Asumsi Bisa Membunuh Bisnismu

asumsi_bisa_membunuh_bisnismu

Apasih awal mula orang jatuh ketika berbisnis menggunakan hutang?

Terkadang orang tidak menyadari akan tanda-tanda terjadinya “malapetaka” ini, tahu-tahu pemakaian sudah hampir mendekati limit.

Salah satu awal mula orang bermasalah dalam bisnisnya adalah ketika ia mulai menggunakan asumsi dalam bisnisnya.

Suatu ketika Saya melihat timeline salah satu rekan, ia adalah seorang business mastery di Amerika. Dari sinilah Saya mulai mendapatkan inspirasi.

Inspirasi sekaligus pelajaran yang Saya dapatkan dari bisnis masternya adalah adanya tahapan-tahapan atau life cycle dalam bisnis.

Dalam memulai bisnis, hal pertama yang paling penting adalah kehadiran kita dalam bisnis.

Jadi, kenapa banyak dari kalian mengalami kegagalan dalam bisnis?

Karena kebanyakan pebisnis masih suka meninggalkan bisnisnya hanya karena sebuah mindset “Bisnisnya jalan, bosnya jalan-jalan”. Tentu ini adalah mindset yang salah.

Bayangkan saja apabila Anda mempunyai seorang bayi lalu Anda serahkan langsung kepada orang lain. Kira-kira bagaimana?

Maka sebuah bisnis baru bisa ditinggalkan ketika life cycle-nya sudah berada ditahap remaja atau dewasa.

Bisnis yang sukses ditandai dengan omset yang meningkat.

Dan bisnis yang sukses biasanya akan terlihat pada tahap anak-anak menuju tahap remaja.

Namun ketika omset meningkat, seringkali kita hanya terpaku pada jumlah omset tanpa pernah sadar akan biaya-biaya lain yang dikeluarkan, dan parahnya saat menjalankan bisnis kita tidak pernah mengenal yang namanya laporan keuangan.

Saya pribadi pernah mengalami hal semacam itu, saat itu Saya tidak menaikkan biaya produksi ketika ada kenaikan bensin.

Artinya ketika biaya produksi harusnya mengalami kenaikan namun secara tidak sadar Saya tidak menaikannya.

Lalu apa akibatnya? Gros Profit Saya memang profit, tapi pada Nett Profit Saya tekor. Kondisi seperti itu Saya jalankan kurang lebih selama 6 bulan.

Ini adalah salah satu contoh awal mula bisnis Anda bermasalah, memulai dan menjalankan bisnis hanya berdasarkan asumsi tanpa memiliki laporan keuangan.

CONTOH I

Apakah Anda yakin keuntungan yang didapat benar-benar sebesar Rp 40.000,- ?

Padahal kita tidak tahu jika nantinya akan ada pengeluaran tambahan yang dapat menggerus profit bisnis Anda.

Parahnya dalam menjalankan bisnis, kita memakai asumsi seperti ini selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Saya pribadi pernah mengalaminya, tetapi Saya selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah Saya lakukan agar hal-hal semacam ini tidak kembali terulang.

Artinya kita sama-sama belajar dari kesalahan, sebab tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya sukses atau belajar. Ketika kita belum sukses berarti kita masih perlu belajar.

[divider style=”4″]

Saya selalu mengajarkan di Credit Card Revolution :

 Selalu ketahui skor bisnis Anda

 Hitung Berapa Omset Anda

 Hitung Berapa HPP (Harga Pokok Penjualan) Anda

 Hitung Berapa Overhead Anda

 Hitung Berapa Pengeluaran Anda

 dan yang terpenting adalah Hitung Berapa Nett Profit Anda

Kalo Anda sudah mengetahui semua yang dibutuhkan tentu Anda akan lebih mudah untuk mengejar profit.

[divider style=”4″]

CONTOH II

Ketika Anda sudah mempunyai laporan keuangan dalam bisnis, kemudian antara keuntungan bersih dan penghasilan Anda ternyata ada minus sebesar Rp 10.000.000,-.

Itu artinya Anda harus mencari profit minimal sebesar Rp 10.000.000,- untuk mengejar minus Anda bukan?

Maka kita harus mulai berkalkulasi.

Jika nominal Rp 10.000.000,- dibagi 30 hari, maka setiap harinya Anda harus mendapatkan keuntungan kurang lebih sebesar Rp 330.000,-.

Dari angka Rp 330.000,- berapa persen omset yang Anda dapatkan?

Misalnya omset yang Anda dapatkan sebesar 20%, maka Anda harus mencari tambahan omset sebesar Rp 1.980.000,-/bulan.

Jadi Anda harus berpikir tentang bagaimana cara menambah omset sebesar Rp 1.980.000,- dalam bisnis Anda.

Dengan kondisi seperti ini Anda tentu akan mendapatkan susunan laporan dan langkah-langkah yang harus Anda lakukan. Inilah salah satu keuntungan adanya laporan keuangan.

Tetapi jika Anda hanya mengandalkan asumsi, maka dapat diartikan bahwa “otak pintar Anda sedang dibius dengan asumsi Anda“.

Artinya the power of kepepet-nya tidak teraktivasi sebab Anda merasa sudah berada pada titik aman.

Tetapi jika Anda tahu bahwa tiap bulan Anda minus sebesar Rp 10.000.000,- tentu the power of kepepet Anda akan teraktivasi, dengan begitu otak kita pasti akan bekerja secara maksimal.

Share If You Like This.  

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

About Roy Shakti

Roy Shakti dikenal sebagai Pakar Kartu Kredit dan Penulis Buku Best Seller Credit Card Revolution, New Credit Card Revolution, Credit Strategy For Investing dan Credit Card Revolution For Newbie.