BAGAIMANA CARA GEN Z DALAM MENGGUNAKAN KARTU KREDIT?

BAGAIMANA CARA GEN Z DALAM MENGGUNAKAN KARTU KREDIT?

Masing-masing generasi mempunyai tingkat kenyamanan berbeda dalam melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit. Data yang dikumpulkan oleh survei fitur kartu kredit Bankrate pada Desember 2021 menyebutkan 55% orang berusia 18-20 tahun setidaknya memiliki satu kartu kredit. Angka tersebut meningkat menjadi 73% untuk usia 30-49 tahun, 78% untuk usia 50-64 tahun, dan 89% untuk usia 65 tahun ke atas.
Dari semua generasi, Gen Z cenderung tidak terlalu tertarik untuk menggunakan kartu kredit. beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut antara lain kurangnya akses terhadap kredit, takut terjebak jeratan utang, dan penggunaan paylater sebagai alternatif yang populer.
Di lain pihak, konsumen yang lebih tua cenderung memiliki sejarah kredit yang lebih panjang dan mempunyai akses yang lebih luas terhadap kartu kredit, hal ini membuat mereka lebih nyaman menggunakan kartu kredit.

Apa hubungan Gen Z dengan kartu kredit?
Dengan semakin beragamnya alternatif selain kartu kredit konvensional, banyak Gen Z yang memilih untuk menunda menambahkan kartu kredit ke dompet mereka dan lebih memilih menggunakan kartu debit untuk berbelanja.
Salah satu alternatif yang populer belakangan ini adalah paylater. Ini memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih muda untuk menyebarkan pembayaran dalam jumlah besar dari waktu ke waktu, serta menghindari terjerumus ke dalam tumpukan utang dengan hanya perlu menggunakan paylater di tempat yang menerima dan hanya untuk pembelian tertentu.

Apa yang mendorong keputusan keuangan Gen Z?
Studi menunjukkan jika Gen Z merupakan generasi yang paling tidak melek dengan masalah finansial di antara semua generasi. Di samping itu, banyak Gen Z yang berhati-hati dalam mengambil langkah finansial yang beresiko akibat melihat pengalaman orang tua menghadapi resesi hebat dan generasi milenial yang banting tulang untuk membayar utang pendidikan dan mencari pekerjaan tetap.
Faktanya, masalah uang adalah pemicu stress utama bagi Gen Z. Menggunungnya utang pinjaman untuk pendidikan, ekonomi merosot akibat pandemi, dan inflasi yang semakin tinggi merupakan beberapa faktor yang membebani generasi muda saat ini.
Dari mana sumber keuangan Gen Z?
Walaupun belum begitu paham dengan keuangan pribadi, Gen Z memiliki banyak pilihan untuk bisa meningkatkan literasi keuangan mereka. Teruntuk Gen Z yang lahir di era digital, jawaban untuk sebagian besar pertanyaan seputar keuangan mereka mudah diakses di ujung jari mereka.
Tidak hanya itu saja, mereka bisa menemukan buku keuangan pribadi, podcast, dan sumber daya pemerintah yang bisa membantu mereka dalam meningkatkan literasi keuangan mereka secara keseluruhan serta membantu mereka untuk lebih bertanggung jawab terhadap keuangan mereka.
Menumbuhkan pengetahuan soal keuangan dan belajar untuk mampu mengelola uang dengan benar serta membangun riwayat kredit yang positif merupakan langkah utama untuk bisa mencapai tonggak keuangan utama seperti membeli kendaraan, menjadi pemilik rumah, bahkan mengambil pinjaman untuk berbisnis.
Dengan membuat anggaran sederhana seperti menggunakan metode 50/20/30 atau metode amplop bisa membantu konsumen untuk menghindari pengeluaran yang berlebihan dan bertanggung jawab terhadap tujuan tabungan serta pembayaran rutin tiap bulannya.
Memiliki kebiasaan dalam mengelola keuangan yang bertanggung jawab bisa memberikan hasil jangka panjang, menunjukkan kepada lembaga keuangan yang lebih besar bahwa mereka mampu mengelola keuangan dan bisa menjadi peminjam terpercaya di masa mendatang saat akan mengajukan kartu kredit maupun pinjaman baru.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian sudah pernah melakukan hal-hal yang sudah dijelaskan di atas sebelumnya?

TERTIPU INVESTASI BODONG, SEJUMLAH WANITA MERUGI HINGGA RP 6 MILIAR

TERTIPU INVESTASI BODONG, SEJUMLAH WANITA MERUGI HINGGA RP 6 MILIAR

Puluhan perempuan telah menjadi korban penipuan investasi bodong. Mereka mendatangi Satreskrim Polres Sukabumi, Jawa Barat untuk melaporkan kasus dugaan investasi bodong yang kerugian diperkirakan hingga mencapai Rp 6 miliar.
Mereka melaporkan penyelenggara investasi yang merupakan pasangan suami istri dikarenakan tidak ada itikad baik dari terduga pelaku yang ternyata masih ada ikatan saudara dengan para korban. Para korban membawa beberapa bukti seperti surat perjanjian investasi, bukti transfer, dan bukti tangkapan layar pesan Whatsapp untuk diserahkan ke penyidik. Tercatat korban yang melaporkan investasi bodong ini sebanyak 10 orang. Tidak menutup kemungkinan jika masih banyak korban-korban lainnya.
Anggun Prima Lestari, salah satu korban investasi bodong ini menyebutkan jika investasi yang diikuti tersebut bergerak di bidang tekstil atau jual beli baju online. Awalnya dia diajak oleh terduga pelaku dengan iming-iming bisa mendapat keuntungan 10%-20% untuk setiap orderan yang masuk ke pihak penghimpun investasi. Nilai investasinya pun beragam, mulai dari 100 juta hingga 800 juta rupiah.
Korban pun mulai percaya lantaran pelaku yang sering mengirimkan bukti hasil penjualan. Akhirnya korban pun tergiur dengan iming-iming tersebut. Anggun menjelaskan jika mereka percaya karena setiap minta kontrak dengan toko, mereka memberikan bukti perjanjian dengan beberapa toko yang kemudian menunjukkan bukti penghargaan dan link toko online. Disebutkan juga bahwa si istri juga masih saudara.
Latifah Nurul Insani yang juga menjadi korban investasi bodong ini juga menuturkan jika dirinya mengalami kerugian hingga Rp 800 juta. Dia dijanjikan akan mendapat keuntungan setiap 10-15 hari. Bahkan dirinya sempat merasakan keuntungan yang djanjikan hingga kemudian mendadak macet di pertengahan tahun 2022.
Para korban investasi bodong ini berharap kepada pihak kepolisian untuk segera menangani kasus tersebut dan segera menangkap para pelaku yang terlibat.
Bagaimana menurut kalian? Apakah kasus investasi bodong ini bisa diselesaikan hingga akhir atau malah terbengkalai seperti kasus-kasus sebelumnya?

KENAPA BANYAK MILENIAL YANG BERUTANG HINGGA MILIARAN?

KENAPA BANYAK MILENIAL YANG BERUTANG HINGGA MILIARAN?

Berutang adalah salah satu hal yang sangat ingin dihindari oleh mayoritas masyarakat. Tapi karena kondisi yang mendesak, ada beberapa orang yang terpaksa harus berutang, apalagi jika ada banyak kebutuhan mendesak.
Tidak sering generasi milenial disebut sebagai generasi yang paling boros dan termasuk ke dalam generasi yang memiliki utang terbanyak. Pernyataan ini pun disetujui oleh survei yang dilakukan Real Estate Witch.
Berdasarkan laporan Yahoo! Finance, Real Estate Witch menjelaskan bahwa 75% generasi milenial di Amerika Serikat memiliki utang rata-rata sebesar US$ 117 ribu (sekitar Rp 1,7 miliar). Dan utang kartu kredit menjadi utang yang paling umum bagi generasi milenial. Lebih dari dua pertiga generasi memiliki utang kepada perusahaan penyedia kartu kredit untuk biaya kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil survei, 67% generasi milenial mempunyai utang kartu kredit dengan rata-rata US$5.349 (sekitar Rp81,1 juta), 48% pinjaman mahasiswa, 42% pinjaman pribadi, 40% utang mobil, dan 33% utang jangka panjang untuk pembelian properti.
Dikatakan bahwa sangat sulit untuk bisa melunasi utang miliaran dalam jangka waktu 5 tahun, terutama jika yang diprioritaskan adalah kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan. Utang bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental seseorang. Survei menemukan jika 41% dari generasi milenial yang merasa pesimis dengan keuangan mereka dan 32% menyesal sudah berutang.
Lalu bagaimana cara melunasi utang bagi kaum milenial? Kaum milenial diharuskan untuk membuat rincian catatan keuangan yang meliputi berapa banyak utang yang dimiliki, besar bunga pada setiap utang, dan jumlah pembayaran utang setiap bulannya. Tetapkan juga tujuan kapan utang akan dilunasi.
Dianjurkan juga untuk memiliki rekan atau teman yang bisa membantu dalam mengelola keuangan, semisal menjadi pengingat jika ingin melakukan pengeluaran, mengontrol pemasukan, pengeluaran, catatan keuangan, dan membantu proses menabung.
Jadi bagaimana menurut kalian? Kalian termasuk milenial yang bisa berhemat atau milenial yang boros sampai suka berutang banyak?

JANGAN PANIK! INI DIA CARA LUNASI JERAT UTANG KARTU KREDIT

JANGAN PANIK! INI DIA CARA LUNASI JERAT UTANG KARTU KREDIT

Menggunakan kartu kredit untuk membayar tagihan belanjaan bukanlah dosa besar. Namun penggunanya harus bijak jika tidak ingin terjerat utang kartu kredit.
Boleh saja menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran karena bisa mendapatkan keuntungan jika bertransaksi dengan menggunakan kartu kredit.
Semisal, pengguna bisa mendapat diskon 30% saat dine-in di restoran tertentu, atau bisa mendapatkan fasilitas cicilan 0% ketika membeli smartphone di gerai tertentu.
Bud Raharjo selaku Financial Planner One Shildt menjelaskan jika kartu kredit bisa mengamankan arus cash flow karena tidak perlu merogoh kocel ketika melakukan pengeluaran mendadak, semisal bisa digunakan untuk membayar tagihan rumah sakit.
Namun, yang harus diingat yaitu kartu kredit adalah utang, bukan pendapatan tambahan. Sehingga, penggunanya wajib untuk membayar utang tersebut.
Jika tidak bisa menyelesaikan pembayaran utang terpat waktu, dipastikan akan mengalami kerugian karena harus membayar bunga tagihan di bulan penagihan selanjutnya. Si penggunajuga akan berpotensi terjerau utang kartu kredit jika tidak kunjung melunasinya. Jadi gunakan kartu kredit secara bijak.
Bila baru saja menggunakan kartu kredit, ada beberapa cara agar terhindar dari lilitan utang kartu kredit:
1. BAYAR TAGIHAN SECARA PENUH
Bayar tagihan kartu kredit secara penuh supaya tidak menanggung bunga tagihan di bulan selanjutnya. Jika tidak mampu membayar seluruh jumlah tagihan, pengguna bisa membayar setengah dari total tagihan dan membayar sisanya di bulan berikutnya. Jangan sampai memayar dengan nilai tagihan minimal karena bisa dikenakan bunga utang yang terlalu besar.

2. TIDAK MENGGUNAKAN KARTU KREDIT SEBELUM TAGIHAN LUNAS
Hindari dulu penggunaan kartu kredit jika tagihan belum lunas. Cara ini bisa mencegah tagihan tidak terus membengkak di bulan-bulan selanjutnya. Agar bisa menahan godaan menggesek kartu kredit, tinggalkan kartu kredit di rumah dan menggunakan uang tunai atau kartu debit.

3. BAYAR TAGIHAN SEBELUM TANGGAL JATUH TEMPO
Bayar tagihan kartu kredit sebelum tanggal jatuh tempo, karena dengan begitu pengguna tidak perlu membayar denda keterlambatan. Disarankan jika lebih baik membayar tagihan sebelum tanggal penagihan supaya tidak dikenakan bunga tagihan kartu kredit. jangan lupa untuk memastikan uang yang digunakan untuk membayar tagihan sudah cukup sebelum menggunakan kartu kredit.

4. RAJIN CHECK DAN RE-CHECK NILAI PENGGUNAAN KARTU KREDIT
Rutin periksa jumlah penggunaan kartu kredit, lalu pikirkan apakah mampu untuk melunasi semua tagihan sebelum tanggal jatuh tempo. Jika merasa tagihan terlalu besar, sebaiknya berhentilah bertransaksi dengan kartu kredit. jika tidak mau menghentikan kebiasaan buruk tersebut, bisa-bisa tenggelam dalam besarnya jumlah tagihan yang dibayarkan.
Jadi perlu sekali melakukan check dan re-check jumlah penggunaan kartu kredit satu kali dalam seminggu. Langkah ini termasuk efektif untuk membatasi penggunaan kartu kredit untuk bertransaksi. Wajib tentukan tujuan sebelum menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran.
Jadi jika tidak ingin terlilit utang kartu kredit, maka gunakan kartu kredit dengan tepat dan bijak.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian pernah punya pengalaman terlilit utang kartu kredit? bagaimana kalian bisa melunasi utang kartu kredit tersebut?

MAU KELOLA UTANG TAPI ENGGAK KEHIMPIT CICILAN? PAKAI CARA BIJAK INI!

MAU KELOLA UTANG TAPI ENGGAK KEHIMPIT CICILAN? PAKAI CARA BIJAK INI!

Kalian ada yang punya rencana untuk melakukan pengajuan pinjama ke bank atau lembaga pembiayaan? Apakah kalian sudah tahu dan siap menerima resiko utang? Sebaiknya simak beberapa tips perencanaan keuangan berikut ini sebelum mengajukan pinjaman.
Jika hendak berutang, pastikan urgenitas dan kepentingannya. Utang pada dasarnya diperbolehkan jika sudah memenuhi 3 persyaratan—membayar kewajiban, membayar resiko yang tidak ditanggung (cont: sakit), dan digunakan untuk keperluan yang lebih produktif.
Menurut Aidil Akbar Madjid selaku Financial Planner & Crypto Enthusiast, ada 3 prinsip yang harus dicermati jika hendak melakukan pinjaman:
1. Bunga pinjaman
2. Tenor atau jangka waktu pinjaman
3. Kemampuan mencicil
Gambaran sederhananya, kredit untuk properti seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) termasuk pinjaman dengan tenor jangka panjang. Jika KPR dikenakan bunga pinjaman 10% per tahun, namun harga kenaikan properti bisa mencapai 12% per tahun, maka Bungan pinjaman tersebut masih bisa ditutupi dengan kenaikan harga properti per tahun.
Jika seiring berjalannya waktu kalian sudah memiliki sejumlah dana yang nominalnya bisa untuk melunasi KPR atau KPA, ada dua pendekatan yang bisa menjadi pertimbangan.
Pertama, jika tidak ingin membayar bunga pinjaman lagi, lunasi lebih awal. Kedua, tetap lakukan cicllan pembayaran hingga jatuh tempo pelunasan selesai.
Ada pepatah yang bisa diterapkan untuk para pengusaha—kalau bisa pakai uang bank, kenapa harus pakai uang sendiri? Pepatah ini bisa ada karena kebanyakan pengusaha sukses lebih memilih memakai uang pinjaman, selama hasil usahanya bisa digunakan untuk membayar cicilan.
Lalu seberapa besar sih cicilan pinjaman yang ideal supaya cash flow keuangan bisa tetap lancar dan tida mengganggu?
Kalian wajib memperhatikan batas maksimal presentase cicilan pinjaman terhadap total pemasukan atau penghasilan bulanan kalian. Untuk pinjaman properti sendiri seperti KPR dan KPA, diberikan batasan di bawah 30% dari total penghasilan bulanan kalian, dengan alasan KPR atau KPA merupakan sebuah komitmen jangka panjang, jadi jangan sampai memberatkan cash flow.
Sedangkan untuk utang produktif seperti KPR atau modal usaha, batasan maksimal yang diberikan yaitu 40% dari penghasilan bulanan. Untuk utang konsumtif sendiri maksimal 30%.

Beberapa resiko utang
Untuk resiko utang sendiri, ada beberapa hal yang wajib diketahui, yaitu:
1. Suku bunga yang tinggi
2. Resiko tidak bisa membayar cicilan atau tidak mampu melunasi total pinjaman yang mengakibatkan track record di Bank Indonesia menjadi jelek
3. Ditagih debt collector jika terlambat atau menunggak pembayaran cicilan.
Berdasarkan tiga resiko yang disebutkan di atas, maka sebaiknya pastikan terlebih dahulu kemampuan kalian dalam membayar cicilam setiap bulan dan dari mana sumber pemasukannya. Dengan begitu kalian bisa menyesuaikan besaran pinjaman, tenor waktu pinjaman, serta suku bunga yang dikenakan bank atau lembaga pembiayaan. Sehingga kalian bisa membayar cicilan sesuai dengan situasi dan kondisi keuangan kalian dan masih ada dana cadangan untuk memenuhi keperluan lainnya.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian juga punya pengalaman terlilit beragam cicilan yang mengakibatkan cash flow kalian terganggu?

KALIAN  MASIH PEMULA? GUNAKAN CARA INI SAAT MENGGUNAKAN KARTU KREDIT!

KALIAN MASIH PEMULA? GUNAKAN CARA INI SAAT MENGGUNAKAN KARTU KREDIT!

Siapa yang tidak kenal dengan kartu kredit, kartu berukuran kecil yang bisa masuk ke dompet dan punya banyak fungsi. Namun terkadang orang yang masih awam masih kesulitan membedakan kartu kredit dan kartu debit. Walaupun serupa bentuknya, namun pada dasarnya kartu kredit dan kartu debit itu berbeda. Kartu debit saat proses transaksi menggunakan uang yang diambil dari saldo tabungan. Jika tidak ada saldo, transaksi tidak bisa dilakukan. Berbeda dengan kartu kredit, tanpa ada saldo di tabungan pun, transaksi masih bisa dilakukan.
Ini diakibatkan karena uang yang digunakan untuk pembayaran adalah uang pinjaman dari bank. Banyak yang masih miskonsepsi dengan uang yang dipakai saat menggunakan kartu kredit adalah uang milik pribadi. Uang yang dipakai untuk membayar tersebut adalah uang dari bank, bisa dibilang kalian berutang ke bank dan wajib membayar utang sebelum jatuh tempo.
Walaupun kesannya ribet karena harus membayar tagihan, namun jika digunakan dengan baik dan tepat guna, kartu kredit bisa membantu dalam mengatur keuangan menjadi jauh lebih baik dan bisa dijadikan untuk dana darurat nantinya.
Namun, masih banyak yang kesulitan bagaimana cara menggunakan kartu kredit pertama. Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa digunakan oleh para pemegang kartu kredit pemula. Apa saja itu?
1. LAKUKAN AKTIVASI KARTU KREDIT
Ketika sudah mendapatkan kartu kredit dari kurir, kartu kredit tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk bertransaksi, harus melakukan aktivasi terlebih dahulu. Lalu bagaimana cara aktivasinya? Ada beberapa opsi yang bisa dipilih—via SMS, telepon, ataupun melalui m-banking.

2. INGAT DUA TANGGAL PENTING KARTU KREDIT
Setelah melakukan aktivasi kartu kredit, pengguna pemula harus selalu mengingat dua tanggal penting ini ketika sudah memiliki kartu kredit. dua tanggal ini wajib diingat untuk menghindari keterlambatan. Dua tanggal penting yang dimaksud adalah tanggal cetak tagihan yang merupakan tanggal pembukuan, dan tanggal jatuh tempo merupakan tanggal terakhir untuk membayar tagihan. Dua tanggal tersebut bisa ditemui di lembar tagihan yang akan dikirim ke alamat pengguna tiap bulannya.
Teruntuk pemegang kartu kredit pemula, penting sekali untuk mendpat lembar tagihan karena ada tanggal cetak tagihan dan tanggal jatuh tiap kartu kredit itu berbeda. Jika si pengguna belum juga mendapatkan lembar tagihan, bisa menghubungi call center bisa dilihat di bagian belakang kartu kredit.
Jika sudah menerima lembar tagihan secara rutin, selalu ingat untuk periksa lembar tagihan secara disiplin dan lunasi semua tagihan sebelum jatuh tempo. Dengan cara tersebut, pengguna bisa mendapatkan pinjaman dari bank sebesar 0% serta menhindari bunga dan denda keterlambatan.
Itu tadi beberapa cara penggunaan kartu kredit untuk para pemula. Walaupun terlihat mudah dan praktis, namun ada konsekuensi yang harus diterima ketika sudah memutuskan untuk memiliki kartu kredit. Jadi sebelum kalian yakin ingin memiliki kartu kredit, pastikan dulu kemampuan finansial untuk membayar tagihan kartu kredit.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan penjelasan di atas?

MAU AJUKAN UTANG KONSUMTIF? PERHATIKAN DULU BEBERAPA HAL BERIKUT INI!

MAU AJUKAN UTANG KONSUMTIF? PERHATIKAN DULU BEBERAPA HAL BERIKUT INI!

Apa kalian pernah dengar istilah ‘utang konsumtif’ sebelumnya? Sebenarnya apa sih utang konsumtif itu? Utang konsumtif merupakan utang untuk aset atau jasa yang nilainya menurun seiring dengan berjalannya waktu.
Lalu apa saja yang harus diperhatikan sebelum mengajukan utang konsumtif? Menurut Eko Endarto selaku Perencana Keuangan Finansia Consulting, ada dua poin yang harus dicermati jika kalian ingin mengajukan utang konsumtif—yaitu bunga dan ketentuannya.
Mengapa begitu? Ini dikarenakan utang konsumtif yang diambil dipakai untuk mendapatkan aset atau jasa yang nilainya turun atau bahkan habis karena sering digunakan. Ketika sudah berutang, kalian masih memiliki tanggungan wajib untuk membayar barang dan jasa beserta bunganya. Bunga utang tidak memberikan apapun kecuali kewajiban pembayaran.
Sedangkan menurut Financial Planner & Crypto Enthusiast Aidil Akbar Madjid, dia menyarankan untuk tidak mengambil utang konsumtif dengan alasan tidak memberikan keuntungan lain dari utang konsumtif. Namun ada pengecualian, yaitu utang konsumtif tersebut digunakan untuk membeli barang yang dengan langsung bisa menghasilkan pendapatan.
Salah satu contoh yang mungkin bisa dijadikan studi kasus adalah seorang fotografer pernikahan yang ingin membeli kamera baru karena ada order pemotretan pernikahan untuk minggu depan yang bisa memberikan pendapatan sekitar Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Di dalam kasus ini, si fotografer bisa membeli kamera baru dengan memakai kartu kredit dan dibayar lunas bulan depannya saat jatuh tempo.
Sebaliknya, jika dalam kurun waktu 3 bulan terakhir si fotografer sedang sepi orderan, maka tidak perlu membeli kredit jika perlu kamera baru karena si fotografer tidak mendapatkan sumber dana untuk membayar utangnya.
Dengan alasan tersebut, Aidil memberikan 2 rambu-rambu yang tidak boleh disepelekan dalam utang konsumtif, yaitu bunga dan tenor pinjaman.
Prinsip keuangan yang perlu kalian catat adalah kartu kredit merupakan dana talangan yang wajib dilunasi saat tagihan datang dan pastikan sudah ada dana yang disiapkan untuk membayar utang tersebut.
Keuntungan kartu kredit
Lalu adakah keuntungan yang bisa didapatkan saat menggunakan kartu kredit? Tentu saja ada! Kalian bisa memanfaatkan keuntungan ini jika sedang ada bonus atau diskon saat transaksi dengan menggunakan kartu kredit.
Contohnya ketika kalian memberli ponsel baru dengan banderol Rp 20 juta. Kalian sebenarnya ada dana sebesar Rp 20 juta, tapi karena ada penawaran berupa diskon dan cashback jika menggunakan kartu kredit, maka kalian bisa menggunakan kartu kredit yang kalian miliki. Tapi jangan lupa untuk membayar tagihan bulan depan secara lunas! Karena dengan demikian kalian tidak akan dikenai bunga kartu kredit, tapi mendapatkan potongan harga, sehingga kalian bisa mengumpulkan banyak bonus saat melakukan transaksi dengan menggunakan kartu kredit, tapi tetap pastikan jika dana untuk membayar tagihannya sudah tersedia.
Kartu kredit adalah alat, jadi kalian tetapi bisa menggunakan kartu kredit tersebut untuk hal-hal bisa mendorong produktivitas. Kartu kredit juga termasuk mudah untuk melakukan pembayaran. Jadi kalian bisa menggunakan kartu kredit untuk pembayaran kewajiban dengan tepat waktu.
Ada beberapa tips yang bisa kalian pakai untuk menjauhkan kalian dari tagihan cicilan kartu kredit yang tidak pernah selesai:
1. Jangan menggunakan kartu kredit dengan nominal yang hanya bisa kalian bayar dengan cicilan minimal setiap bulan. Ini artinya kalian masih belum mampu untuk membeli barang tersebut jika dicicil secara minimal. Akibat situasi inilah banyak orang terjebak dengan cicilan kartukredit yang tidak pernah lunas, karena syarat minimal pembayaran kartu kredit hanya 10% dari total transaksi pembelian.
Seperti yang diketahui, bunga kartu kredit ini bisa terbilang tinggi, bisa mencapai 2% setiap bulannya. Jika kalian membayar cicilan secara minimal, utang pokoknya baru terbayar sedikit karena banyak disedot untuk pembayaran bunga kartu kredit.
2. Jadikan pembayaran kartu kredit sebagai prioritas. Gunakan kartu kredit jika kalian yakin memiliki uang atau yakin ada uang yang masuk untuk dibayar saat jatuh tempo.
Semoga dengan adanya rambu-rambu ini, keuangan kalian bisa menjadi bijak sebelum mengajukan utang konsumtif seperti pemakaian kartu kredit kalian.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian berminat untuk mengajukan utang konsumtif setelah mengetahui rambu-rambu yang sudah dijelaskan di atas?

INTIP TIPS BERIKUT BIAR ENGGAK TEKOR PAKAI KARTU KREDIT BUAT PARA MILENIAL

INTIP TIPS BERIKUT BIAR ENGGAK TEKOR PAKAI KARTU KREDIT BUAT PARA MILENIAL

Kartu kredit menjadi salah satu media pembayaran yang bisa dipakai siapa saja dan kapan saja. Kartu multifungsi ini sudah menjadi gaya hidup milenial karena biasanya kartu kredit sering sekali memberikan penawaran menarik dan kemudaha sehingga banyak sekali promo yang bertebaran, mulai dari cicilan 0% hingga diskon.
Namun dalam proses penggunaannya, kaum milenial diharapkan untuk bisa bijak karena jika digunakan dengan sembrono, itu bisa menjadi ‘senjata makan tuan’. Perencana keuangan Shierly menjelaskan bahwa sebelum membuka kartu kredit, perlu diperhatikan untuk memilih kartu kredit sesuai dengan kebutuhan si pengguna. Lembaga keuangan perbankan biasanya akan memberikan beberapa pilihan kartu kredit dengan tidak lupa beragam penawaran menarik.
Si pengguna juga harus tahu tentang limit kartu kredit yang dimiliki. Kartu kredit ini biasanya memberikan batasan dua sampai tiga kali gaji. Si pengguna setidaknya menghindari penarikan tunai dengan kartu kredit dikarenakan ada bunga yang cukup besar, yaitu sekitar 2,5% per bulannya.
Selain itu, si pengguna juga wajib membayar tagihan sebelum jatuh tempo supaya tidak kena bunga keterlambatan dan hal tersebut bisa mempengaruhi skor kredit. selain itu, Shierly juga memberitahu untuk selalu melakukan pengecekan tagihan bulanan dengan teliti dan jangan sampai menggunung.
Masalah yang sering dialami kaum milenial ketika menggunakan kartu kredit adalah mereka menggunakan kartu kredit lebih banyak dari yang mampu dibayar per bulannya dan kadang masalah ini membuat mereka jadi keteteran untuk membayar tagihan bulanannya. Shierly menambahkan jika cicilan kartu kredit dan utang konsumtif lainnya sebaiknya tidak lebih dari 15% dari total penghasilan.
Beliau juga mengingat kepada pengguna kartu kredit untuk selalu menjaga kerahasiaan data kartu kredit yang dimiliki karena kartu kredit adalah benda yang sering disangkutpautkan denga kejahatan, terutama pembobolan rekening. Si pengguna juga perlu berhati-hati dan menghindari pembagian beberapa data atau informasi penting seperti nomor CVV ke orang lain. Bahkan saat bertransaksi secara online pun, jangan pernah memberikan kode OTP kepada orang lain. Telitilah sebelum bertransaksi baik online maupun offline dan jangan pernah meminjamkan kartu kredit kepada siapapun.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apa kalian pernah melakukan beberapa hal yang sudah disebutkan di atas?

INTIP JENIS KARTU KREDIT YANG DIPAKAI LISA BLACKPINK!

INTIP JENIS KARTU KREDIT YANG DIPAKAI LISA BLACKPINK!

Mata fans tertuju ke kartu kredit yang biasa dipakai oleh Lisa BLACKPINK. Lisa telah membeli rumah di Seongbuk-dong, Seoul seharga 7,5 miliar won (Rp 91,3 miliar). Hal ini diungkapkan oleh sesama anggota Jisoo BLACKPINK di unggahan video Youtube pribadinya berjudul ‘COLOGNE Vlog’ pada 31 Januari 2023.
Dalam video tersebut, Jisoo dan Lisa mengunjungi pasar Natal di Cologne, Jerman. Mereka berdua membeli banyak minuman berakohol dengan beragam rasa di toko yang sama. Saat melakukan pembayaran, netizen tertuju pada kartu kredit di dompet milik Lisa. Selanjutnya pada tanggal 1 Februari, sebuah artikel muncul di komunitas online yang membahas kartu kredit Lisa. Artikel tersebut sudah dilihat lebih dari 32 ribu dalam waktu 2 jam dan menerima 200 komentar.
Artikel mengungkapkan bahwa kartu kredit yang digunakan Lisa adalah jenis Hyundai ‘The Black Edition 3’ yang diketahui pernah dipakai oleh Lee Jung Jae dan pernah menjadi viral. Sebelumnya dilaporkan bahwa wakil ketua Hyundai Card Chung Tae Young memberikan nomor kartu VVIP unik kepada Lee Jung Jae pada Desember 2022.
Beliau mengunggah foto bersama Lee Jung Jae di Facebook dengan caption “Kami telah berteman selama 20 tahun, dan dia adalah seorang bangsawan yang berharga yang selalu menginspirasi kami dengan tingkat imajinasi yang berbeda. Saya meberinya kartu hitam nomor 456 untuk memperingati drama hitsnya ‘Squid Game’”.
Kartu Hyundai ‘The Black Edition 3’ merupakan kartu kredit eksklusif dengan iuran tahunannya mencapai 2,5 juta won, yang dikeluarkan hanya 0,05% orang Korea yang memiliki status sosial dan kemampuan ekonomi tingkat atas dan juga mendapatkan undangan dari kartu Hyundai. Selain itu, kartu ini hanya bisa dikeluarkan setelah mendapatkan persetujuan penuh dari Approval Committee yang terdiri delapan eksekutif, termasuk Vice Chairman Chung. Hanya 1.000 orang yang bisa menerima kartu kredit tersebut.
Tidak hanya Lee Jung Jae dan Lisa, pengguna kartu hitam lainnya termasuk 2 member BTS Jin dan Jungkook, aktris Jun Ji Hyun, dan G-Dragon BIGBANG. Wakil Ketua Chung menyebutkan dalam sebuah wawancara bahwa kartu hitam khusus ini jumlah anggotanya tidak lebih dari 1.000 karena mereka menerapkan dasar dan kriteria yang ketat.
Berbicara mengenai aset Lisa BLACKPINK hingga bisa memiliki aset tersebut, publik harus melihat dulu koleksi mobil pribadinya yang mencerminkan kekayaan si rapper. Diungkapkan bahwa Lisa setidaknya memiliki 5 mobil yang beragam, mulai dari mobil ramah lingkungan hingga yang super mewah sejenis Rolls-Royce dan beberapa supercar yang terkenal dengan performa kelas kakap.
Jadi kalian kaget atau biasa saja dengan kekayaan yang dimiliki Lisa BLACKPINK? Apakah kalian juga ingin memiliki kartu kredit yang dimiliki Lisa?

MASYARAKAT SUKA BELANJA SECARA IMPULSIF, KIRA-KIRA KENAPA YA?

MASYARAKAT SUKA BELANJA SECARA IMPULSIF, KIRA-KIRA KENAPA YA?

Belanja menjadi salah satu proses healing yang sering dilakukan oleh banyak orang. Namun fenomena belanja secara implusif menjadi perhatian khusus bagi penasehat keuangan. Bukan tanpa sebab, kebiasaan ini sering memunculkan perasaan ingin membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan dan akhirnya menjadi boros dan overbudget karena pengeluaran yang berlebihan.
Dilihat dari data yang disediakan Global Web Index (GWI), berbagai generasi memiliki alasan tersendiri dan menjadi penyebab utama mengapa masyarakat bisa berbelanja secara impulsif. Simak data di bawah berikut ini:
1. Dapat untung dari penawaran menarik
– Gen Z : 43%
– Milenial : 46%
– Gen X : 52%
– Baby Boomers : 58%

2. Apresiasi diri sendiri/self-reward
– Gen Z : 39%
– Milenial : 38%
– Gen X : 44%
– Baby Boomers : 40%

3. Proses checkout yang mudah dan cepat
– Gen Z : 37%
– Milenial : 0%
– Gen X : 0%
– Baby Boomers : 0%

4. Menyenangkan karena membeli barang baru
– Gen Z : 37%
– Milenial : 39%
– Gen X :30%
– Baby Boomers : 0%

5. Tidak ingin ketinggalan (dengan penawaran terbatas)
– Gen Z : 36%
– Milenial : 37%
– Gen X : 43%
– Baby Boomers : 37%

6. Daya tarik estetika
– Gen Z : 0%
– Milenial : 34%
– Gen X : 0%
– Baby Boomers : 26%

7. Potensi penggunaan di masa depan
– Gen Z : 0%
– Milenial : 0%
– Gen X : 30%
– Baby Boomers : 31%
Dalam laporan tersebut, Global Web Index (GWI) menyatakan terdapat alasan yang berbeda-beda dari tiap generasi ketika berbelanja. Mulai dari bisa mendapatkan keuntungan dari penawaran menarik, proses yang mudah dan cepat selama checkout barang, ini ternyata bisa mempengaruhi belanja dari tiap generasi. Survei ini didapatkan GWI dari 11.049 responden yang melakukan pembelanjaan impulsif di seluruh dunia. Responden yang mengikuti survei ini berada di kisaran usia 16-64 tahun yang berasal dari 12 negara.
Jadi belanja impulsif itu tidak melihat berapa usia kalian dan dari generasi mana kalian. Pembelanjaan yang impulsif bisa memberikan efek yang cukup buruk untuk kondisi keuangan kalian karena pembelian barang yang sebenarnya tidak menjadi prioritas utama kebutuhan. Jadi sebaiknya, buat daftar barang-barang apa saja yang menjadi prioritas utama untuk dibeli.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian termasuk golongan yang suka belanja secara impulsif atau belanja sesuai dengan kebutuhan?

Modal Usaha Anti Ribet

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut.

1 / 4

Apakah kamu memiliki Jaminan?

2 / 4

Jenis Jaminan:

3 / 4

Plafond yang ingin diajukan:

4 / 4

Kota lokasi jaminan:

This will close in 0 seconds



This will close in 20 seconds