Jangan Ngutang, Entar Macet Loh! Yakin? Baca Ini Dulu!

Jangan Ngutang, Entar Macet Loh! Yakin? Baca Ini Dulu!

Ketika ada yang mengatakan “Jangan nyetir mobil, entar nabrak loh!” Apakah Anda benar-benar tidak akan menyetir mobil?

Resiko menabrak pastinya memang ada ketika kita sedang menyetir mobil, bahkan pembalap sekelas Hamilton saja bisa mengalami insiden tabrakan dibalapan F1-nya.

Tetapi apakah insiden tersebut menghalanginya untuk terus berkarya di arena balap? Jawabannya tentu TIDAK.

Begitupun dengan kita, ketika kita mengalami kejadian semacam itu, apakah kita akan benar-benar berhenti untuk mengemudikan mobil? Jawabannya sama, tentu saja TIDAK.

Kenapa?

Sebab resiko yang didapat lebih kecil bila dibandingkan dengan manfaat yang akan didapatkan.

Dengan mengendarai mobil, kita bisa lebih mudah untuk sampai ke tempat tujuan.

Dengan mengendarai mobil, jarak yang jauh tentu saja bisa kita tempuh dengan waktu yang jauh lebih singkat bila dibandingkan dengan berjalan kaki.

Dengan mengendarai mobil, kita bisa terhindar dari polusi udara, terkena hujan dan cuaca panas.

Analogi diatas bisa dikaitkan dengan komentar orang-orang dalam postingan Saya.

Selalu ada saja orang yang ngotot berargumen “Jangan utang, entar macet”.

Segala perbuatan memiliki resiko bahkan ketika Anda tidak melakukan perbuatan apa-apa.

Kemungkinan hutang macet memang ada, tetapi lebih besar mana antara manfaat dan resiko yang akan didapatkan? Coba pikirkan kembali.

Apabila Anda memberikan jawaban bahwa resiko yang didapatkan lebih besar, maka mungkin Anda memang tidak memiliki kemampuan dalam mengelola hutang. Jika seperti itu kondisnya, Saya pun akan setuju dengan statment yang Anda berikan.

Sama seperti halnya dengan analogi yang tadi Saya sampaikan, dalam mengemudikan mobil lebih besar mana resiko kecelakaan dengan manfaat  yang bisa Anda dapatkan?

Jika Anda menjawab lebih besar resikonya, mungkin karena Anda memang tidak bisa mengemudikan mobil.

Yang menjadi masalah saat ini adalah banyak orang beranggapan bahwa semua orang memiliki kemampuan yang sama rata.

Tetapi benarkan semua orang memiliki Kemampuan yang sama?

Tentu tidak, setiap orang pasti memiliki kemampuan yang berbeda-beda sesuai bakatnya masing-masing.

Lalu bagaimana dengan adanya resiko?

Resiko pasti ada, tetapi tinggal bagaimana kita mulai berpikir untuk menurunkan tingkat resiko yang akan terjadi. Misalnya berlatih untuk meningkatkan kemampuan.

Dalam konteks mengemudi, setiap orang tentu tidak bisa secara tiba-tiba mahir mengemudikan mobil. Tentu harus banyak berlatih bukan? Apabila dirasa perlu, berlatihlah dengan Michael Schumacher.

Apabila Anda sudah bisa mengemudikan mobil, jangan lalu sok-sok an dalam berkemudi. Pemeran Fast And Furious pun bisa mengalami kecelakaan bila tidak waspada.

Hal ini akan sama bila dikaitkan dengan urusan hutang, belajarlah dari orang-orang terbaik, terus berlatih dan asah kemampuan.

Kalaupun sudah pintar dalam mengelola hutang jangan lalu kemaruk. Tetaplah waspada untuk mengurangi tingkat resiko yang nantinya bisa Anda peroleh dalam bisnis.

Jalan kaki pun belum tentu 100 % aman, memang tidak menabrak tapi bisa jadi malah kena tabrak.

Kalau kata orang Jogja “Ojo Dumeh”.

Semoga dapat membantu Anda dalam berpikir.

Semoga Bermanfaat

Share if you like this

Apply Kartu Kredit sebagai Pengusaha atau Karyawan? Baca Dulu Penjelasannya!

Apply Kartu Kredit sebagai Pengusaha atau Karyawan? Baca Dulu Penjelasannya!

Banyak sekali orang bertanya kepada Saya, “Pak, mending Saya maju apply kartu kredit sebagai seorang pengusaha atau karyawan?”.

Sebenarnya pertanyaan semacam ini tidak perlu dijawab.

Sekarang Anda berstatus sebagai seorang pengusaha atau karyawan? Itu yang terpenting.

Namun yang jadi dilema adalah ketika Anda apply kartu kredit melalui marketing.

Mereka akan lebih condong mengarahkan Anda untuk maju sebagai seorang karyawan karena dinilai mempermudah proses approval.

Akhirnya yang memang seorang pengusaha akan diakali sebagai karyawan. Apakah hal ini menguntungkan?

Disini Saya akan memberikan sedikit penjelasan kepada Anda.

Ketika Anda menemui marketing-marketing yang ada di pusat-pusat keramaian seperti airport ataupun mall, merketing tersebut selalu menganjurkan Anda untuk maju sebagai seorang karyawan.

Kenapa?

Kembali lagi pada alasan pertama, karena ini adalah cara paling mudah.

Sebab jika maju sebagai karyawan, Anda hanya membutuhkan slip gaji.

Disini yang harus Anda pahami adalah kenapa marketing menyarankan Anda untuk maju sebagai karyawan, hal ini bukan kepada kepentingan di diri Anda, tetapi dia lebih condong melihat ke kepentingan dirinya sendiri.

Kenapa?

Karena sekali lagi, apply kartu sebagai karyawan syaratnya lebih mudah jika dibandingkan dengan apply kartu kredit sebagai pengusaha.

Hal ini menjadi kepentingan marketing sendiri untuk mencari komisi, artinya setiap Anda mendapatkan approval di kartu kredit, marketing akan mendapatkan komisi.

Perlu Anda pahami, bahwa perhitungan poin marketing bukan berdasarkan ia mencairkan kartu kredit dengan jumlah limit besar ataupun kecil.

Jadi marketing approve satu kartu limit 5 juta dengan approve satu kartu limit 50 juta, maka poin yang didapatkan akan sama di mata perbankan.

Jadi sebenarnya marketing tidak peduli Anda mendapatkan limit besar atau kecil, karena yang terpenting adalah mendapat approval dari perbankan.

Masalahnya hal ini akan merugikan bagi kita, kenapa?

Karena sekali Anda mendapatkan limit yang kecil (3 -5 juta) itu ibarat kata Anda sudah mendapat cap sebagai “orang miskin” dan jika sudah seperti itu, Anda akan membutuhkan waktu yang lama untuk naik limit.

Inilah yang membuat kartu-kartu yang berikutnya mendapat limit kecil karena history Anda sudah rusak secara perbankan.

Poin pertama marketing adalah berhasil mendapatkan approve dari perbankan.

Jadi target marketing 1 bulan harus mengeluarkan 100 kartu, maka tidak peduli berapa limit yang didapatkan pengguna, tetap poin yang didapatkan tentu berdasarkan banyak kartu yang di approve.

Jadi jika dianalisa, daripada memberi limit 50 juta kepada 1 orang, mending diberikan kepada 10 orang dengan limit masing-masing 5 juta, maka poin yang didapatkan lebih bagus.

Inilah perbedaan cara pandang antara target marketing dengan target kita.

Berbeda ketika Saya mengajarkan ilmu di Credit Card Revolution, kita berbicara dari cara pandang Anda, sebab jika Saya melihat Anda mendapatkan limit kecil maka hal pertama yang Saya rasakan sebagai pengajar adalah rasa malu. “Belajar dengan Roy Shakti kok dapetnya limit kecil, harga diri Saya juga ikut dipertaruhkan disini”.

Kedua, jika Anda mendapatkan limit kecil maka efeknya akan menular.

Contoh, banyak kasus ketika Anda maju apply dengan referensi kartu kredit limit 50 juta atau lebih, tetapi tiba-tiba limit berikutnya Anda hanya mendapat limit 10 – 20 juta saja.

Kenapa?

Masalahnya hanya satu, ada limit-limit kecil yang Anda pelihara.

Karena analis perbankan akan mengecek di Informasi Debitur (iDeb) dan mereka akan tahu Anda mempunyai kartu kredit dengan limit berapa saja.

Mereka bisa melihat limit terbesar hingga terkecil Anda, misalnya limit terbesar Anda 100 juta dan limit terkecil Anda hanya 3 juta, mereka pun akan berpikir jika Anda diberi limit 10 juta mungkin tidak akan masalah, karena limit 3 juta saja masih dipelihara.

Kembali ke pertanyaan awal, “Maju sebagai karyawan atau pengusaha?”

Jika Anda maju sebagai karyawan, keunggulannya adalah untuk apply karyawan lebih mudah dan simpel, marketing sendiripun maunya yang simpel, namun kelemahannya adalah limit yang diberikan tidak besar kecuali Anda karyawan dengan jabatan tinggi.

Jika Anda maju sebagai pengusaha, kelemahannya adalah syarat yang dibutuhkan akan jauh lebih kompleks karena Anda harus menyertakan SIUP, TDP, bahkan ada yang meminta rekening hingga laporan pajak.

Tetapi keunggulannya jelas Anda akan mendapatkan limit yang jauh lebih besar daripada maju sebagai seorang karyawan.

Jadi kembali lagi kepada Anda, Anda mau mencari yang mudah terlebih dahulu atau Anda mau mencari yang besar.

Kalau mudah tidak besar, kalau besar tidaklah mudah. Pilihan ada ditangan Anda.

Lalu bagaimana caranya supaya bisa besar dan mudah?

Silahkan ikut kelas Saya di Credit Card Revolution.

Banyak orang bertanya kepada Saya tentang bagaimana cara mendapat limit besar.

Disini kita tidak bisa menjawab dengan satu kalimat, karena kita sendiri harus mengatur dari A sampai Z.

Terus terang saja, jika ada yang tanya di inbox atau komentar cara mendapatkan limit besar, jawabannya Saya selalu simpel, ikut aja workshop Saya.

Kenapa?

Karena untuk bisa mendapatkan limit besar Saya harus menjelaskan materi kurang lebih selama 4 jam.

Jika seperti itu, bagaimana Saya bisa menjelaskan kepada Anda hanya dengan satu kalimat?

Maka saran Saya jika Anda ingin belajar lebih jauh lagi, lebih baik Anda meluangkan waktu untuk belajar.

Apply kartu kredit dengan limit kecil? Kerugian pertama adalah Anda hanya akan membuang-buang waktu dan peluang.

Kedua, Saya seorang pebisnis, otomatis Saya akan menghitung dengan perhitungan bisnis, jadi Anda jangan asal mengatakan bahwa kelas Saya murah ataupun mahal.

Anda masuk seminar bisnis, bukan seminar lainnya.

Jadi tentu saja perhitungannya ada di bisnis, Anda join kelas Saya investasi sekitar 5 juta, kemudian Anda belajar di kelas Saya.

Simpel saja, jika Saya mengajarkan ilmu kepada Anda kemudian Anda berhasil mendapatkan limit 50 juta, artinya investasi Anda sudah naik sebesar 10x lipat dari modal 5 juta tadi.

Itu belum fasilitas diluar kelas CCR, Anda akan mendapatkan fasilitas konsultasi pribadi beserta konsultasi via grub bersama para alumni.

Alumni Saya rata-rata selama 3 – 5 tahun pun masih bisa terus mendapatkan fasilitasnya.

Jadi jika Anda bergabung dengan Saya, selalu lihat perhitungannya secara bisnis dan bukan yang lainnya.

Kecuali jika Anda belajar dengan Saya kemudian tidak mendapatkan apa-apa, hanya mendapatkan motivasi, semangat dan hanya mengandalkan doa maka seminar ini hanya akan membuang-buang waktu Anda.

Sekali lagi hitung dengan perhitungan bisnis, karena secara bisnis ini sangat worth it.

Belajarlah, jika Anda tidak belajar dan hanya tahu setengah-setengah justru malah lebih berbahaya.

Mending Anda tidak tahu dan tidak praktek sama sekali daripada hanya tahu setengah-setengah.

Kenapa?

Sebab aturan bank atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berubah setiap 3 bulan.

Bahkan ilmu yang Saya share tahun 2013 mungkin sudah berbeda dari yang sekarang, karena ilmu ini sangatlah dinamis.

Jadi kita harus menjalankan sesuai aturan yang telah diterapkan pada saat itu.

Saran Saya satu, jangan apply kartu kredit secara berlebihan sebelum ikut kelas CCR.

Bukan masalah Saya menjual kelas Saya, jika Anda sudah mendapatkan limit yang kecil, akibatnya bank akan melihat hal ini sebagai history yang kurang bagus.

Sekali lagi ini bukan masalah Saya, ini adalah masalah Anda.

Kenapa?

Karena akan sangat disayangkan.

Jika Anda bisa mendapatkan limit ratusan juta kenapa harus mendapatkan limit kecil?

Ini Yang Harus Dilakukan Jika Bisnis Bangkrut

Ini Yang Harus Dilakukan Jika Bisnis Bangkrut

Seorang alumni Credit Card Revolution curhat kepada Saya,

“Saat ini kondisi Saya sedang bangkrut, apa yang harus Saya lakukan pak? Apakah Saya harus berhutang lagi?”

Kira-kira jawaban apa yang terlintas dipikiran Anda?

Kali ini Saya akan memberikan sebuah jawaban yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Anda, masalah nantinya akan diterapkan atau tidak itu urusan Anda.

Ketika Saya jatuh, apa yang pertama kali harus Saya lakukan?

Saat kita sedang berada pada puncak kesuksesan, kemudian secara tiba-tiba bisnis kita mengalami kebangkrutan, tidak sedikit orang memilih untuk kembali berutang.

Namun berbeda dengan Saya, sebab Saya tidak akan melakukan hal tersebut.

Lalu apa yang pak Roy lakukan?

Start awal yang akan dan seharusnya dilakukan adalah mulailah menjual kembali barang-barang Anda terlebih dahulu, sebab ujung tombak yang sebenarnya adalah ketika kita jatuh artinya kita sudah melakukan sebuah kesalahan, dan disini kata kuncinya adalah bagaimana caranya agar bisnis Anda tetap berjalan tanpa menambah utang.

 

Sebab sekali lagi Saya katakan bahwa banyak orang salah dalam mengambil tindakan, begitu jatuh justru menambah utang, hal inilah yang membuat bisnis Anda semakin kacau.

Mulailah merangkak kembali dari bawah, jika tidak memiliki barang yang dijual, maka jual barang menggunakan sistem dropship, reseller atau “nyales”.

Pengalaman bisnis pertama Saya adalah sebagai seorang sales, membuka bisnis pertama kali dengan modal Rp 1.600.000,- dengan berkeliling pasar burung menawarkan makanan burung kepada para penjual.

Intinya Berapapun Modal yang Masih Anda Miliki, Putarlah!

Jika sudah bagus dan stabil, mulailah mempromosikannya kembali, setelah semuanya lancar barulah mencari pinjaman untuk memperbesar bisnis Anda.

Perbaiki bisnis Anda, jika Anda memilih untuk memulai project atau bisnis baru dengan kondisi penuh dengan utang, bisnis Anda tidak akan lama alias cepat mati.

 

 

“Modal itu kambing hitam yang paling empuk”

Jika Anda mulai berhalusinasi bahwa “Saya punya modal, maka Saya bisa memulainya dengan bagus” itu BOHONG, tidak ada yang sesederhana itu.

Intinya yang terpenting mulailah berjualan terlebih dahulu, apakah Anda bisa menjual produk Anda sendiri atau tidak? Jika laku, maka dengan modal Anda bisa memulai bisnis Anda dengan potensi keberhasilan lebih tinggi.

Tetapi jika Anda tidak memiliki skill dalam menjual dan tidak mempunyai skill bisnis, maka dengan utang Anda hanya akan memperbesar peluang kegagalan Anda.

Utang hanyalah amplifying (Memperbesar)

Tinggal Anda yang menentukan apakah utang mampu memperbesar kesuksesan Anda atau utang hanya akan memperbesar resiko kegagalan Anda?

Maka dari itu Anda harus benar-benar matang jika berurusan dengan utang.

Sukses atau Gagal? Pilihan ada ditangan Anda.

Semoga Bermanfaat

Share if you like this

Bisnis Apa yang Cocok untuk Saya ?

Bisnis Apa yang Cocok untuk Saya ?

Bisnis apa yang cocok untuk Saya ?

Banyak sekali pertanyaan seperti ini yang ditanyakan ke Saya.

Jika Anda sendiri tidak tahu bisnis apa yang cocok untuk Anda, apalagi Saya yang notabene-nya belum mengenal Anda.

Jadi sebelum melemparkan pertanyaan seperti itu, alangkah lebih baiknya Anda terlebih dahulu melihat kemampuan diri Anda sendiri.

 

 

Anda Menginginkan Bisnis yang Seperti Apa ?

Hal inilah yang perlu Anda clear-kan terlebih dulu.

Jika Anda sendiri tidak tahu arah bisnisnya kemana, maka Anda tidak akan bisa membangun bisnis yang Anda inginkan

Lalu bagaimana cara untuk mencari tahu ?

Anda bisa mengikuti banyak seminar, workshop, membaca banyak buku atau sering berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah paham dan mempunyai pengalaman di dunia bisnis.

Kata lainnya Anda tidak bisa tiba-tiba bertanya kepada Saya bisnis apa yang cocok untuk Anda.

Kenapa ?

Karena ketika Saya memberikan beberapa alternative bisnis, seringkali yang ada justru dibantah, artinya belum melakukan sudah merasa kesulitan atau bisnis tersebut tidak bisa ia lakukan.

 

 

Disini Saya akan sedikit memberikan tips cara memilih bisnis, simak ya!

Cari Bisnis yang Menghasilkan

Bisnis itu harus menghasilkan, jangan hanya mencari bisnis yang Anda sukai tetapi tidak menghasilkan.

Tujuan bisnis Anda apa ?

Bagaimana melihat bisnis yang menghasilkan ?

Hal paling mudah yang bisa Anda lakukan adalah lihatlah bisnis yang ada disekitar Anda.

Misalkan cita-cita Anda membuka bisnis kuliner, lihat disekeliling Anda apakah bisnis tersebut menghasilkan ?

Nyatanya bisnis kuliner masih jadi primadona dalam dunia bisnis, maka bisa dikatakan bisnis kuliner layak untuk diperjuangkan.

“ Bagaimana dengan bisnis forex pak ? ”

Saya katakan bahwa bisnis forex masih ok, dengan catatan Anda benar-benar paham dan mempelajari ilmunya, jika Anda tidak paham apapun mengenai bisnis forex maka sama saja bunuh diri. 

 

Mulai Kumpulkan Ide Bisnis

Tips dalam memilih bisnis yang kedua Anda bisa mengumpulkan minimal 10 jenis bisnis yang potensi menghasilkannya besar.

Dari 10 bisnis tersebut kemudian saring kembali menjadi bisnis yang paling Anda suka.

Setelah mendapatkan 3 bisnis yang paling Anda suka, tugas Anda selanjutnya adalah memilih bisnis yang menurut Anda paling mudah untuk di eksekusi.

Setelah itu barulah Anda bisa menemukan bisnis yang cocok untuk Anda atau minimal bisnis inilah yang cocok dan sesuai dengan kondisi Anda.

 

 

Jadi sekali lagi Saya katakan bahwa bagus versi Anda belum tentu bagus versi Saya.

Sebaliknya bagus menurut Saya belum tentu bagus menurut Anda.

Jika seperti ini siapa yang akan Anda ikuti ?

Jawabannya jelas yang punya badan, otak dan modal yaitu Anda sendiri

Dan ketika Anda sudah paham tentang alur dan konsep bisnis Anda, baru Anda bisa tanyakan kepada Saya di kelas Credit Card Revolution [LIHAT JADWAL DISINI] untuk pengembangannya.

Kenapa?

Karena jika Anda hanya bertanya melalui sosial media maka sehari tidak akan cukup untuk menjelaskannya, karena ilmu seperti ini harus mendapatkan pendampingan sampai bisnis Anda berjalan.

Semoga Bermanfaat

Share if you like this

Modal Usaha Anti Ribet

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut.

1 / 4

Apakah kamu memiliki Jaminan?

2 / 4

Jenis Jaminan:

3 / 4

Plafond yang ingin diajukan:

4 / 4

Kota lokasi jaminan:

This will close in 0 seconds



This will close in 20 seconds