bisnis yang dijalankan langsung “jadi”.

Artinya bisnis yang dibuat berjalan dengan lancar.

Saya pun bertanya padanya, apakah sebelumnya ia mempunyai pengalaman dalam membuka bisnis tersebut? Ia menjawab tidak pernah.

Kemudian Saya bertanya kembali, sebelum membuka bisnis fried chicken apa pekerjaan yang dilakukan?

Ia pun menjawab, dulunya ia adalah seorang karyawan, ia bekerja sebagai manajer di salah satu restoran cepat saji terkemuka selama 7 tahun.

Mungkin inilah yang membuat ia bisa dengan mudah membuka bisnis.

Dengan pengalaman yang dimiliki, tentu ia paham mengenai ilmu yang berkaitan dengan marketing dan leadership yang diterapkan dalam dunia bisnis kuliner.

Sebaliknya dari mana sikap BISA karena merasa bisa muncul?

Biasanya sikap bisa karena merasa bisa muncul setelah Anda mengikuti acara seminar yang sifatnya hardcore sales, seminar yang isinya hanya membangun mimpi tanpa detail proses.

CONTOH

Dalam sebuah seminar dikatakan bahwa membangun bisnis import sangatlah mudah.

Anda bisa menjadi distributor barang dengan harga Rp 10.000,- yang nantinya bisa Anda jual seharga Rp 100.000,-.

Hal inilah yang akan membuat Anda merasa bahwa Anda bisa melakukan bisnis ini dengan mudah.

Istilahnya ngepitch hardcore sales tetapi deliver atau prosesnya tidak dijelaskan secara detail.

Apakah hal itu boleh dilakukan?

Boleh-boleh saja, sebab pada seminar-seminar tidak sedikit yang menerapkan hardcore sales.

Tetapi berbeda ketika mengajar di workshop, Saya selalu mengajarkan semua proses beserta step by step-nya.

Money game dan MLM adalah salah satu contoh bisnis yang membuat orang merasa dibangun mimpinya, tetapi tanpa disertai aksi yang konsisten.

Oleh sebab itu punya mimpi yang besar tanpa konsisten action sama saja dengan delusi, hanya akan menjadi khayalan Anda saja.

Share if you like this. 🙂

Peluang Bisnis Menjelang Puasa dan Lebaran

Peluang Bisnis Menjelang Puasa dan Lebaran

Tak terasa bulan puasa dan lebaran sudah semakin dekat.

Kebutuhan seseorang akan sandang pangan tentu semakin meningkat, mulai dari baju, makanan, minuman hingga camilan untuk persiapan lebaran.

Jika Anda seseorang yang menginginkan penghasilan yang lebih, maka ini bisa menjadi kesempatan bagi Anda untuk mulai mencari-cari tambahan.

Dengan modal kartu kredit, banyak dari alumni Saya mulai berbelanja barang-barang kebutuhan menjelang lebaran yang kemudian ia jual kembali dibazar-bazar yang tersedia dilingkungannya.

Nah, jika Anda ingin memulai usaha, Saya menyarankan berhati-hatilah dalam memilih jenis atau model jika Anda ingin menjual semacam baju-baju atau hijab.

Tidak perlu banyak model, cukup stok model-model baju yang diminati saat ini.

Sebab jika terlalu banyak model, keuntungan Anda akan habis pada barang yang tidak laku.

Selain baju dan jilbab, kue kering adalah pilihan tepat untuk berbisnis.

Kenapa?

Sebab Anda bisa mulai memproduksi kue kering dari sekarang, kemudian tinggal Anda jual nantinya.

Berbeda dengan bisnis takjil, sebenarnya boleh-boleh saja, tetapi momen berbisnisnya hanya saat menjelang berbuka puasa saja, setelah itu selesai.

Tetapi jika Anda menjual kue kering, tentu Anda bisa menjualnya kapanpun, tidak hanya pada momen lebaran saja.

Jika perlu, beri tester, siapa tahu produk Anda cocok dikalangan masyarakat.

Bukan tidak mungkin Anda bisa mulai merencanakan untuk keluar dari pekerjaan dan mulai membuka bisnis sendiri.

Selain peluang-peluang yang sudah disebutkan, ada peluang lain yang bisa Anda persiapkan mulai sekarang.

Bagi Anda yang ingin membeli properti, biasanya harga properti menjadi melandai pada momen-momen menjelang lebaran.

Sebab menjelang puasa dan lebaran banyak orang membutuhkan uang, tentu ini bisa menjadi kesempatan yang bisa Anda manfaatkan.

Maka dari itu mulai sediakan dana yang Anda perlukan.

Orang kaya mengantisipasi, orang miskin bereaksi.

Jika orang kaya mengantisipasi, walaupun belum masuk bulan puasa mereka sudah mulai mengantisipasi.

Sama halnya dengan para pedagang, mereka sudah mulai menyetok barang untuk dijual saat menjelang hari raya.

Lalu Apa yang bisa Anda persiapkan dari sekarang?

Andapun harus mulai berpikir untuk menjadi bagian dari bisnis ini, sebab pada momen seperti ini, Saya yakin pengeluaran Anda juga lebih besar.

Dan Saya yakin jika Anda hanya sekedar mengandalkan uang THR, tentu saja kurang.

Intinya Anda harus mulai mencari ancang-ancang dan mengambil posisi untuk meraih keuntungan.

Pilihan ada pada Anda. Apakah Anda hanya ingin menjadi penonton atau ingin menjadi pelaku bisnis?

Jika Anda hanya ingin sekedar menjadi penonton, maka Anda hanya bisa melihat teman-teman sukses dalam berbisnis, sedangkan diri Anda sendiri tidak mempunyai planning untuk mengikuti jejaknya.

Namun jika Anda ingin menjadi pelaku, maka hari ini Anda menjadi pelaku bisnis.

Nah, salah satu permodalan alternatif yang bisa memberikan Anda pinjaman adalah kartu kredit.

Kenapa?

Sebab pada kartu kredit, ketika kita pakai kemudian bulan depan kita kembalikan lagi, maka kita hanya kena cash selama sebulan saja.

Berbeda jika Anda mengambil kredit jenis KTA.

Ketika Anda mendapatkan cicilan selama 2 tahun, bayar atau tidak bayarpun Anda tetap harus membayar angsuran selama 2 tahun.

Daripada kartu kredit hanya Anda gunakan secara konsumtif, Anda pakai untuk jalan-jalan, membeli barang-barang yang tidak perlu lebih baik Anda gunakan untuk hal-hal yang menguntungkan.

Oleh sebab itu menjelang puasa dan lebaran, peran kartu kredit tentu sangat vital untuk masalah permodalan.

Terutama jika bisnis Anda hanya bersifat insidentil, artinya bisnis yang hanya ada di momen-momen tertentu.

Siapa yang bisa memberi Anda pinjaman, kepercayaan hingga ratusan juta hanya modal fotocopy KTP?

Orang tua Anda? Calon mertua Anda? Atau pasangan Anda?

Saya rasa yang bisa hanya satu, yaitu om Anda, om Visa dan Master Card.

Share If You Like This. 🙂