HAKIM AS PUTUSKAN UNTUK MENIADAKAN ATURAN PEMBATASAN BIAYA KETERLAMBATAN KARTU KREDIT

HAKIM AS PUTUSKAN UNTUK MENIADAKAN ATURAN PEMBATASAN BIAYA KETERLAMBATAN KARTU KREDIT

Sebuah keputusan kontroversial baru-baru ini di Texas telah memicu perdebatan yang intens di kalangan pengusaha dan regulator keuangan. Seorang hakim federal di Texas, Mark Pittman, telah membatalkan kebijakan baru dari Biro Perlindungan Keuangan Konsumen (CFPB), yang mengatur batasan biaya keterlambatan kartu kredit menjadi USD 8. Keputusan ini telah menjadi sorotan utama di tengah ketegangan antara kepentingan bisnis dan perlindungan konsumen di Amerika Serikat.
Dalam keputusannya, Hakim Pittman mengutip keputusan Pengadilan Banding di New Orleans tahun 2022, yang menyatakan bahwa struktur pendanaan CFPB tidak konstitusional. Menurut Pittman, hal ini menimbulkan keraguan terhadap validitas setiap peraturan yang dikeluarkan oleh badan tersebut. Pengadilan Banding tersebut mempertanyakan keabsahan pendanaan CFPB, yang dianggap sebagai peringatan bagi regulator keuangan.
Desakan untuk membatalkan aturan ini datang dari berbagai pihak, termasuk pengusaha, Kamar Dagang AS, dan Asosiasi Bankir Amerika. Mereka menganggap batasan biaya keterlambatan ini sebagai hambatan bagi bisnis dan perekonomian pada umumnya. Di sisi lain, ada juga kelompok yang mendukung kebijakan ini, termasuk beberapa konsumen dan aktivis perlindungan konsumen, yang percaya bahwa batasan tersebut adalah langkah penting untuk melindungi konsumen dari biaya yang tidak adil.
Pittman sendiri, yang ditunjuk oleh mantan Presiden Partai Republik Donald Trump, berada dalam situasi yang menantang karena pengadilannya berada dalam yurisdiksi Sirkuit ke-5 yang memiliki sejarah pengadilan yang kompleks dalam hal regulasi keuangan.
Maria Monaghan, penasihat Pusat Litigasi Kamar Dagang AS, menyambut baik keputusan Hakim Pittman sebagai kemenangan besar bagi konsumen yang bertanggung jawab dan bisnis yang ingin memberikan kredit terjangkau. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya diterima oleh semua pihak, terutama oleh juru bicara CFPB yang menegaskan bahwa regulator akan terus mempertahankan aturan tersebut. Mereka berpendapat bahwa kebijakan ini merupakan bagian penting dari tindakan keras pemerintahan Biden terhadap “biaya sampah” yang dikenakan kepada konsumen.
Aturan yang dibatalkan ini, menurut CFPB, bertujuan untuk menghilangkan biaya berlebihan yang dikenakan oleh penerbit kartu kredit atas keterlambatan pembayaran. Data menunjukkan bahwa bank akan meraup lebih dari USD 14 miliar biaya keterlambatan kartu kredit pada tahun 2022, dengan biaya rata-rata sebesar USD 32. Aturan tersebut juga akan memblokir penerbit kartu dengan lebih dari 1 juta rekening terbuka untuk membebankan biaya keterlambatan lebih dari USD 8, kecuali mereka dapat membuktikan bahwa biaya yang lebih tinggi diperlukan untuk menutupi biaya mereka.
Proses hukum ini telah menjadi pertarungan antara kepentingan bisnis dan perlindungan konsumen. Meskipun keputusan Hakim Pittman telah menimbulkan kepuasan bagi beberapa pihak, tetapi perdebatan ini masih akan berlanjut. Dengan Mahkamah Agung AS sedang meninjau keputusan tahun 2022 tersebut, arah kebijakan keuangan yang akan diambil di masa depan masih menjadi tanda tanya besar bagi banyak pihak yang terlibat.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan peraturan baru ini?

INI DIA 4 KELEBIHAN PAKAI KARTU KREDIT VIRTUAL!

INI DIA 4 KELEBIHAN PAKAI KARTU KREDIT VIRTUAL!

Di zaman yang sudah semakin maju dan canggih seperti saat ini, transaksi online sudah menjadi prioritas utama untuk banyak orang. Dari kebutuhan tersebut, muncul virtual credit card sebagai solusi inovatif yang menawarkan kemudahan dan kemudahan transaksi.
Lalu apa itu virtual credit card (VCC)? Ini adalah nomor kartu kredit yang dikeluarkan oleh bank atau lembaha keuangan yang hanya bisa dipakai untuk transaksi online. Berbeda dengan kartu kredit fisik, VCC ini tidak ada bentuk fisiknya, namun hanya ada nomor kartu, tanggal kadaluarsa, dank ode CVV yang dikirimkan melalui email atau bisa diakses lewat mobile banking.Keunikan dari VCC ini sendiri ada di kemampuannya dalam membatasi penggunaan sesuai kebutuhan, baik itu batas waktu penggunaan ataupun limit transaksi.
Lalu, bagaimana sih cara kerja VCC ini? Bisa dibilang, cara kerjanya hampir sama dengan kartu kredit konvensional pada umumnya saat digunakan untuk transaksi online. Pengguna hanya perlu memasukkan nomor VCC, tanggal kadaluarsa, dan kode CVV saat melakukan pembayaran di situs e-commerce atau penyedia jasa online. Yang membedakan adalah pengguna bisa mengatur limit transaksi dan masa aktif kartu, sehingga setelah transaksi selesai atau batas waktu berakhir, VCC tidak bisa digunakan lagi.
Lalu, apa saja keuntungan yang bisa didapatkan saat menggunakan VCC?
1. Keamanan Tinggi
Risiko penyalahgunaan informasi di VCC bisa dibilang lebih rendah karena setiap VCC ada batas waktu dan limit transaksi yang bisa diatur secara kustom. Informasi kartu utama juga tidak dibagikan secara langsung, dan ini bisa menurunkan risiko kebocoran data.

2. Kontrol Pengeluaran
Dengan adanya fitur pengaturan limit transaksi, pengguna VCC bisa lebih mudah untuk mengontrol pengeluaran dan membantu dalam manajemen keuangan.

3. Kemudahan Transaksi
Pengguna VCC bisa mempermudah transaksi online, terutama bagi mereka yang tidak ingin menggunakan kartu kredit fisik atau bagi yang tidak memilikinya.

4. Privasi Terjaga
Penggunaan VCC bisa memberikan lapisan tambahan untuk privasi karena transaksi tidak langsung terhubung ke rekening bank utama pengguna.
Selanjutnya, apa saja yang harus diperhatikan dalam menggunakan VCC ini?
1. Batas Penggunaan
Pengguna harus memahami dahulu tentang batas waktu dan limit transaksi yang ditetapkan di VCC. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya pembatasan atau penolakan saat sedang melakukan transaksi.

2. Situs Transaksi
Gunakan VCC di situs web atau atau platform yang terpercaya untuk menhindari risiko penyalangunaan informasi kartu.

3. Biaya
Periksa apakah ada biaya tambahan yang ditambahkan untuk penggunaan atau penerbitan VCC oleh bank atau lembaga keuangan pengguna.

4. Kebijakan Pengembalian Dana
Pelajari kebijakan pengembalian dana untuk transaksi yang dilakukan denga VCC, karena adanya kemungkinan VCC yang memiliki batas waktu penggunaan.
Penting untuk bisa memahami sepenuhnya tentang cara kerja, manfaat, dan potensi risiko yang ada sebelum menggunakan VCC untuk transaksi harian. Dengan pemahaman yang tepat dan penggunaan yang bertanggung jawab, VCC bisa menjadi alat pembayaran digital yang sangat penting.
Jadi, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik untuk memiliki virtual credit card ini?

ADA PENINGKATAN TRANSAKSI KARTU KREDIT DI AWAL TAHUN 2024

ADA PENINGKATAN TRANSAKSI KARTU KREDIT DI AWAL TAHUN 2024

Dengan maraknya gempuran opsi pembayaran seperti paylater, pada kenyataannya gesekan transaksi yang menggunakan kartu kredit masih terus bertambah.
Dilansir dari data Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia (SPIP) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, nilai transaksi kartu kredit mencapai Rp 33,11 triliun per Februari 2024, mengalami peningkatan sebesar 6,13% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp 31,2 triliun.
Kenaikan tersebut tidak hanya di nilai transaksi saja, namun juga pada volume transaksi kartu kredit yang meningkat 16,76% menjadi 34,08 transaksi yoy dari yang sebelumnya 29,19 juta transaksi.
Di balik peningkatan volume dan transaksi, jumlah kartu kredit yang beredar tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan. Hingga Februari 2024, jumlah kartu kredit di Indonesia mencapai 17,94 juta, tidak berbeda jauh dari posisi yang sama tahun lalu sebanyak 17,29 juta.
Pengamat perbankan pun menjelaskan jika kartu kredit masih ada potensial bagi perbankan, dan ini tercermin bagaimana kartu kredit yang berlomba-lomba untuk menjalan strategi mengikuti kebutuhan nasabah.
Dengan meningkatnya kebutuhan kartu kredit, jenis ini seiring tren belanja online, tranportasi online, hingga keandalan digitalisasi perbankan yang menghubungkan kartu kredit dengan gaya hidup belanja online berbasis QRIS.
Untuk terus mendorong pertumbuhan kartu kreedit, perseroan mulai berlomba-lomba untuk menyelenggarakan beragam program yang terintergrasi antarnegara hingga loyalty program untuk para pemegang kartu kredit.
Sehingga, nasabah yang sering melakukan mobilitas di wilayah ASEAN, ketika akan melakukan travel, aka nada program yang sama di Bangkok, Vietnam, atau Jakarta. Ini berarti akan menciptakan connectivity.
Oleh karena itu, untuk memacu pertumbuhan jumlah pemegang kartu dan transaksi, perseroan perbankan mulai melakukan sejumlah cara, antara lain cross selling kepada nasabah yang ada di dalam ekosistem bank, digital acquisition, hingga kerja sama dalam bentuk co-branding serta co-marketing. Salah satunya dengan membuah pemegang kartu kredit bisa mendapatkan keuntungan seperti rewards point, diskon cashback melalui fitur produk dan program yang dipakai nasabah.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan penjelasan di atas?

Modal Usaha Anti Ribet

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut.

1 / 4

Apakah kamu memiliki Jaminan?

2 / 4

Jenis Jaminan:

3 / 4

Plafond yang ingin diajukan:

4 / 4

Kota lokasi jaminan:

This will close in 0 seconds



This will close in 20 seconds