MEMAHAMI ANCAMAN RESESI 2023 MENURUT KETUA OJK MAHENDRA SIREGAR

MEMAHAMI ANCAMAN RESESI 2023 MENURUT KETUA OJK MAHENDRA SIREGAR

Mendengar nama resesi saja sudah membuat takut dunia perekonomian yang diperkirakan akan terjadi tahun depan dan adanya kemungkinan berlanjut hingga 2024. Mahendra Siregar selaku Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan dalam Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin menjelaskan bahwa bayang-bayang resesi global sudah mulai terlihat untuk 2023 dan mungkin bisa berlanjut sampai 2024.
Beliau menuturkan bahwa ada persoalan di dalam perekonomian globa yang tidak terelakkan karena perekonomian global sudah terlalu lama mendapat aliran dana yang sangat besar dan biaya yang sangat murah untuk menghadapi kelesuan ekonomi selama pandemi dan bahkan sebelumnya di negara maju. Dbeliau juga menambahkan bahwa dana besar untuk menstimulus perekonomian ini mendorong terjadinya inflasi. Di waktu yang bersamaan, rantai pasokan bahan baku dan energi terganggu akibat ketegangan geopolitik, seperti Rusia dan Ukraina yang merupakan raksasa sumber bahan baku dunia yang sedang terlibat perang sengit. Konflik geopolitik ekonomi antara China dan Amerika beserta sekutunya juga makin memanas.
AS dan China sendiri sudah memiliki usaha dekapling, mereka memisahkan diri dari rantai pasok yang sama. Hal ini tidak optimal sama sekali di dunia perekonomian, malah menambah beban perekonomian global. Fenomena geopolitik ini bisa memberikan resiko ada kemungkinan tidak akan selesai dalam 10 tahun ke depan.
Terjadinya fenomena uang mudah dan ketegangan politik inilah yang menyebabkan inflasi naik ke level yang tidak diperkirakan sebelumnya. Inflasi pun sudah mulai merambat ke negara-negara maju yang sebelumnya tidak pernah merasakan inflasi. Bahkan di Eropa sendiri inflasi sudah berada di atas 10%. Untuk perbandingan saja, Indonesia pernah mengalami inflasi di atas 10% sekali dan itu terjadi 15 tahun yang lalu. Sedangkan Eropa inflasi tertinggi yang pernah mereka alami terjadi di tahun 1980, dan mereka mengalaminya setelah 45 tahun. Akhirnya bank sentral mulai mengerek bunga yang sangat tinggi. Akibat ditetapkannya bunga yang tinggi, uang jadi sulit baik untuk transaksi maupun untuk berinvestasi.
Kenaikan bunga ini akhirnya langsung berdampak pada bisnis, yang awalnya kelebihan dana dan aktivitas ekonomi bergerak cepat langsung melorot secara drastis. Mahendra menambahkan bahwa kondisi inilah yang akhirnya mendorong Eropa menuju resesi. Jika sudah terperosok semakin dalam, bukan hanya ekonomi yang menjadi sosial politik. Inflasi di Eropa sendiri pun belum turun walaupun bank sentral sudah menerapkan strategi menaikkan bunga.
Walaupun kondisi di AS tidak separah di Eropa, namun AS mencetak rekor inflasi di level 7% dan kondisi ini setara dengan kondisi di 50 tahun lalu.
Tantangan makro ekonomi ada dua macam, yaitu menangani inflasi dengan menaikkan suku bunga sehingga inflasi turun atau menurunkan suku Bungan dan ekonomi bergerak. Artinya, menaikkan suku bunga makin resesi, menurunkan suku bunga inflasi malah naik terus. Hal ini bisa menjadi dilema yang luar biasa jika dilihat dari sisi regulator. Dan tantangan ini pun makin besar untuk bank sentral karena mereka tidak punya kewenangan di dua sisi sekaligus, yaitu menghadapi inflasi atau memberikan stimulus ekonomi. Karena bank sentral sendiri bertugas untuk menghadapi inflasi dan bukan menghadapi kelesuan ekonomi. Mahendra menambahkan bahwa dengan kondisi seperti ini, makan kebijakan stimulus ekonomi harus digerakkan oleh pemerintah. Bank sentral sendiri cukup berkonsentrasi di inflasi.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia juga akan merasakan dampak resesi?
Mahendra menjelaskan saat ekonomi global mulai kesulitan untuk mencegah terjadinya resesi, Indonesia berada di kondisi yang jauh lebih baik. Semua analisis baik dari dalam negeri, internasional, lembaga multilateral memperkirakan bahwa perekonomian di Indonesia tetap berada di jalur positif tahun depan dan tahun depan, juga ada kemungkin mengalami pertumbuhan sebesar 5%
Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, anomali ekonomi Indonesia memiliki pasar yang besar di dalam negeri dan kawasan Asia Tenggara. Potensi ini harus dimaksimalkan baik dari segi konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah. Dalam konteks sektor riil sendiri, sumber pertumbuhan berasal dari pembangunan di Indonesia di daerah selain bonus demografi. Ini bisa menjadi sumber pertumbuhan yang tidak akan bersaing dengan yang lain dan bisa membuat Indonesia memiliki daya tahan diri yang kuat.
Mahendra menutup dengan lahirnya sumber pertumbuhan ekonomi yang baru, ini bisa difungsikan untuk memastikan stabilitas sistem keuangan, mengawasi industry dari kacamata prudential, transparansi, perlindungan konsumen, market conduct, serta mendorong stimulus dan membantu daerah.
Sehingga, bisa disimpulkan bahwa Indonesia masih terindikasi aman dari gelombang resesi global selama Indonesia masih memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang baru. Dengan begitu, Indonesia kemungkinan bisa bertahan dari badai resesi yang diramalkan akan terjadi tahun depan.
Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian yakin bahwa Indonesia bisa aman dari ancama resesi global yang mungkin akan terjadi tahun depan dan di tahun 2024?

Modal Usaha Anti Ribet

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut.

1 / 4

Apakah kamu memiliki Jaminan?

2 / 4

Jenis Jaminan:

3 / 4

Plafond yang ingin diajukan:

4 / 4

Kota lokasi jaminan:

This will close in 0 seconds



This will close in 20 seconds